Pilgub Sultra, Ajang Pertarungan Para Mantan

2295

Bakal calon di Pilgub Sultra 2018 yang terwacana di publik.

Kendari, Inilahsultra.com – Meski belum ada kepastian siapa yang akan bertarung di Pemilihan Gubernur Sultra 2018 mendatang, namun beberapa nama sudah muncul di permukaan dengan embel-embel basis kekuatan masing-masing.

Setidaknya, ada empat bakal calon yang sementara menguat di permukaan dengan tiga pasangan berasal dari partai politik dan satu dari pasangan perseorangan.

Mereka adalah Ali Mazi-Lukman Abunawas, Asrun-Hugua, Rusda Mahmud-LM Sjafei Kahar dan terakhir pasangan calon perseorangan Wa Ode Nurhayati-Andre Darmawan.

Keempat pasangan ini tergolong sebagai mantan. Tiga pasangan mantan kepala daerah dan pasangan perseorangan Wa Ode Nurhayati adalah mantan anggota DPR RI.

Ali Mazi-Lukman Abunawas

Ali Mazi adalah mantan Gubernur Sultra periode 2003-2008. Kini dia kembali untuk bertarung di kontestasi pilkada 2018. Dia menggaet Lukman Abunawas sebagai wakilnya dengan akronim AMAN.

Sebelumnya, Ali Mazi sempat kembali maju di Pilgub Sultra 2008. Hanya saja, dia kalah bertarung melawan pasangan Nur Alam-Saleh Lasata.

Pada 2013, Ali Mazi kembali maju bertarung. Namun, dia tetap saja tidak lolos di KPU. Karena, tidak mencukupi partai pengusung.

Namun demikian, tidak lolosnya Ali Mazi ini masih mengundang polemik. Karena terakhir, Ali Mazi mengajukan gugatan ke PTUN dan dinyatakan menang. Tapi, kemenangan Ali Mazi di PTUN tidak bisa mengubah hasil pemilihan yang dimenangkan oleh Nur Alam-HM Saleh Lasata di periode pertama mereka.

Sedangkan Lukman Abunawas yang juga bakal calon wakil Ali Mazi adalah mantan Bupati Konawe dua periode.

Lukman pertama kali memimpin Kabupaten Kendari (sekarang Konawe) pada 1 April 2003. Lalu, dia terpilih kembali sebagai Bupati Konawe pada periode 2008-2013.

Saat menjadi Bupati Konawe, Lukman turut menjabat sebagai Ketua DPD Golkar Konawe. Namun, setelah lepas jabatannya sebagai bupati, dia kembali ditarik sebagai pegawai di tingkat provinsi sebagai Kepala Balai Pendidikan dan Pelatihan Provinsi Sultra lalu diangkat menjadi Sekda Provinsi Sultra di era Gubernur Nur Alam hingga saat ini.

Asrun-Hugua

Asrun dan Hugua adalah sama-sama mantan kepala daerah selama dua periode.

Asrun di Kota Kendari, sedangkan Hugua di Wakatobi.

Asrun pertama kali menjabat sebagai Wali Kota Kendari pada 2007 silam menggantikan Masyhur Masie Abunawas. Setelah itu, dia kembali terpilih periode keduanya pada 2012 lalu. Baik periode pertama maupun kedua, Asrjn tetap menggandeng Musadar Mappasomba.

Baca Juga :  Teknologi Penginderaan Jauh untuk Mitigasi Bencana Banjir dan Longsor di Sulawesi Tenggara

Sedangkan Hugua, adalah mantan Bupati Wakatobi dua periode. Pertama kali menjabat Bupati pada 28 Juni 2006 hingga 28 Juni 2011. Lalu, dia terpilih kembali sebagai Bupati Wakatobi periode 2011-2016.

Pada periode pertama Hugua berpasangan dengan Ediarto Rusmin dan pada periode kedua baru berpasangan dengan Arhawi.

Hugua merupakan salah satu kepala daerah di Sultra yang sukses mempromosikan daerahnya hingga ke mancanegara.

Nama Wakatobi yang kemudian masuk 10 top destinasi wisata nasional menjadi buah tangan pemerintahan Hugua.

Rusda Mahmud-Sjafei Kahar

Rusda Mahmud dan Sjafei Kahar adalah sama-sama mantan kepala daerah dua periode.

Rusda di Kolaka Utara dan Sjafei di Kabupaten Buton.

Rusda belum lama melepas jabatannya sebagai Bupati Kolaka Utara. Politikus Partai Demokrat ini terpilih periode pertama sebagai Bupati pada 2007 hingga 2012. Lalu dia terpilih lagi pada 2012 hingga 2017.

Sedangkan paket Rusda, LM Sjafei Kahar adalah mantan Bupati Buton dua periode. Terhitung sejak hari ini, Sjafei sudah lama “menganggur” sebagai kepala daerah atau sekitar lima tahun silam.

Dia menjabat sebagai kepala daerah sejak 2002 hingga 2007 untuk periode pertamanya. Lalu, dia terpilih kembali pada 2007 hingga 2012.

Wa Ode Nurhayati-Andre Darmawan

Perempuan yang akrab disapa WON inj adalah mantan anggota DPR RI dari Fraksi Partai Amanat Nasional (PAN). Dia terpilih melalui Pemilihan Legislatif pada 2009 silam.

Namun, karena kasus hukum yang menimpanya, dia harus berhenti dari kursi legislator.

Selama kurang lebih lima tahun, WON menghabiskan waktunya di rumah tahanan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

Sedangkan wakilnya, Andre Darmawan adalah seorang pengacara muda yang energik. Dia merupakan Ketua Himpunan Advokat Muda Indonesia (HAMI) Sultra.

Keduanya, maju di Pilgub Sultra 2018 dengan memilih jalur perseorangan. Mereka diwajibkan mengumpulkan kartu tanda penduduk (KTP) kurang lebih 170 ribu sebagai syarat minimal untuk lolos.

Penulis : La Ode Pandi Sartiman
Editor : Din

Silahkan berikan komentar

KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here