Jenazah Bayi Jadi Jaminan di RSUD Muna, Ombudsman : Sangat Menyayat Hati Publik

703
 

Olo memperlihatkan jumlah pembayaran biaya rumah sakit yang cukup memberatkan. Selama enam jam, jenazah anaknya dijadikan jaminan di RSUD muna.

Kendari, Inilahsultra.com – Menyusul adanya pemberitaan jenazah bayi menjadi jaminan untuk pembayaran biaya rumah sakit di Kabupaten Muna, mengundang reaksi dari Ombudsman RI Perwakilan Sultra.

- Advertisement -

Meski sementara mengikuti pembekalan di Bogor Jawa Barat, Kepala Perwakilan Ombudsman RI Sultra yang baru dilantik, Mastri Susilo turut memantau perkembangan pelayanan publik di Sultra, termasuk bayi di Duruka.

Secara kelembagaan, kata Mastri pihaknya sangat prihatin dan turut berbela sungkawa semoga orang tua bayi dan keluarga tabah menghadapi semuanya.

“Ini peristiwa kemanusiaan yang menyayat hati publik, hati kita semua,” ungkap Mastri dalam rilis persnya kepada Inilahsultra.com, Rabu 6 Juni 2018.

Menurutnya, bicara kemanusiaan adalah terkait nurani dan mata hati. Seorang bayi telat dikebumikan hanya karena tidak mampu membayar biaya di instansi Pemerintah.

“Ini terjadi di rezim Otoda (otonomi daerah), dimana rentang kendali pelayanan publik ada di daerah,” katanya.

Muhammad Olo (20) tak kuasa menahan sedih saat jenazah anaknya harus menjadi jaminan akibat dirinya tak mampu membayar biaya kelahiran di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kabupaten Muna.

Sebelum ditebus oleh keluarga dan kerabat, selama delapan jam lamanya jenazah putranya menjadi jaminan.

Saat ditemui jurnalis Inilahsultra.com,
Muhammad Olo (20) yang didampingi istrinya Asrina (18) mengaku, mereka tak punya uang untuk menebus seluruh biaya rumah sakit kurang lebih Rp 8.070.000 atau Rp 8 juta.

Warga Desa Banggai, Kecamatan Duruka, Kabupaten Muna, Selasa (5 Juni 2018) menjelaskan, bayinya dilahirkan di Klinik Bunda Amud Jalan Kartika Kelurahan Sidodadi Kecamatan Batalaiworu. Karena kondisinya prematur, terpaksa dilarikan di RSUD.

“Karena persoalan berat badan yang kurang,” imbuhnya, Rabu 6 Juni 2018.

Di RSUD Muna, anaknya dirawat di Ruang Teretai sejak enam hari lalu. Karena kondisinya kian memburuk, nyawa anak pertamanya itu tak bisa diselamatkan.

Selama enam hari dirawat, pihah rumah sakit mencatat biaya yang harus dilunasi kurang lebih Rp 8 juta. Sebab, mereka tidak menggunakan Badan Pengelola Jaminan Sosial Kesehatan (BPJS kesehatan).

“Bayi saya meninggal dunia, Selasa (5 Juni) pukul 01.00 WITA dan nanti jam 9 pagi baru bisa dibawah pulang di rumah, ini karena persoalan tidak ada biaya untuk melunasi biaya perawatan senilai Rp 8 juta,” bebernya.

Beruntung, ada keluarga dan kerabat yang mau meminjamkan uangnya hingga akhirnya ia bisa membawa pulang jenazah anaknya untuk dikebumikan.

“Saya sangat kecewa dengan manajemen RSUD, padahal RSUD milik pemerintah, kenapa tidak ada keberpihakan padahal kita keluarga yang tidak mampu, dan lebih mirisnya lagi bayi saya diantar di rumah tidak menggunakan mobil Ambulance, namun bonceng sendiri,” katanya dengan nada sedih.

Penulis : La Ode Pandi Sartiman

Like
Like Love Haha Wow Sad Angry
Komentar
loading...