Praktik Amputasi Beasiswa Mahasiswa Miskin di Universitas Halu Oleo

1742
Foto : Infokampusnews

Kendari, Inilahsultra.com – Beberapa perguruan tinggi negeri dan swasta, termasuk Universitas Halu Oleo (UHO) Kendari turut mendapat jatah alokasi beasiswa bidik misi dari pemerintah pusat sejak 2010 silam.

Program dari Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Menristek-Dikti) ini hadir untuk meringankan beban mahasiswa berpredikat miskin-berprestasi.

- Advertisement -

Namun, transparansi pengelolaan beasiswa bidik misi di Universitas Halu Oleo perlu dikuak ke publik karena banyak ditemukan pengamputasian hak mahasiswa miskin.

Inilahsultra.com mencoba menelusuri pelbagai kejanggalan dalam pengelolaan bidik misi ini.

Dari data yang diperoleh, praktik potong memotong dan komersialisasi uang bidik misi mahasiswa dimulai sejak Fitriaman.

Saat itu, Fitriaman dipercayakan oleh Rektor UHO Usman Rianse menjadi pimpinan pengelola Bidik Misi.

Beberapa alumni termasuk mahasiswa aktif yang diwawancarai Inilahsultra.com menemukan banyak fakta dugaan ketidaktransparan pengelolaan beasiswa ini.

Mahasiswa pun takut untuk melawan. Sebab, khawatirnya “ditendang” sebagai penerima beasiswa.

Herwanto misalnya. Ia tinggal selama setahun di Asrama Ibnu Sina, gedung milik kampus.

Alumni penerima beasiswa bidik misi pada 2011 ini menyebut, total beasiswa yang diketahuinya sebanyak Rp 6 juta persemester.

Namun, uang itu harus dipotong beberapa kebutuhan mahasiswa yang telah dipatok oleh pengelola. Itu, di luar SPP sebanyak Rp 600 ribu persemester.

Bila sudah dikurangi uang semester, maka harusnya uang di tangan mereka tersisa Rp 5,4 juta.

Tapi faktanya tidak demikian. Uang yang sampai ke mereka tinggal Rp 2,5 juta. Kemana yang lainnya?

“Katanya untuk biaya katering, galon dan londry. Kita juga tidak diperlihatkan struk pembayarannya,” beber Herwanto.

Baik, katering, galon dan londry, kata Herwanto, telah disiapkan oleh pengelola. Mahasiswa hanya tinggal belajar saja.

“Semua pengelola yang urus. Kita tidak tahu juga berapa sebenarnya uang makan (katering), galon dan londry. Tahunya kita hanya terima Rp 2,5 juta,” bebernya.

Herwanto menyebut, mahasiswa mendapatkan jatah makan dua kali sehari, pagi dan malam. Jenis makanannya berupa nasi, sayur dan ikan.

“Kalau air galon kadang tidak menentu pemberian dalam satu bulan,” bebernya.

Herwanto sebenarnya merasa keberatan dengan potongan itu. Apa salahnya mereka urus sendiri makanan dan mencuci pakaian. Tapi, karena takut, mau tidak mau menerima keputusan pengelola yang jelas membatasi mereka.

“Kalau untuk potongan uang semester itu kita paham, tapi potongan-potongan lain ini kita tidak tau, mau tanyakan pada saat itu kita takut, akhirnya kita terima saja yang ada,” jelasnya.

 

Hanya Nikmati Rp 340 Ribu

Hal yang mengejutkan lainnya adalah pemotongan uang bidik misi mahasiswa hampir secara keseluruhan. Mahasiswa hanya menerima Rp 340 ribu dari total beasiswa Rp 6 juta.

Kalimat di muka itu diceritakan oleh Tasa Agustina, alumni penerima beasiswa bidik misi 2014.

Ia mengaku, tinggal di luar kampus. Namun, pengelola bidik misi telah beralih dari Fitriaman ke Muamal Gadafi.

