Dugaan Cabul Bos Media Cetak di Kendari, Ahli Hukum Pidana : Keterangan Saksi dan Ahli Sudah Cukup

183
Oheo Kaimuddin Haris
-Advertise-

Kendari, Inilahsultra.com – Terkait dugaan pencabulan yang dilakukan salah satu bos media cetak di Kendari AH (Inisial), ahli hukum pidana Oheo Kaimuddin Haris menilai, kasus itu sudah sangat layak ditingkatkan ke penyidikan.

Dalam kasus pelecehan seksual yang dilakukan AH terhadap mantan karyawannya S (inisial), saat ini sudah ditangani Polda Sultra. Namun, sejak dilaporkan bulan Februari 2018 lalu, penyidik belum juga menetapkan AH sebagai tersangka.

-Advertise-

Menurut dosen Fakultas Hukum Universitas Halu Oleo Kendari itu, perbuatan pelecehan seksual itu konteksnya berbeda pidana lainnya, namun memiliki tujuannya sama.

Perbuatan pelecehan seksual, lanjut dia, diatur dalam Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP) pasal 294 ayat 2 yang berbunyi pejabat yang melakukan perbuatan cabul dengan orang yang dibawahnya atau orang yang dipercayakan atau diserakan padanya.

Menurut teori, terang Oheo, harus diketahui lebih dahulu apakah hal itu merupakan peristiwa hukum atau tidak. Jika masuk dalam peistiwa hukum, maka merupakan perbuatan pidana dan dilanjutkan pada konteks penyelidikan.

“Maka disitu dilihatlah bukti-bukti, periksa saksi-saksi, dan juga keterangan ahli. Kalau semua terkumpul maka penyidik dengan mudah menemukan siapa pelakunya, dan muda-mudahan penyidik bekerja dan cepat menemukan pelakunya,” kata Oheo di ruang kerjanya, Kamis 13 September 2018.

“Jadi tinggal bagaimana penyidiknya mengolah dengan mengumpulkan bukti-bukti yang sudah ada, dan sangat mudah menemukan pelakunya,” tambahnya.

Menurut dosen hukum Pasca Sarjana UHO ini menjelaskan, ada pembuktian terbalik jika peristiwa itu tidak ada orang lain yang melihat. Yakni meminta keterangan korban agar bisa objektif. Disitulah dilihat bahwa segala perbuatan seseorang itu dapat dikatakan melakukan perbuatan tindak pidana.

“Keterangan korban dan ahli dibutuhkan kalau tidak ada saksi yang melihat langsung kejadian,” jelasnya.

Baca Juga :  Polda Sultra Telaah Dugaan Korupsi Pengelolaan Obat di RSUD Kota Kendari

Ada dan tidaknya saksi yang melihat kejadian pelecehan seksual, jelas dia,
mengacu pada keputusan Mahkamah Konstitusi (MK) Nomor 65/PUU-VIII/2010 yang menyebutkan saksi orang yang dapat memberikan keterangan guna kepentingan penyidikan, penuntutan dan peradilan tentang suatu perkara pidana yang ia dengar sendiri, ia lihat sendiri dan ia alami sendiri.

“Seorang yang mendengar dan merasakan itu dapat menjadi saksi untuk mengungkap apa yang dia dengar dan dia rasakan dengan kejadian tersebut,” jelasnya.

Apabila dalam pelecehan seksual korbannya melebihi satu orang, sambung dia, kasusnya itu akan berbeda-beda

“Contoh, apabila korban ada dua sampai tiga orang pasti ada yang pernah melihat, mendengar. Diantara orang-orang ini harus ada yang menjadi saksi bahwa korban betul-betul dilecehkan,” jelasnya.

Lanjutnya, dalam perbuatan pidana itu, apakah pelaku ini betul-betul berkehendak atau berniat untuk melakukan pelecehan seksual serta diikuti dengan perbuatan. Dan dalam asas hukum pidana itu seseorang tidak dapat dipersalahkan apabila tidak bermaksud melakukan hal tersebut.

Maksudnya, pelaku pasti melakukan diawali dengan niat, apakah itu ingin mengoda, mencolek, bahkan bersiulpun sepanjang korban keberatan, ini masuk dalam konteks tindak pidana

“Perbuatan tindak pidana itu diawali dengan niat. Niat itu apakah sudah berkehendak atau tidak dan kalau sudah berkehendak berarti dia sudah paham bahkan dia sudah tahu sanksinya. Semua itu berawal dari niat pelaku dalam keadaan sadar,” jelasnya.

Kasus pelecehan seksual antara atasan dan bawahan pada hakikatnya diatur dengan pasal 294 ayat 2 KUHP dengan ancaman pidana penjara paling lama tujuh tahun.

Dalam kasus dugaan pelecehan seksual yang dilakukan AH, sejumlah saksi sudah diperiksa oleh penyidik Polda Sultra. Gelang korban yang patah akibat melawan perbuatan pelaku juga sudah disampaikan kepada penyidik.

Baca Juga :  Kubu Ali Mazi Klaim Golkar dan NasDem

Reporter: Haerun
Editor: Din

Silahkan berikan komentar
Like
Like Love Haha Wow Sad Angry

KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here