Tradisi Posuo di Buton, Penanda Gadis Siap Dipinang

4337
 

Gadis Buton diarak usai mengikuti tradisi Posuo


Posuo merupakan salah satu budaya masyarakat Buton. Dalam Bahasa Indonesia diartikan pingitan. Posuo dilakukan kepada anak perempuan yang telah memasuki usia dewasa atau telah merasakan datang bulan (haid). Seperti apa ritual Posuo dilakukan?

- Advertisement -

Laporan : Waode Yeni Wahdania

Pada zaman dahulu, Posuo dilaksanakan selama delapan hari delapan malam. Seiring perkembangan zaman, Posuo bisa dilakukan hanya dalam satu malam saja.

Posuo merupakan tradisi yang telah berkembang di Kesultanan Buton sejak zaman dulu. Ritual ini wajib diikuti seorang wanita berdarah Buton yang belum menikah.

Ritual Posuo dilaksanakan sebagai penanda transisi bagi seorang wanita, dari gadis remaja (Kabua-bua) menjadi seorang gadis dewasa (Kalambe).

“Pada zaman dahulu gadis-gadis yang akan melakukan Posuo biasanya akan dikurung dalam ruang khusus yang disebut Suo dengan mengenakan kain putih,” ujar seorang dukun (Bisa) Posuo, Hj. Waode Rasia.

Untuk ritual Posuo, biasanya dukun yang melaksanakan sebanyak empat orang. Namun boleh juga dilakukan hanya dua orang dukun yang mahir disesuaikan dengan keadaan.

“Posuo itu diikuti gadis yang sudah datang bulan penanda sang gadis siap untuk dipinang,” jelasnya.

Dalam Suo dilakukan berbagai ritual sebagai sarana pendidikan bagi persiapan mental seorang perempuan remaja, menjadi seorang perempuan dewasa yang siap membentuk rumah tangga.

Agar pelajaran dapat diterima dengan baik, maka selama berada dalam Suo, para peserta Posuo hanya boleh bertemu dengan dukun yang memimpin upacara. Mereka akan dijauhkan dari segala pengaruh luar, baik dari keluarganya sendiri maupun dari pengaruh lingkungannya.

Dari para Bisa inilah, para gadis peserta Posuo akan mendapat bimbingan moral, spiritual dan pengetahuan. Utamanya bimbingan dalam membentuk keluarga yang baik.

“Posuo bisa dilakukan banyak gadis dalam sekali ritual ataupun hanya sendirian saja. Namun bagi peserta yang bersaudara maka kamarnya harus dibedakan dengan saudaranya atau dipisahkan,” terangnya.

Dalam ritual Posuo ini, ada tiga tahap prosesi yang harus dijalani. Sesi pertama disebut Pauncura atau pengukuhan. Pada tahap ini prosesi dilakukan oleh dukun senior (Parika) diawali dengan tunuana dupa (pembakaran kemenyan) yang disertai dengan pembacaan doa.

Setelah doa selesai, dilanjutkan dengan Panimpa (Pemberkatan) yang dilakukan dengan memberikan sapuan asap kemenyan ke sekujur tubuh peserta Posuo. Setelah itu Parika mengumumkan nama-nama para peserta ritual dan pemberitahuan kepada seluruh peserta dan keluarganya bahwa sejak saat itu mereka akan diisolasi dari dunia luar. Mereka hanya bisa berhubungan dengan para dukun yang bertugas menemani.

Sesi kedua disebut Bhalyi Yana Yimpo atau merubah penampilan yang dilakukan setelah ritual berjalan selama lima hari. Pada tahap ini ritual yang dilakukan adalah merubah posisi tidur para peserta. Tadinya kepala di selatan dan kaki di utara menjadi kepala di barat dan kaki ditimur. Posisi tidur ini akan terus dilakoni sampai dengan dari ketujuh.

Sesi ketiga disebut Matana Kariya atau puncak acara. Dilakukan tepat pada malam kedelapan. Ritual yang dilakukan adalah memandikan seluruh peserta upacara Posuo dengan menggunakan wadah Bhosu (buyung yang terbuat dari tanag liat). Setelah selesai mandi para peserta akan didandani dengan menggunakan pakaian Ajo Kalambe (dandanan gadis dewasa) oleh para dukun.

Bagi yang bergelar Waode (bangsawan), setiap kegiatan ritul Posuo saat makan diiringi dengan pemukulan gendang. Pemukulan gendang ini juga merupakan ujian bagi kesucian (keperwanan) para peserta posuo. Jika dalam pemukulan gendang tersebut ada gendang yang pecah, maka hal tersebut menjadi tanda bahwa diantara para peserta Posuo tersebut ada yang sudah tidak perawan lagi.

Namun diera zaman modern ini, semua anak gadis sudah bersekolah dan bahkan bekerja. Makanya malam ritual Posuo dipersingkat satu malam saja. Biasanya dilakukan saat menjelang seorang gadis akan menikah.

“Zaman sekarang wanita sudah berkarir berbeda dengan zaman dulu, wanita tidak sekolah. Makanya pingitnya dipersingkat dapat dilakukan sehari sebelum menikah. Doa dan tata caranya sama,” katanya.

Menurut Waode Rasia, semua daerah Kesultanan Buton mempunyai tradisi Posuo dengan tujuan yang sama, memberikan pembekalan terhadap seorang gadis dalam bersikap dan mengarungi rumah tangga. Meskipun tata caranya berbeda-beda setip daerah.

Dengan mengikuti Posuo maka sang gadis sudah siap dipinang atau melakukan pernikahan. (*)

Like
Like Love Haha Wow Sad Angry
2
Komentar
loading...