Dugaan Permainan Nilai Bebas Tes Siswa di SMAN 4 Kendari

sumber (foto) : arifpemimpi.blogspot.com

Kendari, Inilahsultra.com – Nilai bebas tes yang diumumkan oleh Sekolah Menengah Atas (SMA) Negeri 4 Kendari menuai kejanggalan.

Diduga dalam perankingan terjadi manipulasi atau permainan yang dilakukan oleh pihak sekolah.

Informasi ini diperoleh dari salah satu keluarga siswa kepada Inilahsultra.com.

-Advertisement-

Sumber tersebut mengaku, pengumuman nilai siswa di luar kewajaran. Sebab, yang dinyatakan lolos bebas tes ranking 30.

Sementara, siswa dengan ranking 4 dinyatakan tidak lulus.

“Aneh juga mekanisme perankingan di SMAN 4 Kendari ini. Masa yang ranking rendah bisa lulus,” kata sumber yang enggan menyebutkan namanya, Rabu 13 Februari 2019.

Lebih anehnya lagi, beber dia, pengumuman bebas tes ini dilakukan dua kali. Awalnya, kemanakannya lulus pada pengumuman pertama di pagi hari.

“Setelah siangnya, dinyatakan tidak lulus. Saya duga ada permainan di sini,” ujarnya.

Ia berharap, hasil pengumuman ini tidak menjadi acuan untuk masuk di perguruan tinggi negeri.

Sebab, metode penilaian di tingkat sekolah sangat tidak fair. Terlebih pihak sekolah diduga melakukan manipulasi data dan informasi.

“Kami nilai ini tidak valid. Kami duga ada permainan,” katanya.

Rencananya, masalah ini akan dilaporkan di Ombudsman Republik Indonesia agar segera ditangani.

Dikonfirmasi terpisah, Kepsek SMAN 4 Kendari Ruslan membantah adanya permainan atau kecurangan dalam pengumuman bebas tes siswa yang akan masuk di perguruan tinggi di Universitas Haluoleo (UHO) Kendari.

Ruslan mengklaim, pihak sekolah tidak punya akses sama sekali untuk mengatur atau mengetahui hasil-hasil seleksi. Apalagi melakukan permainan data siswa yang lulus bebas tes.

“Yang menetapkan kelulusan itu adalah panitia seleksi nasional perguruan tinggi. Kami dari pihak sekolah hanya menunggu dan menerima hasil pengumuman yang dikeluarkan oleh panitia seleksi,” kata Ruslan saat ditemui di ruang kerjanya, Kamis 14 Februari 2019.

Persoalan lulus dan tidaknya, Ruslan menyebut bukan tanggung jawabnya. Sebab, yang menentukan adalah perguruan tinggi.

“Yang menentukan semua itu panitia seleksi perguruan tinggi,” tambahnya.

Meski demikian, ia mengakui bahwa hasil pelulusan perguruan tinggi ini merujuk pada data yang diserahkan sekolah.

Namun, lagi-lagi ia membantah bila nilai dimaksud telah dimainkan.

“Setiap kelas diambil dari perengkingan yang ditetapkan oleh panitia seleksi perguruan tinggi. Jadi semua data siswa itu kita kirimkan ke panitia seleksi,” jelasnya.

Ia menyebut, hasil perengkingan yang dikirim pihak sekolah ke panitia seleksi perguruan tinggi, merupakan hasil akumulasi dari nilai siswa mulai kelas satu, kelas dua, hingga kelas tiga.

“Mulai dari peringkat kelas satu, dua dan tiga diakumulasikan menjadi satu. Jadi kalau mendapat ranking satu atau dua pada semester V, tapi hasil akumulasi gabungan semua nilai tidak cukup. Maka tidak mencukupi untuk lulus,” jelasnya.

“Jadi rengking pertama atau kedua yang didapat dapat semester V itu tidak menjamin untuk lulus kalau diakumulasikan semua nilainya tidak mencukupi untuk lulus di perguruan tinggi,” tambahnya.

Terkait pelulusan dua kali, Ruslan tidak membantah. Ia membenarkan hal ini.

Pengumuman pertama, sebut dia, semua dinyatakan lulus, tetapi menjelang siang ada pengumuman kedua sudah ada yang mendapat warnah merah yang dinyatakan tidak lulus.

“Itu semua yang keluarkan dari perguruan tinggi, pengumuman hasil kedua tidak ada juga info dari panitia tiba-tiba muncul. Kita hanya menunggu hasil yang diberikan dari panitia seleksi,” alasnya.

Adanya siswa di peringkat ke 30 yang dinyatakan lulus di perguruan tinggi sementara peringkat 3 dan 4 tidak lulus, Ruslan mengklaim harus dilihat akumulasi keseluruhan nilainya. Sebab, kata dia, bukan nilai semester akhir yang menjadi patokan untuk lulus.

“Memang berdasarkan peringkat siswa tapi bukan hasil semester akhir yang dilihat melainkan hasil keseluruhan dari semester satu sampai akhir,” katanya.

Penulis : Haerun

Facebook Comments