Sosok Abdul Salam Sahadia, Politisi Muda Menatap Parlemen Provinsi Sultra

1263
Abdul Salam Sahadia

Siapa yang nggak kenal dengan Abdul Salam Sahadia. Nama dan wajahnya juga tak asing lagi bagi masyarakat Kabupaten Buton Utara (Butur).

Sosok Abdul Salam Sahadia di Butur, dikenal sebagai politisi muda dan cerdas. Karirnya terbilang bersinar dan sukses, dimana saat ini menduduki posisi Wakil Ketua 1 Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Butur periode 2014-2019.

- Advertisement -

Bukan hanya itu, Salam, begitu panggilan karibnya, pernah sukses menjabat Ketua DPC Partai Demokrat Butur dalam 2 periode. Atas prestasinya itu, kini menduduki Wakil Ketua DPD Partai Demokrat Sultra.

Masa jabatan Salam sebagai Anggota DPRD Butur akan berakhir tahun 2019 ini. Namun ia kembali mencalonkan diri sebagai legislator Partai Demokrat. Akan tetapi, kali ini “naik kelas” pengabdiannya lebih luas lagi sebagai Caleg Provinsi Sultra melalui daerah pemilihan Muna, Muna Barat dan Butur.

Salam mengaku, memutuskan hijrah ke DPRD Provinsi Sultra, menjadi keputusan tepat. Keputusan itu, tidak lain untuk memperjuangkan aspirasi masyarakat secara luas baik itu masyarakat Butur, Muna dan Muna Barat.

Terkhusus masyarakat Butur, menurutnya harus ada perwakilan putra daerah yang duduk di legislatif provinsi. “Jadi memang harus ada kesadaran politik baru dari masyarakat Butur dengan memberikan amanah kepada putra daerah untuk duduk di parlemen agar memperjuangkan aspirasi mereka,” tutur Salam.

Salam yang lahir 38 tahun silam di kampung terpencil ini yakni Desa Lakansai, Kabupaten Butur optimis bisa merebut satu kursi parlemen provinsi. “Saya sebagai anak kampung optimis bisa merebut satu kursi DPRD Provinsi Sultra,” ujarnya.

*Dari Kampus Muncul Jiwa Kritik Kebijakan Pemerintah Tak Berpihak pada Rakyat

Dikutip dari Buku Profil Anggota DPRD Butur Periode 2014-2019 (terbit 2016), Salam bercerita pandangannya terhadap politik. Menurutnya, politik itu adalah seni. Politik begitu menarik. Ada rasa dan motivasi tersendiri bagi siapapun yang terlibat didalamnya. Pandangan ini muncul dalam benak pikiran seorang Salam.

Atas rasa politik yang telah melekat semenjak masa kecilnya itulah yang mengantarkannya sebagai legislator dan menjadi salah satu aktor kemenangan Abu Hasan- Ramadio menduduki Bupati dan Wakil Bupati Kabupaten Buton Utara (Butur) periode 2016-2021.

Salam lebih jauh bercerita, masuk di dalam dunia politik adalah cita-cita dari kecilnya. Sejak kelas satu sekolah dasar (SD), dirinya sudah tertarik dengan dunia politik. Meskipun belum tahu secara detail apa itu politik. Hanya karena sering melihat para politisi selalu muncul di televisi, selalu diwawancarai, dan kebanyakan pejabat negara selalunya seorang politisi. Kharisma politikus Golkar, Harmoko pada masa itu menjadi salah satu pengispirasinya untuk lebih mengenal dunia politik.

Kehausannya terhadap ilmu politik terus diasahnya setelah memasuki dunia kampus Universitas Haluoleo (Unhalu, kini berubah nama menjadi UHO) pada tahun 1998. Masuk di Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (Fisip) dengan jurusan Administrasi Negara ialah pilihan utamanya.

Sejak menempuh bangku kuliah, pengetahuan politiknya terus dikembangkan dengan aktif diberbagai organisasi kemahasiswaan seperti seperti Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), bergabung di Pers Mahasiswa. Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fisip berhasil direbutnya. Ketua bidang Hukum dan Advokasi Kemahasiswaan. Masuk dalan kepengurusan Ikatan Lembaga Ilmu Sosial dan Politik (ILMISPI) Unhalu.

Tumbuh menjadi anak muda yang bergelut dalam aktivis mahasiswa. Sifat kritik pun selalu muncul. Turun di jalan berdemonstrasi untuk mengkritik atas kebijakan yang salah yang dilakukan oleh pemerintah.

