Selama Tiga Tahun Warga Jalan Pasar Baru Kendari “Makan Debu”

Jalan Pasar Baru Kendari kondisinya rusak parah dan warga mengeluhkan banyaknya debu.

Kendari, Inilahsultra.com – Siang tadi, Rabu 26 September 2018, langit kendari begitu terik. Suasana menyengat. Kendaraan yang lalu lalang tanpa putus, membuat debu bertebaran sana sini.

Beberapa pengendara motor terlihat memegang setir hanya dengan satu tangan–Kanan. Sedang tangan kiri menutup rapat hidung dan mulut.

Debu yang melambung di udara, pun tak jarang membuat pengguna jalan merem. Apa lagi pengendara tanpa helem.

-Advertisement-

Tapi, ada juga pengendara yang sudah siaga sedari rumah. Mereka mengenakan masker. Namun, mereka tetap harus melambat dan hati-hati. Sebab, jalan tak hanya berdebu. Tapi juga berlubang.

Ilustrasi sekilas tentang para pengendara ini terjadi di Jalan MT Haryono Kelurahan Lalolara Kecamatan Kambu Kota Kendari.

Mengenakan masker sudah menjadi hal wajib bila melintas di jalan nasional itu. Begitu pula bagi warga di sekitar.

Perempuan yang menyebut diri Mamanya Dila (41) misalnya. Pemilik warung di pinggir jalan ini sehari-hari mengenakan masker.

Di warungnya pun, hampir semua barang jualan berselimut debu. Atapnya sudah jadi warna tanah. Meski begitu, ia juga masih bisa menjajakan kudapan.

Sejak 2015, perempuan dengan rambut sebahu ini berjualan di pinggir jalan di jalur Pasar Baru-Anduonohu.

Selama tiga tahun itu pula, ia menikmati debu yang bertebaran dari jalanan rusak tak kunjung tuntas itu.

“Saya di sini sejak 2015. Sejak itu jalan sudah begini (rusak, berdebu),” katanya.

Ia mengaku, warga sudah berkali-kali mengeluhkan masalah ini. Tapi, tiga tahun lamanya aspirasi itu tak kunjung dieksekusi.

“Kita sering mengeluh dan tidak juga direspon,” ujarnya.

Ia menyebut, jalan di sekitar tempat tinggalnya ini sudah tiga kali dilakukan pengerasan. Begitu juga dengan drainasenya.

“Kalau drainase sudah beberapa kali dibongkar. Jalan juga ini sekitar tiga kali dibikin begini,” katanya.

Usia jalan rusak yang sudah menembus tiga tahun ini juga tidak mendapatkan perhatian dari kontraktor.

Perusahaan yang mengerjakan jalan tersebut jarang melakukan penyiraman. Bahkan dalam tiga tahun bisa terhitung jari.

“Kadang mahasiswa yang minta uang di jalan untuk biaya penyiraman menggunakan air tower,” kata Taufik, warga lainnya.

Taufik menyebut, dampak dari kerusakan jalan ini ikut melumpuhkan perekonomian pedagang di sepanjang jalan tersebut.

“Pembeli enggan datang belanja karena takut terkena debu,” katanya.

Menurut Taufik, jika pada musim kemarau jalan tersebut dipastikan berdebu. Sebaliknya, di musim hujan, penyakitnya adalah kubangan yang kedalamannya sampai 30 sentimeter.

“Simalakama di sini. Kalau panas, kita harap hujan. Eh pas hujan, tergenang di sini,” imbuhnya.

Jalan Pasar Baru-Anduonohu Kendari panjangnya sekitar 100 meter. Pembangunan jalan tersebut merupakan kewenangan Balai Jalan dan Jembatan Wilayah IV Sulawesi Kementerian PU-PR.

Jalan ini juga satu ruas dengan jembatan Wanggu yang pembangunannya sempat mangkrak. Dibangun sejak 2015 dengan total anggaran Rp 45 miliar, jembatan tersebut belum kunjung tuntas hingga saat ini.

Penulis : La Ode Pandi Sartiman

Facebook Comments