Menguak Aktor Politik Uang

319
Deki Perdana

Seringkali kita banyak bicara perihal politik. Tapi lupa, bicara substansi jalanya proses pemilu yg bersih, dari perilaku kotor yang membunuh nilai demokrasi, politik uang misalnya.

- Advertisement -

Dalam kurun beberapa bulan kedepan, negeri ini memasuki tahun sibuk bagi pegiat politik tanah air. Sebagai bangsa penganut paham demokrasi, pemilu merupakan hajatan paling fantastis untuk memilih pemimpin dan wakil rakyat.

Kita berharap wakil rakyat benar-benar merakyat dan terbukti nyata dengan kerjanya. Bukan wakil rakyat yang tidak hanya hadir musiman ketika kampanye tiba.

Aroma kesibukan mulai nampak media-media sosial hingga diskusi di forum-forum ilmiah, sampai melebar ke warung-warung kopi hingga jalan raya.

Politik memang selalu menarik untuk didiskusikan, semua kalangan selalu membicarakanya. Tak heran, di ruang apapun, politik selalu menjadi topic viral disetiap obrolan-obrolan melepas penat sembari menyeruput kopi hitam.

Maka lebih elok, diskusi yang di bangun adalah hal-hal substansi tentang kemajuan. Diskusi-diskusi cerdas seperti yang dibangun oleh Syahrir, Hatta, Kartosuwirjo dan Semaun. Bukan fitnah yang mendiskreditkan antar sesama.

Ragam fenomena nampak disekitar kita, bahwa pemilu selalu melahirkan perseteruan yang kian mengoyak persaudaran. Perbedaan pilihan memunculkan sikap untuk saling menjatuhkan antar sesama.

Hijrah ke panggung politik memang terbilang dramatis. Menjalankan tradisi yang tak biasa dilakoni, apalagi jika hanya sampai setengah hati, itu bisa berujung tragedi. Maka tak heran cara apapun ditempuh sebagai “kendaran” untuk menjalankan misi. Fitnah dan politik uang misalnya.

Fitnah memang menjadi jualan yang sering kali menjatuhkan. Tapi kita tidak pernah memikirkan pemilu yang jujur dan demokratis tanpa ada “tangan-tangan kotor” yang menodainya. Politik uangpun tak kalah jahatnya.

Dalam kepemiluan, kita dipertontonkan oleh aktor dengan akrobatik politik uang yang menghiasi wajah lingkungan kita. Seperti kata Nifengger (1998) dalam artikelnya, aktor politik uang memainkan transaksi bisnis suara dalam pemilu.

Baca Juga :  Pelajaran Kasus Nur Alam dan Aswad Sulaiman di Hari Anti-Korupsi se-Dunia

Lihatlah aktor-aktor bergerilya pada Pilkada lalu, atau lebih kecilnya dalam lingkup Pilkades. Semua nampak terang. Bahkan jadi obrolan orang-orang. Sayangnya tak banyak yang peduli mengungkap, siapa aktor “bos besar” di balik transaksi-transaksi haram ini.

Dalam demokrasi, politik uang adalah mesin pembunuh kedaulatan rakyat. Rakyat diperhadapkan dengan realitas semu, antara mana yg benar-benar mengabdi atau sekedar gagah-gagahan tampil. Semua serba samar. Aktor politik uang bermain di area ini untuk menggaet pemilih, karna ketidakmampuan “brandnya” meraih simpati publik.

Politik uang seringkali jadi “game” yang dipertontonkan oleh aktor. Bahkan menjadi semacam kebiasaan tanpa dosa. Padahal dampaknya luar biasa, mengoyak persatuan dan membunuh jiwa demokrasi.

Pileg 2019 tak lama lagi. Gerak yang tak hanya bisa dianalisis, apalagi hanya sebatas prediksi lewat area teritorial orasi, maka jalan setanpun ditempuh. Fitnah dan politik uang lagi-lagi jadi jajanan.

Panggung politik memang terbilang kejam, ada seribu macam karakter manusia yang tak bisa disogok lewat nyanyian. Ada ribuan mantra tak terlihat bertarung mengamankan bongkahan kepentingan. Tak heran politik uang jadi jurus jajanan mencari suara. Kotor dan liciknya.

Ekspresi jurus andalan ini bentuk dari kekhawatiran kian menjadi tontonan, bagamana ketidakmampuan mental pemikiran meyakinkan masyarakat untuk melahirkan perubahan baru di tengah-tengah sendi kehidupan. Hingga tak ada cara lain selain fitnah, intimidasi dan lagi-lagi politik uang.

Pada persimpangan ini, masihkah kita terbuai dengan jualan-jualan demikian? Menggadaikan harga diri demi uang? Bagi yang memiliki kehormatan, tentu tidak. Semua tergangtung anda. Tiap-tiap orang memiliki kehormatan, tapi tidak semua orang menjaga kehormatanya.

Siapa aktor tersebut? Cukup sebut namanya dalam hati saja. Karna kita tidak cukup kuat untuk mengadu.***

Baca Juga :  Wa Ode Dai, Janda Tangguh "Malaikat" Saddil Ramdani

Penulis  : Deki Perdana (Mahasiswa Pascasarjana UGM)

Facebook Comments
Like
Like Love Haha Wow Sad Angry
51

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here