Merawat Optimisme Lewat Foto Rustam Awat

773
Rustam Awat saat berpose untuk Inilahsultra.com. (Pandi)

Kendari, Inilahsultra.com – Pagi tadi, Selasa 12 Maret 2019, lantai II gedung utama Pascasarjana Universitas Halu Oleo (UHO) Kendari tampak dipadati ratusan mahasiswa.

Di lantai II ini, sebanyak 21 foto milik Rustam Awat dipampang rapi di tripleks yang sengaja dibuat menyerupai dinding.

- Advertisement -

Dari 21 foto yang dipamer, hampir semua bercerita tentang masyarakat desa dan pesisir. Sehingga tak salah jika pameran ini mengangkat tema”Daya Hidup Orang Laut”.

Seluruh foto yang dipamer ini, membuat banyak pengunjung takjub. Termasuk saya. Pengunjung dibuat geleng-geleng kepala, tentunya tanda kagum atas hasil jepretan kamera Rustam Awat yang semuanya menyangkut human interest.

Tak sedikit diantara mereka menjadikan foto dosen Unidayan ini sebagai latar berswafoto.

Saya pun tak melewatkan itu. Beberapa kali memotret pengunjung yang menatap dalam foto Rustam yang dipajang. Tidak terkecuali Rustam Awat untuk keperluan foto berita.

Usai berjabat lepas perkenalan, saya mulai berbincang dengan pria kelahiran Gu (Buton Tengah) 30 Mei 1977 ini.

Salah satu kata yang membuat saya tertarik adalah mengenai optimisme. Di balik fotonya itu, kata Rustam, bagaimana masyarakat terus merawat optimismenya.

Meskipun berada di desa yang selalu dicap terbelakang, orang kampung memiliki segudang optimisme.

“Foto-foto ini bagaimana masyarakat desa terus menggugah spirit dan menumbuhkan optimisme,” kata Rustam Awat.

Di desa dan pesisir, lanjut Rustam, banyak hal yang unik yang barangkali sulit didapat di kota. Kearifan budaya yang kental menjadi kredit poin suatu karya foto.

Seorang pengunjung saat menyaksikan karya foto Rustam Awat. (Pandi)

“Di pelosok sana banyak warga yang berjuang hidup tanpa putus asa. Mereka terus optimis dan tak mengeluh sekalipun orang lain menganggap hidup mereka sulit,” jelasnya.

Bagi orang desa dan pesisir, bertahan hidup bukan semata hanya untuk makan. Lebih dari itu, bisa bermanfaat untuk orang banyak.

Baca Juga :  Kadis PTSP Mubar Bangun Satu Gedung Baru dan Pasang CCTV

“Orang desa dan pesisir itu punya banyak keunikan,” tuturnya.

Berawal Fotografer Amatir Keluarga

Rustam Awat tidak kepikiran menjadi fotografer profesional. Memang, sedari kecil ia suka melihat foto di album.

Suatu waktu saat adiknya menikah, ia kemudian bersedia menjadi fotografer keluarga. Sekalipun masih amatiran.

Bermodal kamera biasa plus gaya amatiran, ia pun sukses melewati tantangan itu. Walaupun tak seperti fotografer profesional, karyanya tak mengecewakan bagi keluarga.

Kamera yang ia punya kemudian pernah dibuat menganggur. Kadang digunakan untuk memotret sembarangan, termasuk kucing dan lingkungan sekelilingnya.

Kecintaannya terhadap dunia fotografi kemudian lahir saat mengabadikan ina-ina (nenek-nenek) yang ada di pasar.

Foto Rustam Awat di pamer di Pascasarjana UHO. (Pandi)

“Saya memotret ina-ina itu, di situ saya mulai tertarik. Itu sangat kental dengan human interest,” katanya.

Lewat ina-ina ini lah, gendre fotografi human interest melekat di dirinya. Semua yang berkaitan dengan isu kemanusiaan di sekeliling tak luput dari pengabadian kameranya.

Ia mulai kerap memotret di pantai yang terkenal denga suku Bajau (Bajo). Di sana, ia melihat bagaimana fotografi itu berwarna melalui cara dan gaya hidup masyarakat suku Bajo.

Selain kekagumannya terhadap kehidupan suku Bajo, ia juga tertarik memotret laut saat surut.

Baginya, laut yang surut seperti tengah telanjang. Tebing, lamun-lamun dan karang dapat terlihat dekat.

Kearifan lokal dan budaya juga menjadi hal yang tak luput diabadikannya. Menurutnya, salah satu yang tersisa dari suatu daerah di tengah modernitas adalah budaya dan adat yang masih dipertahankan.

Dari segala pengalamannya itu lah, tercipta 21 foto yang diambil di empat daerah yakni, di Buton Tengah 11 spot, Kota Baubau 4 spot, Buton 4 spot, Buton Selatan 2 spot dan empat spot di kampung Bajo.

Baca Juga :  Melalui Pemilu Run, KPU Konsel Ajak Masyarakat Sukseskan Pemilu

Foto-foto beragam yang bercerita tentang kemanusiaan di desa dan pesisir kemudian dipampang di pameran yang diprakarsai Program Studi Pendidikan Seni Pascasarjana UHO bekerjasama dengan Galeri Foto Pekamata Indonesia.

Pameran ini dibuka secara resmi Direktur Pascasarjana UHO Prof Dr Ir R Marsuki Iswandi.

Penulis : La Ode Pandi Sartiman

Silahkan berikan komentar
Like
Like Love Haha Wow Sad Angry
2

2 KOMENTAR

  1. sayangnya optimisme akan kehidupan masyarakat pesisir tidak di barengi kesadaran mengelola sampah, melempar sampah ke laut seakan hal biasa.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here