Baca Juga :  Ini Profil Putra Daerah Sultra yang Jabat Kapolda Metro Jaya

“Saya kan anak jalanan. Kuliah itu banyak di jalan, banyak mengkritisi kebijakan pemerintah yang tidak berpihak pada rakyat. Dalam jiwa selalu ingin mengawal pemerintahan untuk terus baik dan selalu baik,” katanya.

Seiring berjalannya waktu, setelah mengantongi ijasah strata satu (S1), sempat bergeliat dengan dunia aktivis luar dengan menjabat direktur Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) YAKIN selama empat tahun dari tahun 2004-2008.

Masuk sistem dunia politik praktis yang sebenarnya dimulai tahun 2008. Dimana, pada tahun itu, Salam yang masih berumur 26 tahun membawah Partai Demokrat masuk di Butur. Dengan modal sebagai ketua Dewan Pembina Cabang (DPC) Butur, satu tahun berikutnya mencoba peruntungan untuk menceburkan diri menjadi legislator. Tapi apa dikata, pemilihan legislatif (Pileg) pada tahun 2009 itu, dia kalah suara dari para pesaingnya.

“Konsep saya berpolitik mencari teman sebanyak-banyaknya. Konsekuesinya harus membuka diri, berani berkorban untuk orang lain, berani memberikan waktu bagi orang lain,” tuturnya Salam.

Makanya, dengan kegagalan itu, bukanlah akhir dari segalanya, dia melihat bahwa itu hanyalah sebuah cambuk untuk bisah berbenah dan berjuang kedepannya. Walaupun tak menafikan saat itu dirinya sempat goyah. Tapi tidak untuk jiwanya. Jiwanya tak kapok untuk terus berjuang untuk mengabdi bagi masyarakat melalui jalur politik.

Terbukti, pada Pileg 2014 lalu, sebanyak 20 legislator Butur periode 2014-2019 yang terpilih salah satunya dia. Partai Demokrat sendiri saat itu berhasil meraih dua kursi. Sehingga atas amanat undang-undang, partainya berhak mendapatkan jatah kursi wakil ketua DPRD. Secara otomatis, Salam menduduki jabatan tersebut.

“Kegagalan pembelajaran bagi saya. Saat itu baru terjun dunia politik praktis, sehingga belum tahu betul bagaimana manajemen politik, karena teori yang didapat dibangku kuliah tidak seperti yang saya dapat di lapangan. Dari situ saya berpikir untuk selalu belajar dan berbenah untuk mempersiapkan diri pada putaran berikutnya, dan alhamdulillah saya terpilih,” pungkasnya.

Menjadi Wakil Ketua DPRD bukanlah hal istimewah. Hal itu karena jabatan wakil ini hanyalah sebuah amanah dari rakyat dan juga merupakan tuntutan sistem yang memungkinkan untuk menduduki jabatan itu. Dengan bekal berpikir untuk selalu mengabdi buat masyarakat, dirinya akan terus melakukan hal-hal yang bisa mengawal kepentingan rakyat.

“Berpikir untuk lebih maju ketingkat atas ada. Karena jiwa selalu ingin mengkritik kalau ada kebijakan yang salah dan mengawal kepentingan rakyat. Bisa saja kedepannya jadi Ketua DPRD atau tidak legislator provinsi. Intinya akan selalu menjadi penyambung lidah rakyat khususnya masyarakat Butur,” imbuhnya.

Selalu menyatakan yang benar jikalau itu sesuai dengan mekanisme dan lantang menyuarakan salah jikalau itu melanggar aturan, terus terbawah dalam pengabdian di gedunh parlemen. Sebagaimana salah satu contoh, tahun lalu adanya kebijakan yang keliru dilakukan oleh pemerintah daerah setempat dengan melakukan perubahan pagu anggaran yang telah disetujui bersama dan telah diparipurnakan. Bersama dengan legislator lainnya, dia terus menentang kondisi yang salah itu. Bahkan, ia mengancam akan membawah persoalan tersebut di ranah hukum jikalau tak dinormalkan kembali.

Hingga akhirnya, Pemda tak berdaya dan semuanya dikembalikan sesuai dengan keputusan awal. Itu hanya secuil perjuangan dari puluhan usaha yang dilakukan oleh Salam.

Pria yang kini sudah mempunyai dua putri cantik ini dalam perjuangan politiknya selalu menonjolkan taktik sederhana. Menurutnya, kesederhanaan dalam praktek politik perlu dilakukan. Seperti yang diterapkannya pada Pilkada Butur 2015 lalu.

