Penderita Stunting, Buteng Masuk Peringkat Kelima Nasional

176
Kasman

Labungkari, Inilahsultra.com – Kabupaten Buton Tengah (Buteng) masuk kategori kelima nasional penderita stunting. Hal itu berdasarkan data riset kesehatan nasional tahun 2017 lalu.

Stunting adalah kondisi gagal tumbuh pada tubuh dan otak menyebabkan anak lebih pendek dari usianya.

- Advertisement -

Di Sultra sendiri, Kabupaten Buteng menempati urutan pertama penderita Stunting.

Sekretaris Dinas Kesehatan Buteng, Kasman membenarkan hal itu saat dikonfirmasi di kantornya, Jum’at 22 Maret 2019.

Kata dia, data itu dari tim riset Pemantauan Status Gizi (PSG) 2017 Kementerian Kesehatan RI.

Dari data itu, persentase penderita stunting di Buteng mencapai 48,8 persen. Data ini berdasarkan hasil uji sampel 10 balita tiap kecamatan di negeri seribu gua itu.

Kasman menjelaskan, anak yang lahir dengan panjang kurang dari 48 cm dan bobot dibawah 2,5 kg berisiko tinggi mengalami stunting. Namun, hal itu bisa dicegah dengan melakukan beberapa cara sebelum dan setelah anak lahir.

“Stunting ini merupakan akumulasi dari resiko kurang gizi. Banyak faktor yang bisa menyebabkannya mulai dari kesehatan lingkungan, ketersediaan pangan, hingga kandungan nutrisi atau asupan gizi saat bayi masih dalam kandungan maupun anak kurang dari dua tahun. Jadi penanganannya memang harus paripurna dengan melibatkan semua pihak dan membutuhkan jangka waktu yang cukup lama,” katanya.

Upaya Pencegahan

Pemerintah daerah sudah menyiapkan beberapa strategi untuk mencoba meminimalisir penyakit yang hendak diberantas secara nasional ini. Diantaranya meningkatkan kesehatan reproduksi.

Peningkatan kesehatan reproduksi ini bisa dimulai sejak anak perempuan sebagai calon ibu masih berusia remaja. Caranya dengan memberikan tablet tambah darah.

“Jadi memang sebelum hamil harus sudah diatasi. Kenapa?, sebab penanganan stunting ini membutuhkan waktu lama karena sebelum hamilpun berpotensi stunting jika tidak diatasi sejak dini,” katanya.

Baca Juga :  Penderita Stunting di Buton Capai 33 Orang

Bahkan pemkab Buteng berinisiatif membentuk posyandu remaja khusus untuk penanganan stunting. Selain itu menggencarkan program asupan gizi standar untuk masyarakat.

Strategi selanjutnya yakni menjajal kerjasama dengan Departemen Agama (Depag) untuk menggenjot kesehatan reproduksi. Melalui kerjasama ini, calon pengantin harus dibekali surat dari Depag ditembuskan ke Dinas Kesehatan untuk diimunisasi dan berkonsultasi dengan petugas untuk dikonseling gizi.

Selain itu, pemerintah juga mencanangkan untuk membuka kelas khusus ibu hamil diseluruh Puskesmas yang ada. Dengan begitu, asupan gizi untuk ibu hamil saat menjalani kehamilannya dapat dikontrol.

Dampak Stunting

Anak yang menderita stunting tidak hanya berpengaruh pada fisik pendek saja. Namun lebih dari itu bisa menimbulkan pengaruh yang cukup besar pada kehidupan anak.

Diantaranya, anak akan kesulitan belajar, kemampuan kognitif dan intelegensianya lemah, mudah lelah dan tak lincah dibandingkan dengan anak-anak lain seusianya. Risiko untuk terserang penyakit infeksi lebih tinggi serta risiko mengalami berbagai penyakit kronis (diabetes, penyakit jantung, kanker, dan lain-lain) diusia dewasa sangat tinggi.

“Jadi sekali lagi stunting ini butuh proses panjang dan penangannya melibatkan semua pihak. Makanya pemerintah daerah saat ini berkomitmen untuk memberantas penyakit ini apalagi berkaitan dengan kualitas anak dan generasi kita di masa-masa mendatang,” tutupnya.

Reporter: LM Arianto

Facebook Comments
Like
Like Love Haha Wow Sad Angry

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here