
Kendari, Inilahsultra.com – Keterbatasan tenaga penyuluh lapangan masih menjadi kendala utama Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Sultra. Kendati rasio SDM di lembaga pemerintah non kementerian ini masih dibawah standar, BKKBN Sultra mampu mencapai target kontrak kerja ditetapkan pemerintah pusat.
“Sultra memang masih kekurangan Tanaga penyuluh untuk membantu sosialisasi dan kampanye program KB termasuk pelayanan KB. Rasio normalnya, 1 desa 1 penyuluh. Tapi Sultra belum sampai. Dulu bahkan ada yang satu kecamatan satu penyuluh. Total se-Sultra penyuluh KB 320an. Tapi Alhamdulillah walaupun dengan keterbatasan target pusat selalu bisa kita capai,” ungkap Plt Kepala BKKBN Sultra, Mustakim.
Ia mengatakan data terkini memperlihatkan Sultra mampu bersaing mencetak pencapaian positif program Kependudukan dan Keluarga Berencana.
Diantaranya penurunan angka kelahiran total atau TFR (Total Fertility Rate) dari 3,0 menjadi 2,8. Kesadaran keluarga menggunakan alat kontrasepsi turut meningkat. Hal ini terlihat dari data angka pemakaian alat kontrasepsi (Contraceptive Prevalence Rate = CPR) tahun ini yang berkisar 50 % hingga 60%.
Disusul suksesnya program Kampung KB. Sejak dicetuskan tahun 2017 hingga 2018, jelas Mustakim, implementasi program Kampung KB telah terealisasi di seluruh kabupaten kota di Sultra. Total 229 Kampung KB telah dibentuk di 17 Kabupaten/Kota plus Provinsi Sultra.
Puncaknya, kata Mustakim, pada momen Hari Keluarga Nasional (Harganas) di Manado, empat kepala daerah di Sultra dianugerahi Mandala Karya Kencana atas peran aktif mendukung program KKB di daerah. Penghargaan bergengsi dari Presiden Republik Indonesia itu diserahkan secara langsung Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Republik Indonesia, Puan Maharani.
“Ini menunjukkan program kependudukan dan KB di daerah berjalan Sukses dan BKKBN mampu berkoordinasi baik sehingga kepala daerah antusias mendukung ikut menyukseskan program pemerintah pusat,” ujar pejabat yang telah menelorkan dua buku bertema program BKKBN tersebut.
Pola komunikasi dan koordinasi yang intens lintas sektor, kata Mustakim menjadi kunci utama kesuksesan pencapaian program BKKBN Sultra.
Menyiasati keterbatasan tenaga penyuluh, BKKBN berupaya menjalin koordinasi lintas lembaga dan organisasi dalam upaya membantu kampanye program KB.
“Sejumlah program BKKBN kami melibatkan berbagai instansi. Diantaranya TNI, Dinas Kesehatan, Bidan Desa. Dengan TNI kami membuat MoU untuk program KB dan Kependudukan. Dengan pihak sekolah juga dilibatkan untuk program advokasi KIE, ketahanan remaja dan tribina. Pola kemitraan ini sangat membantu kami,” jelas Mustakim.
Kendala BKKN tidak hanya menyangkut keterbatasan SDM. Kata Mustakim, BKKBN Sultra juga mesti mahir menjembatani miss komunikasi lantaran perbedaan status institusi aparat KB dengan OPD BKKBN di daerah.
“Ada peralihan status petugas KB di lapangan menjadi pegawai vertikal. Kadang ada miss komunikasi dengan OPD di daerah, tapi kami berupaya hubungan dengan OPD di daerah tetap harmonis, memfasilitasi dan mensinergikan program pusat dan daerah. Ini agar target pusat bisa berjalan sukses. Beruntung sejauh ini bisa teratasi dengan baik,” jelas pria kelahiran Cirebon tersebut.
Reporter : Siti Marlina
Editor : Aso