Baca Juga :  Bupati Muna Kembali Rolling Pejabat Eselon II dan III

Dipercaya sebagai ketua tim pemenangan pasangan Abu Hasan-Ramadio, dia memanfaatkan taktik sistem sederhana, pendekatan juga sederhana, dan isunya juga pun sederhana. Berpolitik itu bisa melihat karakter, siapa yang dilawan, pemilihnya siapa.

“Jadi bisa berkesimpulan kalau politik dijalankan dengan roh sesunggunya pasti hasilnya dahsyat. Itu lah faktor kemenangan pada Pilkada yang lalu, selalu sederhana dan bekerjasama,” ucapnya.

*Lahir dari Kesederhanaan, Motivasi untuk Bantu Masyarakat

Anak dari pasangan Sahadia L dan Sitti Nurma ini memulai perjuangan dan kerja keras sejak masuk SD. Berada dalam keluarga sederhana. Ayahnya seorang Pegawai Negeri Sipil (PNS) yang mempunyai gaji rendah sedangkan ibu hanyalah ibu rumah tangga, membuat Salam harus bekerja keras untuk membantuh kondisi perekonomian keluarga yang serba kekurangan.

Turun ke laut untuk memasang jaring dilakukannya, beternak sapi hingga mencari rotan di hutan dikerjakan. Pekerjaan itu yang menunggunya ketika pulang dari sekolah. Masa-masa kecilnya pun dihabiskan untuk bekerja, semata-mata untuk membantu kedua orang tua.

“Semuanya saya lakukan, turun ke laut pasang jaring, kalau ada hasil, ibu saya sendiri yang keliling jual di pasar dengan berjalan kaki, cari rotan di hutan, beternak. Ini semua demi membantu ekonomi keluarga yang serba kekurangan,” imbuhnya.

Karena kondisi keluarga yang serba kekurangan, dan dari Desa Lakansai yang notabenenya dulu desa terpencil, hinaan selalu muncul. Apalagi saat mulai terjun dalam dunia aktivis. Ketika, turun di lapangan untuk berunjuk rasa. Terkadang masyarakat mencibir, melihat tingkah laku seorang Salam yang hanya mengganggu masyarakat beraktivitas. Hanya berteriak-teriak di jalan. Anak dari kampung mau jadi apa nantinya.

“Kalau dulu kan masyarakat liat kita demo malah mencibir. Dan itu pernah saya alami sendiri. Dikatai anak dari kampung mau jadi apa nanti pekerjaan hanya teriak-teriak di jalan. Tapi idealis itu tetap saya lakukan dan terus berjalan hingga saat ini. Cacian saya jadikan motivasi untuk selalu berusaha,” tandasnya.

Pandangan kalau demo-demo tak ada gunanya, juga muncul dari orang tuanya. Ibunya tidak suka sama sekali kalau terus turun di jalan. Tetapi kekhawatiran ibunya tersebut bisa terjawab, ketika mulai terjun dalam dunia politik pragmatis hingga menjadi seorang legislator.” Ibu selalu jadi motivasi saya, tantangan dari ibu untuk membuktikan kalau jalur yang saya lalui tidak salah bisa saya dibuktikan,” tutur Salam.

Selain ibunya, istrinya bernama Santi Fajarninsi juga menjadi pendukung utama. Dan ini sangat terlihat betul hasilnya. Karena kerelaan istri selalu ada dalam bentuk perjuangan. Kehidupannya pun semakin disyukuri dengan  menemukan istri yang sangat demokratis, sangat mengerti cita-cita suaminya, mengerti jiwa suami. Apapun itu biar  menghabiskan segala apa yang dimiliki, istrinya  selalu rela. Meskipun dia dihina tetap rela dan sabar.

Salam yang baru saja menyelesaikan pendidikan S2 di UHO (dulu Unhalu) ini mengaku, saat ini merasa bahagia, setidaknya sudah bisa membantu orang lain yang membutuhkan dirinya. Dulunya, ketika masih jadi mahasiwa hidup dalam kekurangan selalu membutuhkan bantuan dari pihak lain. Sekarang, telah merasahkan penderitaan, maka tangannya pun tak berat lagi untuk membantu sesama yang hidup dalam kesulitan.

” Kebahagiaan itu datang ketika bisa membuat orang lain tersenyum, bisa membantu orang lain yang hidup susah,” pungkasnya.

Editor : Aso

Silahkan berikan komentar
Like
Like Love Haha Wow Sad Angry
6

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here