
Kendari, Inilahsultra.com – Program cetak sawah melalui Kementerian Pertanian (Kementan) merupakan salah satu janji pemerintahan Jokowi-Jusuf Kalla kepada masyarakat pada saat kampanye dan ini jelas dituangkan dalam Nawacita dengan target 1 juta hektare.
Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra) mendapatkan bagian dari program tersebut. Data dari Dinas Tanaman Pangan dan Peternakan Provinsi Sultra sejak tahun 2015 hingga tahun 2017 luas lahan yang dicetak melalui program ini kurang lebih 12.290 hektare.
Pada tahun 2015 lalu, telah dicetak lahan sawah baru sekitar 3.300 hektare. Kemudian tahun 2016 ada 6.000 hektare yang tersebar di Kabupaten Konawe seluas 2.550 hektare, Kabupaten Kolaka Timur (Koltim) 1.000 hektare, Kabupaten Konawe Selatan (Konsel) 1.000 hektare, Konawe Utara (Konut) 600 hektare, Kolaka 350 hektare, Bombana 350 hektare, Muna Barat (Mubar) 100 hektare dan Buton Tengah (Buteng) seluas 50 hektare.
Kemudian tahun 2017, program cetak sawah kembali dilanjutkan. Total lahan yang berhasil dibuka adalah 3.190 hektare yang tersebar di 10 kabupaten.
Koltim 450 hektare, Bombana 400 hektare, Muna 700 hektare, Buton 100 hektare, Mubar 230 hektare.
Kemudian Konut 260 hektare, Buteng 50 hektare, Konawe 450 hektare, Konsel 450 hektare, Konkep 100 hektare.
Lahan 1.000 hektare untuk tiga kabupaten meliputi Konawe (450 Ha), Konawe Selatan (450 Ha) dan Konawe Kepulauan (100 Ha) di bawah kendali dan pengawasan dari Korem 143/Haluoleo Kendari.
Sedangkan dari target 2.190 hektare tersebar pada tujuh kabupaten di bawah kendali dan pengawasan Ditzeni-AD yang terdiri dari Kabupaten Muna (700 Ha), Kolaka Timur (450 Ha), Bombana (400 Ha), Konawe Utara (260 Ha), Muna Barat (230 Ha), Buton (100 Ha) dan Kabupaten Buteng (50 Ha).
Pada tahun 2016 lalu, Kadis Tanaman Pangan Peternakan Provinsi Sultra Muhammad Nasir mengatakan, biaya untuk percertakan sawah yang telah ditetapkan pemerintah pusat yakni Rp16 juta perhektare.
Apabila dikalkulasikan dengan total luas lahan sawah yang telah dicetak di Bumi Anoa maka APBN yang telah dialokasikan pemerintah untuk program cetak sawah ini sekitar Rp 2 triliun.
Secara umum, tujuan dari pembukaan lahan sawah baru ini merupakan upaya pemerintah untuk meningkatkan produktifitas hasil pertanian guna mencapai swasembada pangan nasional baik melalui intensifikasi maupun ekstensifikasi pertanian.
Pada tahun 2018, program cetak sawah ini dihentikan sementara karena pemerintah ingin memaksimal lebih dulu lahan yang telah dibuka agar tidak terbengkalai pengunaannya.
Data dari Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Sultra tahun 2015 Produksi padi sebanyak 660.720 ton gabah kering giling (GKG) atau mengalami kenaikan sebanyak 3.102 ton (0,47 persen) dibandingkan tahun 2014. Kenaikan produksi terjadi karena kenaikan produktivitas sebesar 0,23 kuintal/hektare atau naik 0,49 persen walaupun luas panen turun seluas 28 hektare (0,02 persen).
Pada tahun 2016, produksi padi kembali meningkat, dimana Dinas Tanaman Pangan dan Peternakan Provinsi Sultra mencatat selama tahun 2016 produksi padi mencapai 696.954 ton GKG.
Dibanding tahun 2015, mengalami kenaikan sekitar 36.000 ton atau 5,5 persen dari capaian produksi tahun 2015 hanya yang hanya 660.720 ton saja.
Beberapa daerah yang menjadi penyumbang produksi padi terbesar di Sultra adalah yakni Kabupaten Konawe, Konawe Selatan (Konsel). Kolaka Timur (Koltim), Bombana dan Kolaka yang memang 5 kabupaten ini adalah lumbung padi di Bumi Anoa.
Produksi tanaman padi di Bumi Anoa kembali mengalami peningkatan sebesar 14.447 ton di tahun 2017. Distanak Provinsi Sultra mencatat produksi tanaman padi sebanyak 711.401 ton GKG sementara tahun 2016 hanya 696.954 ton saja.
Anggota Tim Kampanye Nasional (TKN) Jokowi-Maruf Amin Mardani H Maming mengatakan, program tersebut akan tetap menjadi konsen pemerintah Jokowi lima tahun ke depan jika diberikan amanah oleh masayarakat untuk memimpin Indonesia.
Selain itu, data di atas dapat dilihat setidaknya program pembukaan lahan tersebut memberikan kontribusi terhadap peningkatan produksi padi di Sultra.
Dirinya pun menghimbau kepada seluruh masyarakat Sultra dapat menentukan pilihannya kepada pasangan nomor urut 1 pada pencoblosan tanggal 17 April 2019 mendatang.
Pemilihan Presiden tahun ini dikuti oleh dua paslon yakni Jokowi-Maruf nomor urut 1 dan Prabowo-Sandi nomor urut 2. (rls)