Meski tinggal di luar kampus, mereka tak lepas dari bancakan proyek pengelola.

Baca Juga :  Indeks Kemerdekaan Pers di Sultra Kategori Sedang

Ia menyebut beberapa potongan yang dilakukan pengelola terhadap beasiswa miliknya.

Khusus potongan biaya SPP senilai Rp 2,4 juta ia tak soalkan. Termasuk uang asrama Rp 1,2 juta.

Namun, yang dikeluhkannya adalah uang katering yang juga masih diatur pengelola. Totalnya dalam satu semester, dipotong dari beasiswa mereka sebanyak Rp 1,7 untuk katering dan uang galon Rp 360 ribu.

“Sisanya semua dari potongan, kita hanya terima itu Rp 340.000,” katanya belum lama ini.

Ia mengaku, alasan pengelola pada saat itu agar mahasiswa tidak dipusingkan atau direpotkan lagi dengan urusan lain.

“Asrama milik dosen, tapi kalau galon dan katering kita tidak tahu dari siapa, tapi pada saat itu kita diwajibkan untuk membayar uang katering dan uang galon kepada pengelola bidik misi di asrama putra dalam kampus,” ungkapnya.

Ia menyebut, pernah menemukan kejanggalan dalam pengelolaan. Saat uang masuk dalam rekeningnya, tiba-tiba jumlahnya langsung terpotong.

Ia pun tak tahu siapa yang melakukan pemotongan sepihak dari hak mereka itu.

“Ada yang terpotong Rp 300.000, Rp 600.000, Rp 800.000 bahkan ada yang sampai Rp 1.200.000, tidak ditahu siapa yang mengambil uang tersebut,” ujarnya.

Hal itu, kata dia, sempat dipertanyakan kepada pengelola. Namun, mereka hanya diminta untuk menghadap ke Bank Tabungan Negara (BTN).

“Kita menghadap di BTN dan di asrama putra tapi tidak ada juga kejelasan,” katanya.

Ia menduga, pihak pengelola mengetahui nomor pin ATM mahasiswa bidik misi.

“Tapi pas kita tanyakan uang yang terpotong di ATM, mereka tidak tahu,” ungkapnya.

Berbeda dengan dua pengelola sebelumnnya, penerima beasiswa bidik misi untuk 2017 jauh lebih baik tanpa ada potongan berlebihan.

Mahasiswa bidik misi angkatan 2017 berinisial R menyebut, dalam setiap semester ia menerima Rp 3,9 juta.

Angka ini sudah di luar biaya SPP sebanyak Rp 2,4 juta.

“Kalau SPP sudah dipotong dan kita terima bersih Rp 3,9 juta,” jelasnya.

Ia juga mengaku tidak mendapatkan informasi adanya potongan beasiswanya.

“Kita tidak tahu ada potongan untuk asrama atau tidak, tapi informasi kita dapat untuk angkatan 2017 sudah dihilangkan itu potongan-potongan alasan kita dengar mahasiswa merasa dirugikan dengan hal itu,” jelasnya.

Begitu pula potongan katering dan galon juga telah dihilangkan oleh pengelola.

“Sekarang itu kita sendiri yang tanggung makan, minum, bahkan kita cuci sendiri pakaian waktu tinggal di asrama dalam kampus,” jelasnya.

 

Potongan Dihentikan

Di era Prof Muh Zamrun Firihu sebagai Rektor UHO, pengelolaan beasiswa bidik misi sudah mulai berubah. Pelbagai potongan ia hentikan.

Ketua Pengelola Asrama Bidik Misi Pendais Haq mengatakan, dirinya menjadi ketua pengelolah Bidik misi mulai September 2017.

Banyak kebijakan pengelolaan bidik misi yang telah dihilangkan seperti katering, uang galon dan londri.

