Pusaran Narkoba di Butur, IRT dan Desakan Ekonomi

738
Bacakan

Darso (Jurnalis yang sehari-hari bertugas di Butur)

-Advertisements-

Membaca berita seorang ibu rumah tangga (IRT) berinisial SH (42), sungguh membuat terkejut. Dia ditangkap di kediamannya di Kelurahan Lipu Kecamatan Kulisusu Kabupaten Buton Utara (Butur) beberapa hari lalu. Lantaran diduga mengedarkan narkoba jenis Sabu.

Meskipun itu bukan hal baru di dunia kriminal peredaran Narkoba secara nasional maupun global. Namun, jika ditelik secara khusus kasus tersebut baru terjadi di daerah yang dikenal dengan slogan Lipu Tinadeakono Sara itu.

Dikatakan demikian,  selama ini tak menampikkan adanya kegiatan transaksi barang haram itu di daerah tersebut. Akan tetapi, kebanyakan yang ditangkap sebagai pengedar ialah kaum Adam, dan sudah berada di balik jeruji besi.

Dengan ditangkapnya ibu rumah tangga ini, bisa dikatakan begitu dahsyatnya pengaruh narkoba sehingga tak mengenal umur, jenis kelamin, dan profesi.

Diketahui belakangan ini bahwa pelaku kejahatan narkoba tidak hanya kaum laki-laki tapi juga wanita dan juga ada yang berstatus IRT itu. Bahkan, tak jarang anak-anak juga dilibatkan pada transaksi
narkoba.

Di Indonesia, saat ini sudah masuk kategori darurat Narkoba. Dikarenakan angka prevalensi penyalahgunaan narkotika di Indonesia pada survei tahun lalu mencapai 2,20 persen atau lebih dari 4 juta orang yang terdiri dari penyalahgunaan coba pakai, teratur pakai, dan pecandu.

Indonesia menjadi salah satu dari sedikit negara yang menerapkan sanksi hukuman mati bagi pelaku narkoba. Anehnya ternyata hal ini tidak menjadikan korban narkoba surut bahkan menurut data terjadi kenaikan 13% setiap tahunnya.

Data tahun 2015, setidaknya ada 50.178 tersangka yang berhasil ditangkap dengan jumlah kasus sebanyak 40.253. Ini baru data dari 2 tahun lalu, kita tidak bisa bayangkan dengan tahun 2016, 2017 yang katanya terus meningkat.

Bagaimana dengan Butur ?. Berdasarkan pengamatan kepolisian dan juga Granat, Butur masuk dalam daerah darurat Narkoba.

Itu tak terbantahkan, sebab kata wakil sekretaris Granat Butur La Ode Junaiddin Samara, sudah banyak pelaku pengedar Narkoba yang beraksi di Butur ditangkap aparat kepolisian. Para pelaku itu, berasal dari berbagai profesi. Parahnya lagi, barang haram itu sudah masuk dalam pusaran Birokrasi.

Bahkan, Butur dijadikan jalur utama peredaran Narkoba. Itu tidak lain, karena Butur dilewati oleh beberapa kabupaten.

Kembali ke kasus IRT sebagai pengedar. Ada beberapa faktor yang bisa menjadikan seorang IRT nekat terlibat dalam pasar Narkoba. Misalnya saja, adanya perubahan kondisi rumah tangga dikarenakan kematian, perceraian membuat seorang ibu dalam rumah tangga harus bekerja ekstra.

Setelah ditinggal oleh kepala rumah tangga, berarti akan menyebabkan sumber penghasilannya untuk membiayai kelangsungan hidupnya sendiri beserta anak-anaknya. Akan menimbulkan penderitaan dalam tekanan ekonomi yang lama-kelamaan mendorongnya untuk berbuat kejahatan.

Demikian pula dengan SH. Pelaku ternyata sudah menjadi target penangkapan sejak 4 tahun lalu. Bisnis yang dijalankan pelaku ini melanjutkan bisnis suaminya yang saat ini tengah menjalani hukuman karena kasus narkoba.

Dari temuan fakta itu, secara umum bersumber pada soal kemiskinan atau faktor desakan ekonomi sehingga, SH berani terjun ke bisnis narkoba.

Dalam kaitannya dengan keterlibatan IRT dalam peredaran narkotika ialah total menjadi kegiatan pengedaran tersebut sebagai suatu mata pencaharian dalam pemenuhan ekonominya. Selain difungsikan untuk pemenuhan ekonomi bisa jadi bahwa si IRT tersebut adalah juga sebagai pemakai juga. Dalam melakoni kegiatannya sebagai pemakai ia juga melakukan kegiatan pengedaran narkotika itu sendiri.

Kemudian, faktor lainnya, mengapa para perempuan ini mau dijadikan kurir oleh kebanyakan sindikat narkoba. Salah satunya adalah penawaran upah yang cukup menggiurkan.

Atas dasar hal tersebut, bisnis narkoba makin tak terkendali karena bandar besar memanfaatkan anak-anak dan perempuan sebagai kurir. Terlebih jika seorang perempuan memiliki ketergantungan finansial. Sehingga mereka tidak sadar bahwa telah dimanfaatkan dan dieksploitasi untuk aktivitas kriminal.

Oleh karena itu, agar peredaran narkoba tak makin liar dan menjerat anak-anak maupun kaum hawa yang ada di Butur, sangat diperlukan peran aparat penegak hukum, tokoh masyarakat dan tentunya pemerintah daerah setempat, agar lebih memaksimalkan fungsi masyarakat yang tanggap. Dengan mengambil tindakan dan melaporkan kepada pihak yang
berwajib serta diperlukan professionalisme dalam menangani tindak pidana narkotika yang terjadi ditengah masyarakat.

Kemudian, harus terus menerus dilakukan upaya untuk menumbuhkan kesadaran hukum positif dalam masyarakat dengan cara melakukan penyuluhan hukum yang diselenggarakan pemerintah setempat mulai dari tingkat RT, desa kelurahan, kecamatan se Butur.

Dan yang paling penting, pemerintah daerah harus memberikan penyertaan modal usaha untuk industri kecil rumah tangga, pendidikan tambahan dengan program keterampilan atau pun pembukaan lapangan kerja. Sehingga faktor kemiskinan tadi tak lagi jadi alasan untuk menjadikan sebagai pengedar.

Selain upaya represif, aparat kepolisian juga dibantu dengan pemerintah daerah harus lebih
mengintensifkan upaya tindakan preventif agar dapat menekan jumlah kejahatan khususnya kejahatan narkotika di Butur. Dengan, memutus rantai jalur masuknya Narkoba di Butur yang diketahui bersama melalui jalur laut dari pelabuhan Kendari-Pelabuhan Wa Ode Buri. Maupun jalur darat dari Kendari-Ereke lewat penyebrangan Amolengo-Labuan.

“Mari komitmen bersama, katakan tidak pada Narkoba. Hentikan peredaran Narkoba di Lipu Tinadeakono Sara”. (***)

Facebook Comments
Like
Like Love Haha Wow Sad Angry
-Advertisements-
loading...