Membiasakan Generasi Berpuisi

Mahasiswa Sastra Inggris UHO saat mementaskan puisi karya penyair luar negeri. (istimewa) 

Kendari, Inilahsultra.com – Dari jauh, melalui speaker, suara nyaring melengking menyeruak menembus gelapnya malam di area Museum Kendari, Sabtu 25 November 2017.

Sayup-sayup, suara itu dari arah pondokan yang dinamai RUPA (Rumah Pengetahun).

-Advertisement-

Di situ, ratusan mahasiswa Universitas Halu Oleo Kendari Jurusan Sastra Inggris Fakultas Ilmu Budaya sedang mementaskan puisi.

Namun, tidak seperti biasanya. Puisi yang dibacakan tentang karya penyair dari bangsa barat, pun berbahasa Inggris.

Tampak, seorang perempuan muda yang diketahui bernama Ida wahyuni membuka sesi sebantarannya membacakan puisi.

Dari bahasa tubuh dan mimiknya, Ida tampak energik menyampaikan pesan puisi karya Tom Pickard berjudul Sea (laut).

Puisi yang bercerita tentang seseorang yang kerap memikirkan orang lain di tengah kesunyiannya.

Bagi mahasiswa semester lima ini, membaca puisi dengan Bahasa Inggris terlebih di depan ratusan pasang mata, baru pertama kali dilakukannya.

“Saya sempat deg-degan juga pas di atas. Tapi, saya berusaha tampil maksimal,” katanya saat bincang-bincang di RUPA.

Meski baru perdana pentas, namun dia menganggapnya tidak terlalu susah. Sebab, dari satu bulan lalu, sudah giat latihan bersama ratusan mahasiswa lainnya.

“Satu bulan kita latihan dan sudah persiapkan,” ujarnya.

Di tempat yang sama, Ketua Jurusan Bahasa dan Sastra Fakultas Ilmu Budaya UHO Lili Rita Lindayani mengaku, pentas ini sebagai ajang membangun kreatifitas melalui mata kuliah dan pembinaan.

Dia menyebut, pentas ini bagian dari mata kuliah puisi khusus Prodi Sastra Inggris.

“Tujuannya sebenarnya memancing kreatifitas mereka. Kita cukup mengapresiasi mereka. Banyak bakat mengekspresikan puisi,” ungkap Lili.

Sebelumnya, lanjut dia, pentas yang sama telah dilaksanakan. Namun, kali ini mementaskan puisi dalam bahasa Inggris.

Beberapa puisi ternama dibawakan oleh anak didiknya antara lain, karya Neruda, Cumming, Emily Dickinson, Hughes, Tom Pickard, Shakespeare, Ben Jhonson, Edgar, Robert Frost, dan William Blake.

Sementara itu, Nur Israfiany Sofian, selaku dosen pembina mahasiswa Sastra Inggris mengaku, target dari kegiatan ini sebenarnya adalah membangun kesadaran generasi akan pentingnya puisi.

Puisi bukan hanya pada kacamata bait dan kata saja, melainkan makna dari puisi itu sendiri.

Puisi sebagai perwakilan dari perasaan penyairnya, dan penghayatan bagi pembacanya.

“Kita ingin membiasakan saja mereka untuk terus berpuisi,” tuturnya.

Ke depan, pementasan ini akan terus dilakukan untuk memupuk semangat kecintaan generasi terhadap syair puisi.

Penulis : La Ode Pandi Sartiman

Facebook Comments