“Sejak saya menjadi ketua bidik misi mulai tahun lalu itu Pak Rektor Prof Muhammad Zamrun menghilangkan semua kebijakan terkait potongan itu. Kami tidak punya kewenangan untuk mengatur potongan-potongan yang sudah lama berlaku,” kata Ketua Asrama bidik misi Pendais Haq saat ditemui di ruangnnya, Senin 8 Oktober 2018.

Baca Juga :  LBH Kendari Sarankan Pembangunan Rusunawa di UHO Ditunda

Ia tidak menampik, era sebelum dia, banyak potongan yang dilakukan pengelola. Seperti yang diungkapkan beberapa alumni di muka tulisan.

Bahkan, sambungnya, kasus ini sempat diselidiki Polda Sultra dengan salah satu temuannya adanya rekening penampung uang potongan bidik misi.

“Sebelumnya itu beasiswa mahasiswa dicairkan dari pusat, masuk dulu dalam rekening penampung pengelolah bidik misi, setelah dipotong untuk uang asrama, katering, galon, dan londri baru bisa disalurkan kepada masing-masing rekening mahasiswa. Tapi saat ini telah dihilangkan,” jelasnya.

Alasan dihilangkan seluruh potongan itu karena akumulasi dari masalah-masalah yang lalu. Setelah dilakukan evaluasi, banyak masukan dan keluhan dari mahasiswa terkait potongan-potongan tersebut.

“Katering makanannya ada yang bagus dan ada yang basi, air galon bersih dan kotor bahkan tidak ada bukti pembayaran semua potongan tersebut,” ungkapnya.

Mulai angkatan 2017, ungkap Dosen FKIP ini, proses pencarian beasiswa bidik misi dilakukan langsung oleh Kemenristek-Dikti melalui bank yang dikerjasamakan.

Pencairannya itu dilakukan dalam dua arah. Pertama masuk di rekening UHO Rp 2.400.000 untuk UKT mahasiswa dalam satu semester. Kedua masuk di rekening mahasiswa bidik misi Rp 3.900.000.

“Inilah yang diterima bersih mahasiswa persemester dan total keseluruhan uang bidikmisi Rp 6.300.000. Kadang kita, pengelola asrama tidak tahu kalau uang bidik misi sudah cair, kita hanya mendapat informasi sama penerima bidik misi melalui pesan SMS dan WhatssApp,” jelasnya.

 

Jadi Lahan Bisnis Oknum Dosen

Adanya beasiswa bidik misi dimanfaatkan oleh beberapa oknum dosen untuk jadi lahan bisnis baru. Ini terjadi di perode pengelola 2010 hingga saat ini.

Sejak diprogramkan pemerintah 2010 lalu, beasiswa ini menjadi sumber bisnis menggiurkan. Dalam data yang diperoleh Inilahsultra.com, beberapa oknum dosen tercatat membangun kamar kontrakan untuk mahasiswa penerima beasiswa bidik misi.

Memang, tak ada yang salah bila dosen untuk berbisnis. Namun, informasi yang diperoleh dari beberapa alumni, rumah kos mereka telah ditentukan. Salah satunya di indekos milik dosen.

“Kita sudah ditentukan rumah kos mana. Di situ juga sudah disiapkan katering dan galon. Termasuk londri,” kata seorang alumni yang tak mau disebutkan namanya.

Menurut Pendais Haq, tidak masalah jika dosen atau pejabat UHO bisnis asrama.

“Tidak ada masalah, selama asrama tersebut memenuhi syarat seperti dekat dengan kampus, bagus fasilitasnya, mahasiswa merasa nyaman, dan pemilik kos bisa memberikan pembinaan,” kata Pendais.

Namun demikian, adanya dosen yang memiliki kampus ini membuat pengelola saat ini bimbang. Sebab, dikhawatirkan ada konflik kepentingan yang terjadi.

