Sekolah Tertimbun Lumpur, Ratusan Siswa SD di Morosi Kini Tak Bisa Belajar

2643
 

Kendari, Inilahsultra.com – Ratusan siswa SD Besu Kecamatan Morosi kini tak bisa melakukan aktifitas belajar mengajar. Ini lantaran gedung sekolah mereka menjadi korban longsor dadakan.

Sejak Senin lalu, material lumpur merangsek masuk ke dalam ruang belajar. Ketinggian material lumpur menimbun sekolah kini sudah mencapai 1,5 meter.

- Advertisement -

Akibatnya, kepala sekolah setempat terpaksa meliburkan siswa siswinya sejak Senin 19 November lalu.

“Waktu kita datang tidak ada siswa. Memang diliburkan dari Senin lalu karena gedungnya sama sekali tidak bisa dipakai. Ditimbun lumpur,” urai Anggota Komisi III DPRD Konawe, Ngadiman saat turun meninjau SD tersebut.

Gedung sekolah itu tertimbun lumpur setelah hujan terus mengguyur Kabupaten Konawe selama hampir sepekan. Material lumpur berasal dari aktifitas proyek jalan yang dikerja serampangan.

“Harusnya drainasenya kan lebih dulu dikerja. SD itu memang di kerendahan jadi semua lumpur lari ke gedung sekolah. Kalau drainase lebih dulu cepat dikerja pasti tidak parah begini,” cetus Ngadiman.

Tampak ruang kegiatan belajar tertimbun lumpur

Saat meninjau sekolah itu, Rabu 22 November 2017, politisi PKS itu mengatakan hanya ada kepala sekolah dan guru yang berjaga. Beberapa diantaranya bekerja membersihkan material lumpur.

Kepala Sekolah setempat mengakui terpaksa meliburkan siswa siswinya lantaran ruang belajar sama sekali tak bisa difungsikan. Tiga dari empat ruangan bahkan nyaris terkubur lumpur.

Ia belum bisa memastikan kapan aktifitas belajar mengajar bisa kembali berjalan. Apalagi, hujan diprediksi masih terus mengguyur Kabupaten Konawe. Kondisi ini praktis memperparah timbunan lumpur di sekolah tersebut.

Jauh sebelum tertimpa musibah lumpur, kata Ngadiman kondisi sekolah itu memang  sudah memprihatinkan. Dari tujuh ruang kelas dimiliki, hanya ada 4 ruangnya yang bisa terpakai.

“Ada satu lokal itu memang sudah tidak layak. Sudah rusak. Yang dipakai cuma satu lokal (4 RKB),” tambah Ngadiman.

Sudah beberapa kali, pihak sekolah mengajukan program rehab namun tak kunjung mendapat respon dari pemerintah. Kepsek setempat terpaksa  menyiasati kondisi ini membagi jam belajar siswa.

“Dibagi dua kelas. Karena hanya ada 4 kelas yang bisa dipakai. Pas kena lumpur, tambah parah lagi. Kita akan panggil Diknas tanyakan kenapa program rehabnya tidak direspon. Termasuk kontraktor juga biar drainase itu diutamakan cepat,” tegas Ngadiman.

Reporter : Siti Marlina

Editor     : Aso

Like
Like Love Haha Wow Sad Angry
Komentar
loading...