Desa Lakumbe Tak Punya Baruga, Tokoh Pemuda: Visi Berbudaya Pemerintahan Abu Hasan-Ramadio Hanya Jargon Kampanye

1051
 

Buranga, Inilahsultra.com-Visi Pemerintahan Bupati Buton Utara (Butur) Abu Hasan dan wakilnya Ramadion yakni “Terwujudnya Masyarakat yang Aman, berbudaya dan Religius menuju Buton Utara yang maju dan Sejahtera”.  Akan tetapi, visi tersebut hanya dianggap sebagai hanya jargon kampanye.

Penilaian tersebut datang dari salah satu tokoh pemuda Desa Lakumbe Kecamatan Kulisusu Barat (Kulbar), Muhamad Amang.

- Advertisement -

Melalui press release yang diterima redaksi Inilahsultra.com, Jum’at, 24 Agustus 2018, Amang, panggilan Muhamad Amang, menggambarkan  kepemimpinan Abu Hasan-Ramadio meningkatnya kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) yang bermoral yang ditopang oleh 4 pilar utama yaitu, pendidikan, kesehatan, budaya dan keagamaan.

Kebijakan untuk pencapaian tujuan diatas yang tertuang dalam visi misi Abu Hasan Ramadio ialah, membangun dan mengadakan prasarana dan sarana pendidikan, kesehatan, budaya dan keagamaan yang berkualitas dan berkeadilan

Kemudian, melakukan pelayanan yang berkualitas dan bermutu dalam penyelenggaraan pendidikan, kesehatan, budaya dan keagamaan. Selanjutnya, melakukan peningkatan fungsi lembaga adat/sarah dan peningkatan kesejahteraan pegawai sarah , imam masjid dan guru ngaji.

“Dari 4 pilar utama diatas, saya disini akan membicarakan/menitik beratkan pada bidang kebudayaan,” tulisnya.

Pertama, terang Ketua Bidang Organisasi KNPI Kecamatan Kulbar periode 2018/2021, Budaya adalah identitas bangsa, kepribadian suatu bangsa akan tercermin melalui budayanya.

Terkait dengan hal itu, bahwa ada beberapa desa di Butur, terkhusus di Kulisusu Barat, ada desa yang membutuhkan sarana dan prasarana seperti Baruga. Dimana, setiap tahunnya dipakai untuk Haroa/Syukuran Pesta Panen.

“11 Tahun Buton Utara mekar, tapi sampai saat ini Baruga di Langkumbe belum ada juga. Visi yang berbudaya yang dicanangkan oleh Abu Hasan-Ramadio tak bedanya hanya jargon politik kampanye belaka,” katanya.

Kedua, tambah Amang, pembelajaran budaya di sekolah sangat minim diajarkan. Banyak institusi pendidikan dasar dan menengah yang sudah menganggap bahwa pembelajaran mengenai budaya lokal sudah tidak relevan lagi. Padahal pelajaran ini dapat membangun budaya bangsa serta cara beradaptasi dengan budaya lokal ditengah perkembangan zaman ini.

“Musrembang Kecamatan di Kulisusu Barat setahun lalu, saya sudah memberi masukan agar muatan lokal kebudayaan segera dimasukan dalam mata pelajaran di sekolah. Mata pelajaran muatan lokal (Mulok) adalah cara strategis untuk melestarikan budaya dan kesenian daerah. Dan juga saya meminta agar lembaga atau kepengurusan adat / sara itu di bentuk baik dari tingkatan kabupaten, jecamatan, sampai desa. Sampai hari ini tidak ada progres upaya sama sekali,” sesal mantan ketua HIPMA Kulbar periode 2016/2017 ini.

Untuk itu, ia berharap dan menyampaikan secara tegas kepada pemerintah untuk segera merealisasikan pembangunan Baruga di beberapa desa di wilayah Kulbar, dan memasukan budaya Butur dalam mata pelajaran Mulok.

Editor : Aso

 

Like
Like Love Haha Wow Sad Angry
Komentar
loading...