PT Malindo Bara Murni Bantah Izin Penambangannya Dicabut

176
Ilustrasi

Pasarwajo, Inilahsultra.com – Direktur PT Malindo Bara Murni, Sofyan angkat bicara terkait izin penambangan mangan di Desa Kumbewaha Kecamatan Siontapina Kabupaten Buton. Dia membantah izin yang dikantongi telah dicabut oleh pemerintah.

Menurut dia, izin penambangan yang dimiliki berlaku hingga tahun 2029.

- Advertisement -

“Itu tidak benar, IUP (izin usaha pertambangan) saya itu berlaku sampai 2029. Kalau dicabut itu tidak betul,” kata Sofyan via telepon selularnya, Kamis 14 Maret 2019.

Kata dia, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Buton tidak memiliki data akurat tentang izin lingkungan yang dimiliki PT Malindo Bara Murni.

“Mereka instansi yang berwenang yang mengetahui legalitas justru tanya ke saya izinnya sudah mati atau tidak. Akhirnya saya berikan lagi izin lingkungannya ke mereka. Alasanya mereka karena selama lima tahun pegawai silih berganti,” ujarnya.

Menurut Sofyan, laporan kegiatan lingkungan yang dikantongi perusahaan itu dilakukan enam bulan sekali. Sehingga pada April mendatang akan dilaporkan lagi.

“Takutnya ada opini saya ini penambang ilegal, izin lingkungan itu ditandatangani Pak Asnawi (mantan Kadis DLH) dan IUP saya itu berlaku selama 20 tahun hingga 2029,” bebernya.

Dia membantah ada rekomendasi dari DPRD Kabupaten Buton yang merekomensikan pemberhentian penambangan sebelum ada izin.

“Tidak ada rekomendasi itu,” tegasnya.

Sofyan mengaku, selama melakukan proses penambangan mangan di Kumbewaha, selalu melaksanakan kewajibannya sesuai aturan yang berlaku seperti membayar pajak dan lainnya.

“Penambangan ini tidak serta merta berjalan kalau tidak ada sinkronisasi dan pemerintah juga tidak serta merta mau mencabut izin, dan semua kewajiaban saya kepada negara sudah saya lakukan,” bebernya.

Selain itu, dia dengan tegas membantah jika perusahaan yang dijalankannya menimbulkan kesenjangan sosial khususnya masyarakat Kumbewaha.

Baca Juga :  Komitmen Sulkarnain Tuntaskan Tambat Labuh Megaproyek Era Asrun-Musadar

“Sudah banyak kontribusi yang dilakukan perusahan terhadap warga setempat. Antara lain menghibahkan tanah milik perusahaan untuk pembangunan puskesmas, menyumbang pembangunan baruga (rumah adat) dan pembangunan masjid,” tuturnya.

Sejak 2007, lanjut Sofyan, perusahaannya masuk di Desa Kumbewaha. Ketika itu sudah ada pertemuan dengan perangkat desa, tokoh pemuda, tokoh masyarakat dan dinas terkait. Pada intinya, mereka mendukung.

“Jika ada yang tidak suka itu paling hanya sebagian orang saja,” timpalnya.

Kehadiran perusahaan di Kumbewa, terang Sofyan, telah menyerap tenaga kerja masyarakat setempat. Namun tidak bisa memaksakan masyarakat seluruhnya harus bekerja. Saat ini ada sekira 30 orang yang bekerja di PT Malindo Bara Murni.

“Salah satu buktinya mempekerjakan masyarakat itu sampai hari ini saya tidak mengapalkan pakai tongkang, tapi pakai kontainer karena bisa pekerjakan orang karena ada pengarungan disitu,” ungkapnya.

Tidak hanya itu, Sofyan juga menegaskan, soal adanya keresahaan masyarakat mengenai tertutupnya tiga sumber mata air dan tanaman mati serta tidak melakukan reklamasi juga tidak diakuinya.

“Semua itu tidak benar, itu hanya kali-kali kecil yang mati, dan saya lakukan reklamasi. Justru saya satu-satunya di Sultra yang dianggap baik dalam melakukan reklamasi,” katanya.

Bukan hanya itu, Sofyan juga meluruskan pemberitaan ada perusahaan lain yaitu PT Arfah Indo Sarana (AIS) yang melakukan penambangan batu mangan menggunakan IUP PT Malindo Bara Murni.

“Soal PT AIS, bukan penambang. Mereka pemilik alat yang saya sewa, dan Pak Sigit itu bukan Direktur AIS, Sigit hanya mengawasi alat-alat jangan sampai rusak,” tutupnya.

Reporter: Waode Yeni Wahdaniah

Facebook Comments
Like
Like Love Haha Wow Sad Angry

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here