Mengenal Ritual Mombesara, Seremony Adat Tolaki Pengiring Duet KSK-GTS di Pelantikan

562
Ritual Mombesara dalam rangkaian pelantikan Bupati dan Wakil Bupati Konawe.

Kendari, Inilahsultra.com – Ritual Mombesara dipertontonkan masyarakat Konawe saat pelantikan Pasangan Kery S Konggoasa – Gusli T Sabara menjadi suguhan dan bisa dikatakan paling heboh usai pelantikan serentak dua kepala daerah Sultra oleh Gubernur Sultra, Ali Mazi.

Inilah ceremoni adat pertama menapaki detik perdana, Kery S Konggoasa – Gusli T Sabara kembali memegang estafet pemerintahan di Kabupaten Konawe. Prosesi ini dilangsungkan tak lama berselang Pelantikan Bupati/Wali Kota di Aula Bahteramas Kendari.

- Advertisement -

Sebuah tenda mini sengaja disiapkan di sayap kiri gedung pelantikan. Tempat ini kemudian menjadi ruang bagi proses Mombesara duo PAN pasca-menyandang status sah Bupati/Wakil Bupati Konawe periode 2018-2023.

Dahulu Adat Mombesara dalam tradisi suku Tolaki digelar khusus di kalangan raja-raja. Mendamaikan data biru yang bertikai. Menjadi ruang islah.

                       

“Mombesara juga dibuat untuk penyambutan tamu terhormat atau pemimpin. Termasuk Bupati. Ini agar tidak ada lagi persoalan konflik politik setelah Pilkada. Pemerinatah berjalan damai, sejuaj dan lancar. Semua selesai. Tidak ada dendam, kawan atau musuh wajib berdamai jika Kalosara sudah diserahkan,” terang, Camat Pondidaha Muh Nur.

Tak boleh lagi ada amarah jika Kalosara terhantar. Ada bala jika melanggar. Juga sanksi sosial.

“Sanksi sosial dari masyarakat misalkan akan terpinggirkan kalau aturan adat Kalosara dilanggar. Kalau dulu sangat takut, karena percaya ada semacam kutukan kalau tidak dipatuhi,” ucap Ginal Sambari, Anggota LAT Sultra yang juga Ketua Mahkamah Adat Suku Tolaki

Mombesara dalam bahasa Tolaki bermakna meletakkan adat atau menyuguhkan adat. Tradisi ini ditandai penyerahan Kalosara oleh Pabitara atau penghulu.

Begitu memasuki ruang adat Mombesara, Kery – Gusli dipersilahkan duduki menghadap Pabitara. Diantaranya ada meja. Dimana diatasnya digelar Kalosara. Kalosara adalah simbol adat paling disakralkan masyarakat Suku Tolaki.

Baca Juga :  Polsek Poasia Tangkap Suwono, Pencuri 40 Unit Motor di Kendari

Kalosara diartikan sebagai wadah adat.
Simbol adat yang tersaji terdiri dari kain putih, nyiru atau siwole uwa dan lingkaran terbuat dari rotan. Di dalam itu diletakkan daun sirih dan pinang.

Setelah pembacaan matra adat berbahasa Tolaki , paket Kalosara secara simbolis diserahkan pada dua pemegang nahkoda pemerintahan di Kabupaten Konawe, Kery S Konggoasa dan Gusli T Sabara.

“Simbol-simbol ini punya makna sakral kebersamaan dalam adat. Semua perselisihan di kampung diselesaikan dengan cara Kalosara,” ucap Ginal Sambari.

Tradisi Kalosara, kata Ginal sejatinya ada sejak Raja Wekoila. Mencapai Paripurna di dunia era Raja Tolaki bernama La Rebi atau yang digelari Tebawo.

“Di zaman Wekoila masih memakai media kuningan (Sarangga Laru) untuk gelaran simbol-simbol adat Kalosara. Barulah di zamannya Tebawo seperti sekarang ini simbol itu menjadi lebih lengkap. Raja Yang paripurna menguasai atau dalam tatanan pemerintahan di Konawe ,” jelasnya.

Konon tradisi ini bermula dari perseteruan dua anak raja di Konawe. Ialah Sorumba dan Buburanda. Mereka disebut memperebutkan wilayah kekuasaan di daratan Konawe.

Untuk mendamaikan keduanya, Raja Tebawo memanggil sang kakak, Lelesuwa. Jalan tengah, wilayah kekuasaan raja di bagi untuk dua putra mahkota tersebut.

Buburanda dititahkan memegang wilayah Latoma Tua. Sedang Sorumba wilayah Timur Konawe. Pusat kerajaan Konawe kala itu berada di Inolobunggadue.

Sebagai tanda islah atas pertikaian dua anak raja tersebut, dihelatlah ritual Mombesara. Ini ditandai dengan penyerahan Kalosara.

Beberapakali momen gelaran pengambilan sumpah jabatan Kepala Daerah di Kantor Gubernur Sultra, barulah pasangan Kery-Gusli perdana mempratekkan tradisi ini langsung di arena pelantikan.

“Kita sebagai agar budaya ini tetap dipertahankan. Tetap lestari. Tidak punah. Masyatakat luas pun bisa menyaksikan proses ini secara langsung ,” ujar Muh Nur.

Baca Juga :  Dihadapan KPK, Ruksamin Ungkit Utang Rp 2 Miliar Pemda Konawe

Tuntas dengan Ritual Mombasara atau Kalosara, Kery dan Gusli langsung diusung menggunakan Sisingaan. Mereka diarak ratusan masyarakat sepanjang jalan menuju mobil DT 1 A.

Tak pelak aksi tersebut mengundang riuh masyarakat yang hadir menyaksikan pelantikan. Banyak yang berlomba mengabadikan momen sakral ini.

 

“Bagian antusias masyarakat. Dari berbagai suku di Konawe datang. Tolaki, Jawa, Bali, Tator, Bugis, Muna dan Buton yang berdiam di Konawe itu bersemangat menyambut pemimpinnya yang dilantik. Kita berharap ini akan memberi energi baru bagi masyarajat Konawe. Pembangunan jauh lebih baik ditangan Pak Kery dan Pak Gusli,” cetus Muh Nur.

Penulis : Siti Marlina
Editor : La Ode Pandi Sartiman

Facebook Comments
Like
Like Love Haha Wow Sad Angry
loading...