Pesta Adat Takimpo : Warisan Kuno Leluhur Buton, Kemeriahannya Kalahkan Momen Lebaran

381
Makan bersama dalam pesta adat Takimpo.
-Advertise-

Kendari, Inilahsultra.com – Di Indonesia yang mayoritas berpenduduk muslim, hari lebaran menjadi momen pesta tahunan teramai sepanjang tahun. Namun tidak demikian, ketika berkunjung di Desa Takimpo Kecamatan Pasar Wajo Kabupaten Buton.

Daerah kepulauan Sulawesi Tenggara ini memiliki ritual spesial yang kemeriahannya mengalahkan momen lebaran. Ialah Tradisi Adat Pikulaliwua Takimpo Lipuogena atau lazim disebut Pesta Adat Takimpo.

-Advertise-

Oleh masyarakat Takimpo, penyelenggaraannya selalu ditunggu. Suka cita menyambut pesta adat ini menjadi momen euforia paling dinanti seluruh lapisan masyarakat Kabupaten Buton.

Gubernur Sultra, Ali Mazi dan beberapa kepala daerah Kepulauan Buton yang hadir saat gelaram Pesta Adat Takimpo.

Bagaimana tidak, pesta Adat Takimpo laiknya pesta rakyat. Menjadi kancah perekat silahturahmi antar-suku-suku di Desa Takimpo. Sekaligus ajang memanjakan lidah dengan aneka kuliner khas Buton selama seharian penuh.

Pada perayaan itu masyarakat atau tetamu dimanjakan aneka makanan tradisional khas Buton yang tersaji dalam dulang. Sejak dimulainya ritual malam hingga pagi masyarakat di Desa Takimpo sudah siapkan dengan ratusan bahkan ribuan dulang.

Ada yang sengaja diantar ke Baruga atau rumah adat pusat ritual adat Lipuogena. Ada pula yang didiamkan di rumah persiapan menjamu siapa saja yang bertandang hari itu.

Pada ritual tersebut, empunya rumah merasa wajib melayani tetangga atau siapa saja yang bersilahturahmi dengan makanan tradisional terbaik dan terenak.

Semua masyarakat berlomba menyiapkan dulang atau biasa disebut tudung saji pada perayaan Pesta Adat Takimpo. Isinya tentu adalah beragam makanan tradisional khas Buton. Seperti ayam nasu wolio, lapa-lapa, wajik, cucur, tuli-tuli hingga telur rebus.

Para Janda Dijamu Secara Spesial

Pesta Adat Takimpo dipusatkan di Baruga atau rumah adat di Desa Takimpo Kecamatan Pasar Wajo Kabupaten Buton. Penyelenggaraannya sejatinya sedikit mirip dengan Pesta Adat Pekande-Kandea.

Bedanya, Pesta Adat Takimpo prosesi makan bersama digelar bertahap. Ada ritual tari-tarian yang khusus ditampilkan oleh sekitar empat atau lima orang yang dilakonkan oleh orang tua adat pria. Lengkap dengan seragam adat tenun Buton. Diiringi tabuhan alat musik tradisional, mereka berputar mengitari bosara atau tudung saji. Dimana di situ ada parabela duduk bersila memakai pakaian adat Buton menjaga bosara yang disusun rapi.

Baca Juga :  Pelaksanaan MTQ Sultra di Bebeberapa Tempat Lomba Berjalan Lancar
Kaum janda di Desa Takimpo dipersilahkan memilih makanan dalam dulang untuk dibawa pulang.

Setelah ritual adat pertama tuntas, ratusan pemuda yang telah menanti di luar rumah adat dipersilakan masuk. Mereka duduk bersila menghadap para bela yang diantarai oleh dulang makanan. Para pemuda ini pun dipersilakan menikmati seluruh sajian yang terdapat dalam bosara sebelum akhirnya meninggalkan rumah adat.

Usai menjamu kaum muda, sesi kedua diperuntukkan bagi para janda yang terdapat di Kampung Takimpo. Mereka mendapat penghormatan khusus pada Pesta Adat Takimpo.

Para janda dikumpul dan dipersilahkan memilih dan membawa pulang makanan apapun yang terdapat dalam bosara.

Sementara ritual makan ini berlangsung di luar arena pusat ritual Pesta Adat Takimpo, ratusan dulang disiapkan masyarakat setempat di salah satu sisi rumah adat. Di situ, siapapun bebas menikmati aneka kuliner khas Pulau Buton hingga sehari penuh.

