Ratusan Warga Konda Pertahankan Lahannya yang Diklaim Brimob

6227
Aparat Brimob Polda Sultra bersenjata menjaga jalannya aksi warga Konda yang menolak lahan dan rumahnya dikosongkan
-Advertise-

Kendari, Inilahsultra.com – Warga Perumahan BTN Griya Nusa Dua dan BTN Griya Zarinda di Desa Pousu Jaya, Kecamatan Konda Kabupaten Konawe Selatan, melakukan aksi penolakan pengosongan lahan dan rumah, di Mako Brimob Polda Sultra, Minggu 5 Agustus 2018.

Salah seorang warga sekaligus kordinator lapangan, Igo mengatakan, lahan yang menjadi sengketa saat ini merupakan milik warga sejak dulu yang diolah turun temurun.

-Advertise-

Kepemilikan warga dapat dibuktikan dengan terbitnya sertifikat dari Badan Pertanahan Nasional (BPN) yang saat ini masih dianggap sah sesuai prosedur pendaftaran tanah di Badan Agraria.

Tetapi pihak Brimob, malah mengklaim tanah seluas 120 hektare itu merupakan milik mereka dengan dasar-dasar surat yang tidak jelas.

“Mereka (Brimob) hanya mengklaim dan tidak memiliki sertifikat, serta memerintahkan untuk pengosongan lahan dan rumah warga, sementara kami di sini sudah lama tinggal,” ungkap Igo.

Di atas lahan yang diklaim Brimob ini, telah dihuni lebih dari 400 kepala keluarga (KK) dengan total 900 jiwa.

Ia menyebut, sudah tiga kali pihak Brimob mengirim ultimatum ke warga agar mengosongkan lahan tersebut.

Surat perintah pengosongan lahan dari Satbrimob Polda Sultra, pertama diterima oleh warga pada 23 Juli 2018. Kemudian disusul surat perintah kedua 29 Juli 2018 dan yang ketiga pada 4 Agustus 2018.

Surat perintah itu, ditandatangani langsung Dansat Brimob Polda Sultra Kombes Pol Kasero Manggolo.

“Merujuk dari surat ini, dengan keinginan mereka akan melaksanakan eksekusi lahan secara paksa besok,┬ádan hari ini kami semua yang ada di sini mungkin untuk terakhir kalinya tinggal di sini,” katanya.

Ia menyebut, warga merasa terancam karena mendapatkan intimidasi aparat Brimob Polda Sultra dengan membawa senjata laras panjang.

Baca Juga :  Ridwan Mendadak Dorong Nama Ali Mazi ke DPP Golkar

Ia berharap, semua pihak untuk bisa membantu agar permasalahan sengketa lahan tidak berakhir dengan pengosongan paksa. Sebab, seluruh warga tetap memertahankan tanah warisan tersebut.

“Kami tidak tahu untuk melapor ke mana lagi dan berlindung ke mana lagi. Semua usaha sudah kami coba namun tidak menghasilkan apa-apa. Kami tetap akan melakukan perlawanan semampu kami walaupun yang dihadapi aparat penegak hukum,” tegasnya.

Sebelumnya, kedua bela pihak sempat dihearing di DPRD Kota Kendari yang dipimpin ketua Komisi I Subhan.

Keputusan DPRD Kota Kendari, meminta eksekusi paksa ditunda sampai ada keputusan pengadilan.

Penulis : Haerun
Editor : La Ode Pandi Sartiman

Silahkan berikan komentar
Like
Like Love Haha Wow Sad Angry

KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here