Ramil Efendi, Anak Penjual Sayur dari Muna yang Jadi Paspampres

14164
Ramli Efendi, anggota Paspampres dari Kabupaten Muna yang turut mengawal Jokowi saat berkunjung di Kendari.

Kendari, Inilahsultra.com – Ramil Efendi berdiri tegak tepat di pintu masuk GOR Bahteramas Kendari, Sabtu 2 Maret 2019. Kebetulan, hari itu, Presiden Joko Widodo (Jokowi) akan membagikan 2010 sertifikat tanah gratis pada masyarakat Sulawesi Tenggara.

Ramil terlihat mengenakan baju putih berkerah lengan pendek. Di punggungnya bertuliskan “Setia Waspada”, moto Pasukan Pengamanan Presiden (Paspampres).

- Advertisement -

Matanya terlihat terjaga. Setiap pergerakan di samping kiri kanan mengundang reaksinya. Sesekali ia berbicara dan menekan earphone di telinganya. Tentunya memastikan adanya instruksi rekan dan atasannya.

Saat Presiden Joko Widodo (Jokowi) datang, ia menjadi salah satu yang paling sibuk sana sini. Ia selalu berada di samping Jokowi dan kadang menghalau warga yang berebut salam dengan presiden.

Saat Presiden naik di podium, Ramil masih tetap terjaga. Matanya terus memantau ke presiden dari kejauhan. Sesekali melirik kanan kiri, muka dan belakangnya.

Kebetulan juga, saat ia berbicara lewat earphone, terdengar dialek yang tak begitu asing. Saya menaruh curiga akan gaya bicaranya itu. Terlebih, perawakannya yang ketimuran.

Usai Presiden tuntas melaksanakan kegiatan, Ramil merupakan satu dari sekian Paspampres yang masih tertinggal di area GOR.

Beberapa awak media, termasuk saya, mencoba berbincang dengannya. Tentunya, wawancara untuk bahan berita.

Saya begitu terkejut, ketika ia mulai berbicara asal muasalnya. Ia lebih dulu menyebut tamatan SMAN 1 Loghia di Kabupaten Muna.

Kecurigaan saya di muka tadi benar. Lelaki berkulit sawo matang dan berperawakan tinggi ini merupakan salah satu putra terbaik Muna yang turut mengawal Presiden Jokowi.

Anak Imam Masjid dan Pedagang Sayur

Pertanyaan kami makin dalam menggali siapa sebenarnya Ramil ini. Ia mulai bercerita tentang kedua orang tuanya. Ia merupakan putra dari La Diki (almarhum) dan Wa Naima.

Baca Juga :  Samahuddin, Mantan Penjual Sayur yang Kini Jadi Bupati Buteng

Di kampungnya, di Desa Korihi Kecamatan Loghia Kabupaten Muna, La Diki dikenal sebagai imam masjid. Sementara ibunya, merupakan pedagang sayur.

Ia merupakan anak ketujuh dari tujuh bersaudara. Dia alumni SMAN 1 Loghia tamatan 2012.

Usai menamatkan pendidikan di tingkat SMA, Ramli kemudian mengadu nasib di Kendari. Namun, kehidupan di Kendari semacam tidak menjanjikan buatnya. Ia pun akhirnya “buang diri” di Ambon. Di sana, tujuannya merantau dan mencari kerja.

“Saya di sana berangkat pengen kerja di suatu cabang, sampai di sana pekerjaan tidak terlaksana,” kata Ramil.

Di selalu status pengangguran yang disandangnya, TNI Angkatan Darat membuka rekrutmen tentara.

Dengan modal mental, postur dan tentunya doa orang tua di kampung, ia mendaftar. Secara juga, menjadi TNI merupakan salah satu cita-citanya sejak kecil.

Satu kali tes, akhirnya ia lulus. Ia kemudian menjalani pendidikan di Ambon selama enam bulan dan lulus pada kecabangan Polisi Militer. Di kecabangan ini, ia kemudian digembleng di Pusdik POM Cimahi Bandung Jawa Barat selama tiga bulan.

“Kemudian saya ikut seleksi masuk Paspampres dan masuk 10 besar dan Alhamdulillah terpilih,” ujarnya.

Setelah resmi masuk dalam group Paspampres pada 2013, ia diamanahkan masuk Batalyon Pengawal Presiden atau ring satu.

Pulang Kampung

Kegiatan Jokowi di Kendari menjadi kesyukuran bagi Ramil. Setidaknya ini momen pulang kampung bagi dia meskipun hanya di Kendari.

Ia bilang, setelah memberi kabar bahwa ia akan berada di Kendari selama kunjungan Presiden, ibunya pun langsung menyeberang dari Raha Kabupaten Muna ke Kendari.

“Orang tua ada di Kendari. Kebetulan dengar saya datang,” jelasnya.

Ramil mengaku, status yang disandangnya saat ini sebagai bentuk persembahan kepada kedua orang tuanya. Terlebih ayahnya yang belum lama mangkat.

Baca Juga :  Ridwan Bae, Anak Yatim Piatu Sejak SD, Kini Sukses Dijalur Politik

Berlatar keluarga biasa saja, tak membuatnya dia jemawa. Prestasinya saat ini minimal membuat orang tuanya bisa tersenyum dan bangga.

Sebagai anak yang berbakti, ia ingin membatasi ibunya bekerja berat, terlebih usia sudah sepuh (65).

“Selama jadi Paspampres, saya larang jualan dan sudah saatnya istrahat,” pungkasnya.

Ia menuturkan, sebagai seorang Paspampres, tentunya memiliki suka maupun duka. Sukanya, ia bisa mengawal Presiden dimana pun berada. Selain sebagai orang nomor satu di Negara ini, Jokowi adalah bagian dari lambang Negara.

“Dukanya sih, jauh dari keluarga,” ujarnya berkelakar.

Meski jauh dari keluarga, ia bukan lagi Ramil semasa SMA. Ia telah dipercayakan oleh Negara untuk menjamin keselamatan Presiden Joko Widodo.

Penulis : La Ode Pandi Sartiman

Silahkan berikan komentar
Like
Like Love Haha Wow Sad Angry
604

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here