Isnain Kimi, Tokoh Sultra Pertama Masuk Pengurus PB FORKI

1068
Isnain Kimi.
-Advertise-

Kendari, Inilahsultra.com – La Isnain Kimi tetiba kaget ketika namanya masuk jajaran Pengurus Besar (PB) Federasi Olahraga Karatedo Indonesia (FORKI).

Di kepengurusan Marsekal TNI Hadi Tjahyanto ini, Isnain masuk di Bidang Komisi Organisasi Daerah dan Perguruan.

-Advertise-

Masuknya Isnain dalam jajaran kepengurusan PB FORKI merupakan salah satu sejarah bagi Sultra. Sebab, pria yang biasa disapa Naim ini, orang pertama Bumi Anoa masuk di organisasi karate Nasional.

Untuk masuk dalam organisasi yang mayoritas ditempati petinggi militer dengan pangkat bintang ini, cukup sulit bagi tokoh di daerah.

Terlebih, seorang Isnain yang jabatannya di FORKI Sultra hanya sebagai Ketua Bidang Pembinaan dan Prestasi.

Namun, sejarah telah berkata lain. Isnain kini sejajar dengan Panglima TNI untuk mengurus dan mengembangkan olahraga karate di Indonesia.

Isnain Kimi bersama atlet binaannya. (Istimewa)

Saat dihubungi Inilahsultra.com, Isnain Kimi mengaku terkejut dengan amanah ini. Terlebih level nasional.

“Saya juga kaget jadi pengurus pusat,” katanya, Jumat 15 Maret 2019.

Ia mengaku, amanah ini akan terus diembannya untuk perkembangan olahraga karate di Sultra.

“Insya-Allah akan mengawal perkembangan dan kebangkitan karate Sultra menuju kancah nasional dan internasional,” ujarnya.

Menurut dia, dengan adanya dirinya di PB FORKI, maka koneksi akan terbuka lebar dalam hal pembinaan prestasi atlet di Sultra.

Ia menyebut, akan banyak peran yang dilakukannya nanti khsusunya menambah banyak program latihan, pelatihan perwasitan dan melahirkan iven-iven nasional di Sultra.

“Dengan adanya saya di PB FORKI, maka gampang saja nantinya kita akses,” jelasnya.

Naim menyebut, atlet Sultra memiliki kualitas yang sama dengan atlet di pelatnas. Beberapa atlet dinilainya punya potensi untuk masuk jajaran pelatnas.

“Atlet kita tidak kalah dengan atlet nasional,” jelasnya.

Baca Juga :  Pemulihan Lokasi Eks Penambangan Pasir di Buton Telan Anggaran Rp 60 Miliar

Problemnya selama ini, atlet Sultra tidak memiliki perwakilan di pengurus pusat. Terlebih, organisasi dikuasai hanya satu perguruan tertentu.

“Ini yang kita bahas kemarin waktu kongres. Sekarang pengurus PB FORKI beragam dari semua perguruan,” katanya.

Di kongres PB FORKI di Bogor kemarin, Isnain merupakan perwakilan Sultra. Dalam kongres itu, ia masuk dalam komisi B membahas program kerja bidang organisasi.

Pose bersama dengan Ketua PB Inkado. (Istimewa)

Isu reformasi PB FORKI kemudian menggaung dari dirinya bersama perwakilan dari daerah lain semisal DKI Jakarta, Sulawesi Selatan dan Jawa Barat.

“Saya bagian dari penggagas reformasi PB FORKI ini,” ujarnya.

Reformasi yang mereka gaungkan akhirnya terwujud. Organisasi tidak hanya didominasi satu kelompok perguruan saja.

Atas peran ini, bisa jadi membuat PB FORKI tertarik merekrut Isnain ke dalam pengurus nasional.

“Saya kaget sebenarnya dapat WA di group pengurus FORKI. Saya tidak berharap masuk PB. Mungkin karena pertimbangan formatur dan pengurus lain. Ya, Alhamdulillah, ini merupakan amanah yang harus dijalankan dengan baik,” tuturnya.

Memilih Gelanggang Aktivis

Nama Isnain Kimi di era 2000-an, boleh dibilang dikenal di kalangan mahasiswa. Selain ahli karate dengan berperawakan tinggi, Isnain dikenal sebagai aktivis parlemen jalanan.

Perpaduan yang cukup komplit di zaman itu. Masuk gelanggang aktivis tidak lah cukup jika tidak punya kemampuan bela diri.

Saat kuliah di Universitas Halu Oleo (UHO), dulunya Unhalu, Isnain pernah menjabat sebagai Ketua Senat Fakultas Pertanian.

Di tengah aktivitasnya sebagai aktivis, ia tak lupa dengan hobi olahraga karate.

Bahkan, saat masih menjabat Ketua Senat, ia masuk dalam jajaran atlet karate Sultra untuk bertanding di PON Surabaya.

Prestasi Naim bukan hanya jadi atlet PON. Ia menjadi jawara di Sultra pada eranya.

Baca Juga :  Semua Media di Sultra Baru Sebatas Verifikasi Administrasi

Di setiap kejurnas mahasiswa, ia masuk jajaran atlet yang patut diperhitungkan. Ia pernah menjadi juara di Kejurnas Inkado.

Kemudian, ia masuk seleksi nasional Sotokan untuk kejuaraan dunia di Bali.

“Saat saya dipanggil pelatnas, saya memilih jadi aktivis,” katanya sembari tertawa.

Pose bersama dengan salah satu wasit nasional. (Istimewa)

Kebetulan, saat seleknas itu, bertepatan dengan pesta demokrasi kampus Pemilihan Presiden Mahasiswa Tahun 2000.

Meninggalkan bakatnya sebagai atlet karate tidak membuatnya harus merugi. Sebab, di pemilihan presiden, ia terpilih dan kemudian dilantik Tahun 2001.

Setelah melalui jalan panjang menjadi aktivis, Isnain akhirnya kembali menggeluti dunia karate dan masuk sebagai pengurus FORKI Sultra.

Selain itu, ia juga sebagai tim pelatih perguruan Inkado Nasional dan pengurus pusat Inkado.

“Kalau di Sultra, saya ketua harian Inkado,” kata pria kelahiran 10 April 1978 ini.

Dengan masuknya dia sebagai pengurus PB FORKI, ada harapan karate Sultra kembali berjaya seperti di era 80-an dan 90-an.

“Banyak atlet kita yang berkelas nasional. Kita tidak kalah kualitas. Ini jadi agenda utama saya ke depan, melahirkan atlet Sultra di level nasional dan internasional,” pungkas Kepala Bidang Perkebunan Provinsi Sultra ini.

Penulis : La Ode Pandi Sartiman

Silahkan berikan komentar
Like
Like Love Haha Wow Sad Angry
2

KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here