Generasi Muda Banyak Tak Tahu Adat dan Budaya Muna

310
-Advertise-

Laworo, Inilasultra.com – Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Muna Barat (Mubar), Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra), berencana akan menyusun cetak biru (blue print) tentang adat dan budaya Suku Muna.

Cetak biru dimaksud adalah mendokumentasikan budaya dan adat Muna dalam bentuk buku.

-Advertise-

Kepala Disparbud Mubar, Abdul Nasir Kola menilai, penyusunan cetak biru adat dan budaya Muna sangat penting untuk dilakukan. Alasannya, dengan cetak biru, warisan mulia para leluhur tersebut akan tetap lestari.

“Masih banyak generasi muda hari ini yang belum tahu tradisi adat Muna, sehingga hal itu sangat mempengaruhi etika dan tatakrama mereka,” kata Nasir saat ditemui di kantornya, Kamis 4 Oktober 2018.

“Saat ini waktu yang tepat untuk penyusunan cetak biru itu. Karena tokoh-tokoh adat yang paham akan adat dan budaya masih ada,” tambahnya.

Menurut dia, untuk terwujudnya rencana tersebut, semua pihak yang mencintai adat dan budaya Muna harus duduk bersama untuk menyatukan pikiran.

“Jadi Itu langkah awal yang harus kita lakukan. Adanya kesamaan pandangan akan membantu proses penyelesaian cetak biru tadi. Selanjutnya membahas hal-hal tekhnis dengan melibatkan pihak yang kompeten,” katanya.

Ia mengatakan, bila hal ini dikawal dan dilakukan dengan niat tulus dan penuh kesungguhan, dalam jangka waktu tertentu, cetak biru ini dapat selesai.

“Setelah itu dipikirkan legalitasnya. Soal legalitas ini kita akan bentuk peraturan daerahnya,” terangnya.

Nasir mengaku, akhir-akhir ini budaya adat Muna semakin dilupakan seiring berjalannya waktu. Budaya Muna semakin tergerus dengan hal-hal yang berbau modernisasi.

“Anak-anak muda sudah jarang yang mempelajari tentang budaya Muna,” katanya.

Ia menjelaskan, masih banyak adat istiadat Muna yang penerapanya berbeda-beda. Seperti kangkilo (sunatan), katoba (peng-Islam-an), karia (pingitan), ka ga’a (perkawinan) dan yang lainya.

Baca Juga :  587 Pelajar Latihan di Markas Lanud HLO Kendari

Untuk itu dengan perbedaan itu nantinya semua tokoh pelaku yang paham adat bisa menyatukan pendapatnya dan dimuat dalam buku yang berbadan hukum yang jelas legalitasnya.

“Sehingga nanti kalau ada kendala dalam adat, tidak perlu lagi harus dibawa ke ranah hukum,” tuturnya.

Selama ini, lanjut dia, kasus yang terkait budaya adat Muna seperti pofuleigho (baku bawa lari) adalah kasus yang marak terjadi di Muna Barat.

Kasus seperti ini kebanyakan dibawa di ranah hukum karena delegasi dari perempuan selalu tidak menerima anak gadisnya dibawa lari.

“Kalau hukum adat itu ada, maka pasti akan diselesaikan sesua adat dan budaya yang berlaku,” jelas Nasir.

Nasir menuturkan jika cetak biru itu sudah jadi, dikemudian hari tidak ada lagi perbedaan pendapat soal adat dan budaya.

“Sebab kita sudah punya rujukan yang jelas. Jika ada masalah, kita kembali pada panduan yang sudah ada. Manfaat lain ialah akan menjamin kekayaan budaya kita tidak hilang digerus zaman. Selain itu, generasi penerus kita akan muda mempelajarinya dengan petunjuk dari tokoh-tokoh adat,” pungkasnya.

Penulis : Muh Nur Alim
Editor : La Ode Pandi Sartiman

Silahkan berikan komentar
Like
Like Love Haha Wow Sad Angry

KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here