“Semua itu saya serakan sama Pak Rektor sebagai atasan saya, jadi yang putuskan Pak Rektor lah yang menentukan asrama mana yang dipilih dengan harganya tidak tinggi. Saya sama sekali tidak terlibat dengan asrama luar ini,” jelasnya.

Baca Juga :  Merawat Asa di Tengah Bencana Banjir Konawe Utara

Pernyataan Pendais ini sejalan dengan keterangan beberapa alumni mahasiswa penerima beasiswa bidik misi.

Usman misalnya. Ia mengaku, setelah satu tahun tinggal di dalam kampus, mereka pindah untuk mencari asrama di luar kampus.

Namun, asrama-asrama tersebut telah ditentukan oleh pengelola. Hal ini pun diduga ada permainan nepotisme antara pengelola dan pemilik rumah kos yang tak lain adalah dosen.

“Saat itu juga masih berlaku londri dan katering,” jelasnya.

Namun, untuk angkatan 2017, yang telah dikeluarkan di asrama dalam kampus sudah diberi kebebasan untuk memilih sendiri asrama di luar kampus.

“Kami keluar dari asrama dalam terserah kami tinggal di mana karena kami sendiri yang tentukan tempat tinggal,” ujar mahasiswa berinisal R.

Khusus asrama di dalam kampus, mahasiswa bidik misi masih mendapatkan potongan dari pengelola.

Hal ini pun diakui oleh Pendais. Dalam sebulan, setiap mahasiswa dianjurkan untuk membayar Rp 100 ribu dan dimasukkan dalam rekening UHO.

“Asrama dalam itu sebanyak 200 orang angkatan 2017, dan kita kumpulkan 100 ribu permahasiswa dalam sebulan. Jadi dalam satu semester kita setor ratusan juta rupiah sama bendahara pemasukan UHO pak Wayan,” kata Pendais.

Asrama dalam kampus ini merupakan program langsung pemerintah pusat dan tidak seharusnya mahasiswa dikenakan pembayaran untuk tinggal di asrama tersebut.

Namun menurut Pendais, itu merupakan kebijakan pimpinan kampus.

“Ini merupakan kebijakan pimpinan saat ini Pak Zamrun selaku Rektor UHO, mungkin uang itu untuk biaya renovasi atau pemeliharaan gedung,” tutupnya.

 

Tanggapan Fitriaman

Dikonfirmasi kepada mantan Kepala pengelolah Asrama Bidikmisi UHO Fitriaman, terkait potongan-potongan beasiswa bidik misi mahasiswa. Ia mengatakan, semua kebijakan dan aturan di asrama dan beasiswa bidik misi telah berdasarkan aturan yang berlaku secara institusional.

“Tidak ada itu potongan beasiswa bidik misi UHO, karena beasiswa bidik misi itu adalah beasiswa pusat dari Dikti Jakarta langsung ke rekening masing-masing mahasiswa, tanpa potongan 1 rupiah pun,” kata Fitriaman dikonfirmasi melalui pesan WhatsAppnya.

Kemudian terkait potongan uang bidik misi mahasiswa yang diperuntuhkan pada saat itu untuk pembayaran katering, galon, dan londri, kata Fitriaman, itu merupakan aturan kehidupan di dalam asrama yang diterapkan sejak tahun 2010.

Karena di dalam asrama terdapat program wajib pembinaan asrama, serta aturan makan pagi dan malam bersama.

“Terkait pembayaran, ya itu kewajiban mereka, karena pada saat itu semua ada manual mutu panduan kehidupan di asrama,” tutupnya.

Data jumlah kuota penerima beasiswa bidik misi UHO sejak 2010-2018 yang diperoleh di Kemenristek-Dikti

Tahun    Kuota
2010       173

2011       400

2012       600

2013       932

2014       2.163

2015       2.350

2016       2.557

2017       1.300

2018       925

Penulis : Haerun
Editor : La Ode Pandi Sartiman

Facebook Comments
Like
Like Love Haha Wow Sad Angry
1

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here