Sepanjang acara, masyarakat nonstop hilir mudik membawa dulang ke pusat penyenggaraan Pesta Adat Takimpo. Mereka memastikan masyarakat atau tamu yang hadir dalam ritual Adat Takimpo terlayani dengan baik.

Para tetamu ikut menikmati makanan yang disajikan di dulang dalam pesta adat Takimpo.

Hanya ada di Kampung Takimpo dan Pasarwajo

Hanya dua desa yang diketahui turun temurun menyelenggarakan Pesta Adat Lipuogena. Takimpo dan Pasarwajo.

Setiap tahun penyelenggraan ritual Adat Lipuogena menjadi bagian tradisi atau kearifan lokal Masyarakat Takimpo dan Pasarwajo.

Penyelenggaraannya hanya sekali dalam setahun. Hari pelaksanaannya merunut penanggalan yang telah disepakati oleh parabela atau komunitas adat Buton.

Tahun ini, gelarannya dipusatkan di Desa Takimpo yang mana dihadiri lengkap oleh Gubernur Sultra, Ali Mazi dan seluruh kepala daerah di Kepulauan Buton. Inilah mengapa disebut sebagai pesta Adat Takimpo.

Para kepala daerah yang hadir antara lain Bupati Buton, La Bakry, Wakil Wali Kota Baubau, La Ode Ahmad Monianse, Bupati Buton Tengah, Samahuddin dan Plt Bupati Buton, La Ode Arusani.

Tahun depan adalah giliran Pasarwajo yang menjadi sentra utama perayaan meriah ritual Adat Lipuogena atau disebut Pesta Adat Pasarwajo.

“Tiap tahun satu kali. Kalau tahun ini Takimpo yang ramai, tahun depan gantian Pasarwajo yang pasti ramai,” urai salah seorang tokoh adat yang hadir dalam Pesta Adat Takimpo, Rabu 28 November 2018.

Baca Juga :  Kendari Diguncang Gempa Bumi, Warga Panik
Sebelum Pesta Adat Takimpo dimulai beberapa tokoh adat tampil menari sambil mengitari dulang makanan di dalam Baruga Takimpo.

Warisan Leluhur Sejak 800 Tahun Silam

Pesta Adat Pikulaliwua Takimpo Lipuogena konon sudah digelar oleh parabela, leluhur masyarakat adat Buton kuno sejak 800 tahun silam. Pesta adat Lipuogena bermakna Perkumpulan Kampung besar.

Pesta adat ini menjadi tonggak persatuan sembilan suku di perkampungan Buton. Persisnya yang berdiam di Kampung Takimpo dan Pasarwajo.

Itulah mengapa hanya dua daerah ini di daratan Buton yang spesial menggelar
pesta adat Lipuogena. Masing masing dinamai Pesta Adat Takimpo dan Pesta Adat Pasarwajo, merujuk nama tempat pelaksanaan. Dimana ritual tahapannya nyaris sama. Intinya menjadi ajang pesta kuliner rakyat bagi masyarakat setempat.

Konon bersatunya sembilan suku di Kampung Takimpo dan Pasarwajo mendorong perkembangan pesat peradaban di jazirah Buton. Hal ini ditandai dengan terbentuknya majelis sara, parabela hingga struktur pemerintahan berupa kesultanan yang lebih dinamis di Kepulauan Buton.

Persatuan tersebut turut mempengaruhi cara pandang masyarakat, pola bercocok tanam, etika sampai pola pertahanan diri dari hewan maupun musuh.

Masyarakat Takimpo kala itu paham bagaimana strategi melindungi diri dari musuh hingga membangun benteng pertahanan sebagai tameng. Itulah mengapa cukup banyak benteng kokoh berdiri di jazirah Buton.

Kearifan lokal berupa tradisi, budaya dan ritual dijaga keasliannya oleh parabela dan majelis sara hingga saat ini. Begitu juga masyarakat Buton.

Jejak peradaban yang masih bisa dilihat dan menjadi situs sejarah kuno adalah Benteng Takimpo. Benteng ini telah dipugar menjadi asset kebudayaan dimiliki Kabupaten Buton.

Dikisahkan, pula lahir sosok tokoh wanita pertama yang berhasil membangun benteng di Jazirah Buton bernama Wa Lindi.

Gubernur Sultra, Ali Mazi berharap nilai-nilai budaya, tradisi budaya, asset sejarah Buton tersebut tetap terjaga dan dilestarikan oleh generasi muda saat ini. (Adv)

Penulis : Siti Marlina
Editor : La Ode Pandi Sartiman

Silahkan berikan komentar
Like
Like Love Haha Wow Sad Angry
1

KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here