
Empat tuna netra memainkan alat musik, menghibur pengunjung di Pelabuhan Nusantara Raha Kabupaten Muna.
Kendari, Inilahsultra.com – Di muka pintu masuk Pelabuhan Nusantara Raha telinga penumpang dan pengantar disuguhkan irama musik nan ciamik, Minggu 9 Juli 2018.
Lantunan kolaborasi alat musik gitar, bas, gendang dan gerincing terdengar seirama. Suara nan syahdu dari vokalisnya memantik para pengunjung untuk merapat.
Kolaborasi musik itu ternyata dimainkan oleh empat orang tuna netra. Adalah La Ipo di gendang, La Sarudi di gerincing, Ismail di bas dan La Romi di gitar.
Tak mau kalah dengan group band moderen, alat musik mereka cukup paripurna untuk “manggung” di jalan dan parkiran pelabuhan.
Lengkap pula dengan speaker yang daya listriknya bersumber dari power bank berkapasitas besar.
Begitu juga dengan mic yang digunakan. Meski tak se-nyaring mic pada umumnya, namun suara vokalisnya jelas terdengar. Tentunya, syahdu.
Lagu dangdut menjadi pilihan utama mereka. Sehingga, tak jarang, sebagian penonton ikut berdendang dan berjoget mengiringi petikan gitar dan pukulan gendang dari jemari para tuna netra.
Rasa salut bercampur terhibur, membuat penonton ikhlas memasukkan uangnya ke dalam kotak sumbangan yang ditempatkan tepat di depan arena panggung jalanan itu.
“Bagus juga lagunya. Asyik. Meski mereka penyandang tuna netra, tapi mereka memiliki keterampilan,” ungkap Ahmad, salah satu pengunjung pelabuhan.
Ismail bilang, grub band mereka tanpa nama. Keempatnya sepakat mendirikan grub band pada 9 November 2016 lalu saat bertemu di sebuah pentas sekolah luar biasa (SLB) di Kendari.
Menimba ilmu di tempat yang sama, menyatukan keempatnya yang beralamat berbeda ini. Ismail sendiri adalah asli Muna. Sedangkan tiga temannya berasal dari Kota Baubau.
Menurut Ismail, sejak pertama kali bertemu, sudah ada kecocokan di antara mereka.
“Kita sepakat saja bentuk grub band,” imbuh Ismail saat ditemui di Pelabuhan Nusantara Raha, Minggu 9 Juli 2018.
Mereka mendapatkan pengetahuan memainkan alat musik saat di SLB. Memetik gitar, memukul gerincing dan mendendangkan gendang diperoleh dari autodidak.
Bagaimana caranya bisa tahu kunci gitar sementara tidak melihat?
“Kita hanya tahu melalui perasaan,” katanya.
Bagi mereka, intuisi dan penghayatan akan bunyi menjadi salah satu sumber pengetahuan mereka mengenal dan memainkan alat musik.
Setelah keempatnya “senyawa” dalam kolaborasi musik, mereka sepakat membeli alat band. Semuanya mereka adakan berdasarkan hasil swadaya sendiri.
“Ini tanpa bantuan orang lain. Semua alat kita beli sendiri,” ujarnya.
Selain sebagai pemusik jalanan, Ismail juga memiliki pekerjaan lain sebagai tukang urut di Kota Raha. Pekerjaan ini ia lakoni sejak empat tahun silam hingga sekarang.
Namun, pendapatan sebagai tukang urut tak sebanding dengan pemasukkan sebagai pemusik jalanan.
“Lebih banyak main begini (pemusik jalanan),” katanya tanpa mau merincikan pendapatannya.
Pekerjaan sebagai pemusik jalanan ini, menjadi salah satu penyebab mereka bertahan hidup hingga sekarang. Pun, uang yang diperoleh halal dari dendang alat musik dan lagu yang mereka lantunkan.
“Kalau tidak memanfaatkan keahlian, kita mau dapat makan di mana,” pungkasnya.
Penulis : La Ode Pandi Sartiman




