Kondisi Cuaca Bikin Inflasi Sultra Turun

232
 

Kendari, Inilahsultra.com– Faktor cuaca sedikit banyak memberi dampak terhadap pergerakan inflasi suatu daerah. Di Sulawesi Tenggara (Sultra) misalkan. Kantor Bank Indonesia Perwakilan Sulawesi Tenggara mencatat faktor cuaca yang berangsur normal sepanjang Juli 2018 mendorong penurunan tekanan inflasi.

Penurunan inflasi dimaksud adalah pada kelompok komoditas bahan makanan bergejolak (volatile food – VF). Khususnya kelompok ikan segar. Inflasi kelompok volatile food tercatat turun dari 5,90% (mtm) pada Juni 2018 menjadi sebesar 2,12% (mtm) pada Juli 2018.

- Advertisement -

Komoditas ikan segar yang tercatat mengalami deflasi diantaranya adalah ikan kembung, layang, cakalang dan cumi-cumi. Selain ikan segar, komoditas Volatile Food yang mengalami deflasi yakni bawang merah. Namun penurunan tekanan inflasi yang lebih besar pada kelompok ini tertahan oleh inflasi pada komoditas sayur-sayuran, cabai rawit, tomat dan beras.

Kepala BI Sultra, Minot Purwahono dalam rilis disampaikan pada inilahsultra.com mengatakan Bulan Juli 2018, Sulawesi Tenggara (Sultra) mencatatkan inflasi sebesar 0,81% (mtm). Persentasenya lebih rendah dibandingkan inflasi pada bulan sebelumnya sebesar 1,99% (mtm).

Penurunan inflasi tersebut terutama didorong oleh penurunan harga pada kelompok bahan makanan khususnya ikan segar dan kelompok administered price khususnya angkutan udara. Penurunan inflasi yang lebih dalam tertahan oleh peningkatan inflasi pada komoditas tarif pulsa seluler dan biaya pendidikan.

Secara spasial, Kota Kendari dan Kota Baubau mencatatkan inflasi masing-masing sebesar 0,66% (mtm) dan 1,20% (mtm). Dengan kondisi tersebut, inflasi tahunan Sultra tercatat sebesar 1,61% (yoy) dengan inflasi tahunan untuk Kota Kendari sebesar 1,27% (yoy) dan Kota Baubau sebesar 2,50% (yoy). Sementara itu inflasi nasional pada Juli tercatat sebesar 0,28% (mtm), dan secara tahunan tercatat sebesar 3,18% (yoy) atau masih dalam rentang sasaran inflasi tahun ini sebesar 3,5 ± 1%.

Di sisi lain inflasi kelompok inti tercatat mengalami peningkatan dari sebesar 0,40% (mtm), menjadi 0,75% (mtm). Peningkatan tersebut terutama didorong oleh inflasi yang terjadi pada komoditas tarif pulsa seluler (paket data internet) yang tercatat sebesar 9,44% (mtm) dan biaya kuliah akademi/perguruan tinggi yang tercatat sebesar 2,65% (mtm). Kedua komoditas tersebut memberikan andil yang cukup signifikan terhadap inflasi Sultra pada Juli 2018 yakni sebesar 0,28%. Kondisi tersebut terjadi karena adanya penyesuaian tarif dari pihak operator seluler dan penyesuaian biaya masuk perguruan tinggi seiring pergantian tahun ajaran.

“Sebagaimana arahan Presiden RI dalam forum Rapat Koordinasi Nasional TPID ke IX, Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Sulawesi Tenggara akan terus meningkatkan koordinasi dalam rangka mendorong terwujudnya kerjasama antar daerah di Sulawesi Tenggara. Peningkatan infrastruktur penghubung antar daerah dan pembangunan pasar pengumpul di daerah akan terus dilakukan dalam upaya mengurangi biaya transportasi dalam kegiatan perdagangan antar daerah,” terang Minot.

Koordinasi yang telah terjalin dengan Satgas Pangan dalam melakukan pengawasan peredaran barang, lanjut Minot juga akan terus ditingkatkan untuk mencegah penimbunan barang.

Reporter : Siti Marlina

Editor     : Aso

Like
Like Love Haha Wow Sad Angry
Komentar
loading...