
Puluhan profesor menggelar demonstrasi di gedung Rektorat Universitas Halu Oleo (UHO) Kendari, Senin, 10 Juli 2017.
Kendari, Inilahsultra.com- Demonstrasi yang digelar oleh puluhan profesor dan doktor Universitas Halu Oleo (UHO) beberapa waktu lalu dinilai tidak etis oleh beberapa kalangan.
Mantan Ketua BEM FISIP Ali Rahman Wahid menilai, gerakan demonstrasi yang dilakukan para intelektual tidak etis dan tidak patut diapresiasi. Sebab, kesannya bukan soal kepentingan masyarakat luas, melainkan akibat dari kontestasi Pemilihan Rektor yang kesannya masih menyimpan bara dendam.
“Kami sangat kecewa dengan langkah yang diambil para guru besar kita. Tidak seharusnya demo menjadi solusinya,” ungkap Ali Rahman Wahid, Selasa 11 Juli 2017.
Sebagai alumni UHO, lanjut Ali Rahman, sangat prihatin. Sebab, berkaca dari sejarah bangsa, para guru besar turun di jalan ketika ada permasalahan bangsa yang begitu krusial atau tidak bisa diselesaikan oleh elemen lainnya.
“Era orde baru ketika para profesor berani meninggalkan kampus berarti ada persoalan negara yang dalam kondisi darurat,” ungkapnya.
Harusnya, sebelum turun di jalan, para profesor sudah memiliki data valid tentang suatu pelanggaran. Minimal, ada kajian hukum dari lembaga yang berkompeten.
Dia menyebut, kasus dugaan plagiat yang dilakukan oleh salah satu calon rektor, itu masih praduga dari para demonstran yang dikomandoi mahasiswa sebelumnya.
Harusnya, kata Ali Rahman, profesor dan doktor tak boleh bertindak gegabah dengan menjadikan hasil kajian mahasiswa untuk disuarakan di jalanan.
“Jika menganggap itu adalah plagiat, profesor tidak mesti turun di jalan untuk demo. Sampaikan lah masalah dengan akademis dengan menjunjung praduga tak bersalah. Laporkan dugaan itu ke mentri agar mereka yang menyimpulkan plagiat atau tidak karya dimaksud,” katanya.
Ali menegaskan, tidak dalam posisi mendukung siapa dalam persoalan ini. Namun, dia merasa terpanggil untuk memberikan pandangan bahwa gerakan yang dibangun para insan akademis kemarin offside.
“Bagaimana tidak offside, harusnya cukup mahasiswa saja yang demo. Tidak perlu lah profesor yang turun demo apalagi berteriak di depan Rektorat. Siapa lagi yang perlu dicontoh kalau bukan para profesor dan doktor. Tapi isu yang dibangun, masalah yang masih dugaan dikesankan sudah menjadi benar. Demo kemarin kesannya menghakimi seseorang tanpa melalui penilaian dari lembaga kompeten,” jelasnya.
Dia berharap, dinamika kampus yang terjadi tidak menghilangkan akal sehat akademis. Sebagai alumni, Ali juga menentang keras adanya plagiarisme.
“Tapi, kita tidak berhak untuk menyimpulkan salah atau benar. Yang bisa menyimpulkan adalah kementerian yang menerbitkan jurnal internasional,” tuturnya.
Reporter : La Ode Pandi Sartiman
Editor : Rido




