“Menggugat Ketidakadilan Pers” dalam Kasus VA

1021

 

Oleh Emmy Astuti

- Advertisement -

“Celana Dalam Vanessa Angel Warna Ungu Disita Polisi untuk Barang Bukti”.-Kutipan judul berita dari TribunNews. “Celana Dalam Ungu Vanessa Angel jadi Barang Bukti”.-Kutipan judul berita jppn.com. “Digrebek di Surabaya, Celana Dalam Hingga Ponsel Vanessa Angel Disita Polisi”.-Kutipan judul berita dari Kapanlagi.com. “Kondom Hingga Celana Dalam Milik Vanessa Angel Disita Polisi”.-Kutipan judul berita News.Okezone.com

Keseluruhan kutipan judul berita diatas, seakan publik pembaca digiring untuk berpikir cabul, negatif, nakal hingga pornois. Bahkan, tidak dinyana, efek psikis pembaca bisa berangan-angan atau keinginan seseorang untuk melampiaskan nafsu seksualnya kepada perempuan pecinta seni peran (artis).

Pemilihan diksi dalam merangkai judul berita itu pun, tak lain hanya sekadar bombastis guna menarik minat pembaca namun mengesampingkan nilai edukasi publik.

                       

Efek yang timbul dari pemberitaan ini pula, sebahagian masyarakat Indonesia lebih cenderung melahirkan candaan tidak senonoh yang mengarah ke pelecehan seksual dan perendahan diri seseorang di media sosial. Misalnya, berseliweran foto-foto VA dalam berbagai pose sexy, berbikini, telanjang, yang semakin menguatkan VA sebagai perempuan yang wajar diperlakukan seperti itu. Lalu muncul pula meme gambar Kue Donat dipegang kedua artis lalu ditambahi narasi “Mengapa Lebih Mahal VA ketimbang AS?”.

Dari ini semua, penulis menganalisis, pendidikan publik seperti apa yang diinginkan media massa kita? Yang notabene memiliki fungsi edukasi?. Apakah public ingin diarahkan pada pikiran negatif, nakal, cabul melalui seorang perempuan seni peran (artis) kelahiran 1991 yang juga memiliki adik, kakak, bahkan orangtua (keluarga) yang berhak terhadap kehidupan yang lebih baik kedepannya?

Baca Juga :  Sekda Jabatan Karier Bukan Jabatan Politik.

Dari konteks Etika Pers, Undang-Undang Pokok Pers nomor 40 tahun 1999, pasal 4 menjelaskan “Wartawan Indonesia tidak membuat berita bohong, fitnah, sadis dan cabul”. Penafsirannya, lebih lanjut dijelaskan kata “Cabul” dijelaskan dalam Kode Etik Jurnalistik adalah penggambaran tingkah laku secara erotis dengan foto, gambar, suara, grafis atau tulisan yang semata-mata membangkitkan nafsu birahi.

Sulit rasanya untuk menyangkal, bahwa pemilihan judul berita “Celana Dalam Warna Ungu”, tidak memiliki makna dan tujuan membangkitkan nafsu birahi. Lebih dari itu, adalah melecehkan perempuan. Belum lagi unsur fitnah mendera VA dikontruksikan berita diatas, dengan menjustifikasi VA seakan pelaku. “Trial by The Press” (Pembunuhan karakter oleh pewarta). Padahal media pers bukanlah tempat pengadil.

Dari segi perspektif gender, berita diatas itu sedang menstreotypekan (melabelkan) perempuan sebagai objek seks dan pengumbar nafsu. Ketika perempuan yang dianggap berbeda dan bertentangan dengan stigma “Perempuan baik-baik” maka dianggap wajar untuk diperlakukan semena-mena/dieksploitasi.

Coba bandingkan dengan sebahagian media massa di Indonesia yang memberitakan kasus yang sama tetapi memberi judul berita yang seperti ini, “2 Mucikari Prostitusi Online yang Libatkan Vanessa Angel Ditahan”.-Kutipan judul berita Tempo.com. “Pemesan Vanessa Angel Pengusaha asal Lumajang Usia 45 Tahun”.-Kutipan judul berita CNN.com.

Dua kutipan judul dari Tempo.com dan CNN.com seakan mengedukasi pembaca berita dengan adanya sistem pelacuran berbasis informasi teknologi (IT). Juga pelaku yang menggunakan jasa VA, dan tidak hanya mengekploitasi diri perempuan VA. Jika pelakunya seorang lelaki berkeluarga, tentu menjadi ancaman pidana hukum bisa mendera keduanya, jika ada yang melaporkan.

Masyarakat perlu dididik oleh berita yang mengulas tuntas tentang Jaringan Prostitusi Online di Indonesia, misalnya. Bagaimana sesungguhnya kebijakan Prostitusi Online ini? Dan lain sebagainya.

Baca Juga :  Guru dan Kemajuan Suatu Bangsa

Jurnalis dan Media yang memiliki komitmen bekerja untuk kepentingan public seharusnya tidak terjebak dalam pemberitaan sensasional semata, ekspolitatif, dan mengandung unsur ketidakadilan. Melainkan berkontribusi pada perubahan sosial yang lebih egaliter, bermartabat dan beretika. Produk karya jurnalistik yang dihasilkan harus mampu membentuk nilai positif dan optimis didalam masyarakat agar menjadikan tatanan hidup lebih baik dan berkeadilan, khususnya bagi kelompok-kelompok rentan seperti perempuan dan anak.

Penulis adalah Praktisi Komunikasi Gender Sulawesi Tenggara

Facebook Comments
Like
Like Love Haha Wow Sad Angry
4
loading...