
Kendari, Inilahsultra.com – Gaduh soal hadiah “gelar kebangsawanan Buton” di media online akhirnya sampai juga ke telinga PJ Gubernur Sultra, Teguh Setyabudi . Tapi sayangnya, Teguh tolak berkomentar soal gelar istimewa yang didapatnya dari Lembaga Adat Kesultanan Buton versi La Ode Izat Manarfa.
Ia malah mendorong Asisten I Setda Sultra, Syarifudin Safaa menjawab kisruh pemberian gelar adat tersebut. Pada sejumlah awak media, Selasa 8 Mei 2018 Syarifudin buka suara ikhwal penyematan “Lakina Bawaangina” dan bonus title darah biru “La Ode” pada Teguh Setyabudi.
Kata Syarifudin, penyematan gelar spesial itu bermula dari keinginan Teguh memakai pakaian adat Buton pada puncak Upacara HUT Sultra ke 54. Bakal menjadi inspektur upacara, Teguh ingin tampil beda memakai seragam kebesaran kesultanan Buton.
Mengetahui hal itu, Syarifudin lantas menyampaikan impian Teguh pada Lembaga Adat Kesultanan Buton.
“Mulanya dari Persiapan HUT Sultra, ditetapkan panitia kita pakai pakaian adat. Gubernur pilih pakaian Buton, lalu saya koordinasikan ke Sultan. Saya komunikasi pakemnya bagaimana. Pak Sultan bolehkah pakaian Sultan dipakai tanpa prosesi kesultanan,?” urai Syarifudin.


Bak gayung bersambut, Tokoh Kesultanan Buton digawangi La Ode Izat Manarfa lantas menawarkan pemberian gelar adat Kesultanan Buton.
“Kalau begitu bagaimana nanti kita serahkan di sini (Baubau, Red) sekaligus kasih anugrah ke Pak Teguh,” ujar Syarifudin mengutip pernyataan salah satu Tokoh Kesultanan Buton tempatnya berkordinasi sebelum seremoni pemberian gelar pada 25 April lalu.
Melihat posisi dia sebagai Gubernur Sultra menjadi salah satu alasan Tokoh Adat Kerajaan Buton memberi bonus gelar kebangsawanan Buton.
Menyangkut pro kontra penyematan gelar kebangsawanan Buton pada eselon 1 Kemendagri, Syarifudin menolak berargumen. Ia meminta pihak terkait mengklarifikasi hal tersebut pada Lembaga Adat Kesultanan Buton. Dalam hal ini Kubu La Ode Izat Manarfa atau La Ode Arsal selaku Kapitalau Matanaeo yang memimpin prosesi upacara sakral kala itu.
Menurut pribadi Syarifudin sendiri, Teguh sudah pantas menyandang Gelar Lakina Bawaangina dan La Ode.
“Siapa bilang Jabatan Gubernur jabatan yang murah. Saya katakan pantas dan wajar. Beliau lanjutkan Program Pak Nur Alam seperti Masjid Al Alam, penyelenggaraan pemerintahan jalan. programnya bagus,” ujar Syarifudin memuji kinerja Teguh.
Sebagaimana dirilis Inilahsultra.com, Selasa 8 Mei 2018, protes keras disampaikan Tokoh Masyarakat Buton, Hasan Mbou terkait hadiah gelar Kebangsawanan Buton pada PJ Gubernur Sultra. Di mata anggota DPRD Sultra tiga periode itu, Teguh dianggap belum layak menyandang gelar sakral. Ini bukan hanya karena umur periode pemerintahan Teguh baru seumur jagung. Melainkan soal kinerja Teguh yang dinilai belum memberi kontribusi pembangunan signifikan bagi Bumi Anoa terkhusus masyarakat Buton.
Terlebih lagi, hingga kini, Teguh disebut gagal menyelesaikan polemik pelantikan Bupati Buton Defenitif, La Bakry.
Reporter : Siti Marlina
Editor : Aso





