ARF Tawarkan Kontrak Politik Bukan Money Politic

871
 

Kendari, Inilahsultra.com – Abdul Rahman Farizi (ARF) merupakan salah satu wajah baru dalam bursa Bakal Calon Legislatif (Bacaleg) DPR RI daerah pemilihan (dapil) Sultra.

Bacaleg Partai Golkar ini tentu akan ikut bersaing dengan para tokoh politik lainnya yang namanya telah moncer.

- Advertisement -

Ada anekdot, sulit untuk bersaing dengan para “gajah” yang notabene pernah menjabat bupati dua periode hingga inkumben di DPR RI.

Namun bagi ARF, istilah melawan “gajah” itu hanya presepsi saja. Sebab, publik akan menilai dan melihat bahwa yang maju kembali ini adalah mereka yang berusaha kembali mengambil hati rakyat.

“Tinggal rakyat menilai apakah mereka punya kinerja. Masyarakat tinggal menilai,” ungkap ARF saat bincang-binca dengan Inilahsultra.com, Selasa 28 Agustus 2018.

Menurutnya, bila rakyat puas dengan kinerja inkumben atau mantan bupati, maka pasti akan memilih.

Bagi yang tidak puas, justru akan memilih calon baru yang menawarkan cara baru dengan mengubah relasi positif antara politisi dan konstituen.

“Bagi saya, tidak ada yang perlu dikhawatirkan dengan kandidat lain. Ini kompetisi lima tahunan yang disiapkan oleh negara. Sebagai orang politik berusaha merebut simpati masyarakat Sultra,” katanya.

Biasanya, dalam perebutan kursi senayan, selalu diwarnai dengan money politic.

Bagi ARF, calon yang tawarkan money politic tidak memiliki gagasan kreatif dan tidak merumuskan program jangka panjang antara dia dengan pemilihnya.

“Gula politik, baju politik itu adalah jangka pendek. Itu sifat politisi tidak menyiapkan pola relasi jangka panjang,” ujarnya.

Menurutnya, bila calon hanya mengandalkan money politic, konsekuensinya adalah rakyat akan dipertemukan kembali dengan politikus yang datang sekali dalam lima tahun.

“Karena mereka merasa sudah membeli suara rakyat sehingga merasa kontrak politik sudah selesai,” jelasnya.

Dari pada money politic, mantan Dosen Universitas Hasanuddin Makassar ini menawarkan program jangka panjang yang sifatnya menghargai suara rakyat.

“Saya sudah menyiapkan kartu sahabat ARF. Ini merupakan kontrak politik antara saya dan rakyat saat jadi anggota dewan nanti,” ujarnya.

Kontrak politik seperti ini, kata ARF, untuk menjaga hubungan rakyat yang memilihnya.

Sebab, dalam politik, yang dikenal rakyat adalah, mendukung dan menuntut kepada yang dipilih.

“Kita harus siap dituntut,” tuturnya.

Beberapa kontrak politik yang dijanjikan ARF kepada rakyat adalah seputar perjuangan memuluskan program nasional yang bisa menyentuh langsung kepada masyarakat Sultra.

“Misal, Kartu Indonesia Pintar, PKH dan kredit usaha rakyat. Jika ada konstituen saya di Sultra yang belum mendapatkan, maka ini akan diperjuangkan,” jelasnya.

Seluruh program nasional tersebut, kata dia, akan dikomparasikan dengan Kartu Sahabat ARF ini agar ke depan murni diperjuangkan dan jadi alat tagih masyarakat kepadanya.

“Sehingga ini menjadi pola komunikasi jangka panjang antara saya dengan pemilih saya. Saya menawarkan hubungan sifatnya jangka panjang dengan pemilih,” paparnya.

Ia berjanji, bila dirinya duduk di DPR RI, Sultra menjadi provinsi yang dikenal dan diperhitungkan di tingkat nasional.

“Bila ada RUU (rancangan undang-undang) dan kebijakan baru yang menyangkut kebijakan strategis nasional, saya akan berteriak agar itu masuk dalam kepentingan masyarakat Sultra,” pungkasnya.

Penulis : La Ode Pandi Sartiman

Like
Like Love Haha Wow Sad Angry
Komentar
loading...