Gandeng WWF, Kamelia Inisiasi Bersih-bersih Pantai Wakatobi

483
 

Kendari, Inilahsultra.com- Sebagai upaya untuk mendukung tujuan dari pemerintah Indonesia menurunkan 70% polusi plastik lautan pada tahun 2025, Wakatobi sebagai kabupaten maritim di Indonesia melakukan berbagai upaya untuk mengurangi sampah plastik tersebut.

Bertepatan dengan hari konservasi alam dunia 28 Juli lalu, Komunitas Melihat Alam (Kamelia) menginisiasi gerakan bersih pantai. Dalam aksinya mereka mengajak berbagai pihak yang berperan aktif dalam menyuarakan perbaikan lingkungan seperti Taman Nasional Wakatobi, WWF Indonesia, Isakapala, Dinas Kelautan Perikanan Wakatobi serta warga desa Kapota.

- Advertisement -

Aksi bersih-bersih pantai dipusatkan di Pantai Fatu Sahuu, desa Kabita, Pulau Kapota, Wakatobi dengan jarak bersih pantai sejauh 1,5 km. Kegiatan dilakukan selama 2 jam, dengan jumlah peserta 50 orang.

Kepala Desa Kabita menyampaikan kegiatan bersih pantai diinisiasi oleh Kamelia ini merupakan langkah yang baik, mengingat Oantai Fatu sahuu merupakan salah satu potensi wisata yang di miliki oleh desa Kabita.

“Musim angin tertentu menjadikan pantai ini terlihat kotor dengan tumpukan sampah plastik yang naik pada bagian pesisir pantai, namun pada musim tertentu pantai ini merupakan pantai yang bersih,” ujarnya.

Dalam rilis disampaikan pada Inilahsultra.com, Kamis 2 Agustus 2018, Koordinator Kamelia, Hardin menyatakan sampah yang terbawa hingga ke pantai tersebut merupakan sampah plastik yang bisa jadi telah bertahun tahun mengendap di laut.

“Hanya terbawa di sekitaran pantai di Wakatobi dan pantai Fatu Sahuu merupakan salah satu pantai yang terkena imbas dari prilaku masyarakat kita yang dengan mudah membuang sampah di laut,” ucapnya.

Taman Nasional Wakatobi dan WWF Indonesia menyuport kegiatan bersih Pantai Futu.

“Anggota SPKP (Sentra Penyuluhan Kehutanan Pedesaan) Kabita turut memasukan aksi bersih pantai sebagai agenda rutin bulanan mereka sebagai wujud rasa tanggung jawab kepada lingkungan,” ungkap Pendamping SPKP Kabita, Edyar.

Gerakan bersih pantai yang dilakukan saat ini tidak hanya aksi untuk mengumpulkan sampah plastik yang ada di pantai. Berbarengan dengan itu dilakukan pendataan sampah plastik di pesisir dengan metode yang dikembangkan oleh CSIRO.

Pendataan awal ini diharapkan juga dapat dilakukan oleh pihak desa dan masyarakat secara luas sehingga data sampah di lautan dapat kita miliki dan dapat menjadi bahan pertimbangan dalam menentukan kebijakan terkait pengelolaan sampah kedepannya baik yang dilakukan oleh desa maupun pemerintah daerah dan nasional.

Selain pendataan sampah dengan metode yang dikembangkan oleh CSIRO, masyarakat juga menimbang sampah yang dikumpulkan dalam karung yang telah disediakan. Dalam waktu 2 jam dan panjang pantai 1,5 Km kegiatan ini dapat membersihkan sampah plastik dengan berat 700 kg dengan jenis sampah plastik kering.

Namun seperti halnya di pesisir yang lain, setelah melakukan aksi bersih pantai sampah plastik yang dominan ditemukan berupa botol minum plastik dan gelas minum kemasan. Sampah yang dikumpulkan belum diketahui bagaimana pengelolaan yang tepat.

Saat ini di Kapota lokasi pengelolaan sampah yang belum ada serta penanganan sampah platik menjadi salah satu kendala. Tentunya ini menjadi perhatian pemangku kebijakan, ketika masyarakat mulai bergerak untuk membersihkan sampah disekitar pesisir pantai apa yang bisa pemerintah lakukan untuk tahapan pengelolaannya sehingga pengurangan sampah plastik yang ada atau sampah plastik yang mendarat di pesisir pantai dapat tertangani dengan baik.

Butuh upaya berbagai pihak untuk mengurangi sampah plastik di lautan, tidak hanya aksi bersih pantai namun juga aksi yang lain dan yang tak kalah penting adalah aksi dari diri kita senidri dengan mengurangi konsumsi plastik sekali pakai dan berlaku bijak dalam menggunakan kemasan plastik, agar cita cita Indonesia terbebas dari sampah plastik dapat terwujud.

Indonesia sendiri merupakan negara dengan marine mega-biodiversity tertinggi, yang dikenal dengan istilah Coral Triangle. Saat ini, ekosistem terumbu karang, mangrove, dan padang lamun yang luas tersebut berada dalam kondisi bahaya. Ini disebabkan oleh terakumulasinya sampah plastik lautan yang banyak ditemukan di sepanjang garis pantai.

Diperkirakan sekitar 1.3 juta ton sampah plastik setiap tahun dialirkan ke perairan laut Indonesia, mengotori lingkungan sekaligus meningkatkan resiko terperangkapnya fauna laut didalamnya. Pada perairan dangkal di Indonesia, terumbu karang dikotori oleh plastik-plastik sampah, dan para nelayan menjadi saksi meningkatnya kasus-kasus dimana banyak ikan yang terjerat oleh tas plastik dan sampah jenis lainnya.

Sampah plastik yang terkena sinar matahari, terus menerus terkena ombak dan pasang surut, menyebabkan plastik terdegradasi menjadi partikel-partikel kecil atau mikro plastik yang tertelan oleh fauna laut. Kondisi ini menjadi peringatan bagi pemerintah Indonesia bahwa menurunnya kualitas air dan kerusakan pada ekosistem laut merupakan ancaman yang harus segera diselesaikan.

Reporter : Siti Marlina

Editor     : Aso

Like
Like Love Haha Wow Sad Angry
Komentar
loading...