Ijazah Alumni UHO yang Ditandatangani Mantan Plt Rektor Dianggap Cacat Hukum

Dialog membedah keabsahan ijazah UHO Kendari.

Kendari, Inilahsultra.com – Sejumlah ijazah alumni Universitas Halu Oleo (UHO) Kendari yang ditandatangani mantan Plt Rektor UHO Kendari Prof. Supriadi Rustad sebanyak 1857 dipertanyakan keabsahannya. Utamanya ijazah alumni yang wisuda bulan Maret dan Mei 2017.

Ketua DPW Kibar Indonesia Sultra Maoluddin mengatakan, usai dialog akhir tahun dengan tema membedah keabsahan ijazah Alumni UHO yang ditandatangani Plt Rektor UHO Supriadi Rustad pada 27 Desember di Kopi Kita Kendari, disimpulkan ijazah itu bermasalah. Seharusnya, ijazah itu ditandatangani rektor defenitif.

“Dalam ijazah tertulis rektor dan tidak menggunakan Plt. Seharusnya seorang pejabat tidak boleh menghilangkan status atau martabat dari jabatannya karena pada jabatan tersebut melekat wewenang dan kekuasaannya sehingga yang bersangkutan dianggap berada diluar dari objek kekuasaannya,” ungkap Maoluddin.

Akibatnya, lanjut dia, berdampak pada munculnya kerugian materil dan nonmateril bagi 1857 alumni. Tindakan itu juga merupakan bentuk pembohongan publik dan diduga memenuhi unsur penipuan sebagaimana yang dimaksud dalam Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP).

Makanya, Maoluddin berharap, Polda Sultra segera mengambil langkah kongkrit sebagai tambahan dari laporan sebelumnya.

Prof. La Rianda yang ikut dalam dialog tersebut mengatakan, penandatanganan ijazah oleh Plt Rektor UHO Supriadi Rustad dengan tidak mencantumkan jabatan sebagai pelaksana tugas (Plt) telah memunculkan kegaduhan karena ijazah yang ditandatani tersebut patut dipertanyakan keabsahannya.

“Kalau dia sebagai rektor kapan dia dilantik? Seorang rektor harus dipilih melalui senat universitas sedangkan Prof. Supriadi jangankan dipilih oleh senat Universitas Halu Oleo, mencalonkan diri saja tidak pernah tapi tiba-tiba menjadi Rektor UHO dan mengorbankan alumni UHO,” katanya.

Salah seorang ahli hukum administrasi negara, DR Andi Muhammad Asrun yang juga salah seorang narasumber pada dialog tersebut menegaskan, yang dilakukan Plt Rektor UHO Supriadi Rustad dengan menandatangi ijazah alumni tanpa menyertakan jabatannya sebagai plt maka ijazah tersebut adalah cacat hukum.

Sementara narasumber lainnya, Prof. DR Aslan mengatakan, peristiwa tersebut baru pertama terjadi di UHO dan tidak lazim terjadi. Akibatnya berpotensi melanggar ketentuan yang berlaku.

Untuk itu, ia mengimbau kepada semua pihak untuk dapat bersuara menegakkan kebenaran karena menyangkut nasib 1857 alumni sehingga tidak menimbulkan kerugian bagi alumni di masa mendatang.

Editor: Din

Leave a Response