Kisah La Hamidu, Bisa “Kendalikan” Hujan Lewat Telepon

385
La Hamidu saat ditemui di MTQ Kendari
-Advertise-

Kendari, Inilahsultra.com – Hujan disertai petir mengguyur Kota Kendari saat jarum jam menunjuk pukul 00.00 WITa, tanda hari berganti menjadi Minggu 7 April 2019.

Gemercik hujan masih terdengar deras menerpa atap hingga subuh. Padahal, paginya, Komisi Pemilihan Umum (KPU) Sultra dan KPU Kota Kendari bakal menggelar kegiatan akbar, Pemilu Run di area MTQ Kendari.

-Advertise-

Oleh KPU, kegiatan ini merupakan hal yang penting, selain telah direncanakan. Sebab, acara semacam colour run ini tak hanya melibatkan pejabat di Sultra, melainkan ribuan kaum milenial di Kota Kendari.

Meski intensitas air mulai berkurang, sekira pukul 06.00 WITa, sang fajar belum juga terlihat. Sinarnya masih terhalang awan kelabu dengan rintik hujan yang mewarnainya.

Namun, sekitar setengah jam kemudian, rintik hujan mulai sedikit. Sinar matahari langsung, mulai menyembul di balik awan kelabu.

Makin ke sini, cuaca di langit Kota Kendari menjadi cerah. Perubahan cuaca yang begitu cepat tentu mengundang curiga. Biasanya, ada yang berperan di balik itu.

Di salah satu sudut lapangan MTQ Kendari, berdiri seorang pria dengan penampilan yang tak simetris dengan kegiatan hari itu. Ia mengenakan songkok, jaket kulit, tas samping, celana jeans dan sendal kulit tampak membuatnya menjadi asing di tengah mayoritas kawula muda dengan usia anak baru gede (ABG) yang memadati area tersebut.

Lelaki paruh baya itu sesekali menengadahkan kepala ke langit disertai komat kamit. Kadang ia duduk lalu kemudian berdiri lagi.

La Hamidu (50) namanya. Kami berkenalan lepas acara Pemilu Run KPU Sultra selesai. Ia asing bagi saya tapi tampak akrab dengan even organizer (EO) yang menggelar kegiatan.

Termasuk Idul, master of ceremonies (MC) kawakan di Sulawesi Tenggara.

“Beliau yang kendalikan cuaca,” kata salah satu EO kepada saya di MTQ Kendari.

Baca Juga :  Surat Suara Rusak di Sultra Diprediksi Puluhan Ribu

La Hamidu bukan nama mentereng di kalangan EO. Ia lebih akrab disapa Bapaknya Fitri, nama putrinya.

Saat diajak berbincang, Hamidu tampak antusias. Ia macam punya banyak pengetahuan soal kepemiluan. Terlebih soal “mengendalikan” hujan.

Kepada Inilahsultra.com, Hamidu bercerita dirinya diundang oleh KPU di acara tersebut untuk membantu “mengendalikan” hujan.

“Tapi saya bukan pawang hujan,” ujarnya.

Ia bilang, tugasnya hanya sebatas memanjatkan doa agar acara bisa berlangsung sukses tanpa kendala hujan yang merintanginya.

“Ini atas ridho Allah. Ini semua rahasia Allah. Saya hanya membantu mendoakan saja mudah-mudahan kegiatan berjalan baik,” ujarnya.

Bagi Hamidu, berdoa adalah kewajiban hamba terhadap pencipta. Selama doa yang disampaikan tulus, niscaya akan terkabulkan.

Menurutnya, niatan hati menjadi salah satu faktor terkabulnya doa. Termasuk, keyakinan akan sang pencipta yang maha kuasa di alam raya.

“Pada prinsipnya, kita manusia ini memohon dan meminta saja. Ini soal batin saja dan ketulusan,” katanya.

“Pengendali” Hujan Lintas Provinsi

Profesinya sebagai “pengendali” hujan telah dilakoninya sejak 10 tahun terakhir. Namun, ia tidak tahu pasti kapan memulainya.

Ia sebenarnya adalah salah satu imam masjid di pemukimannya di Jalan Pekuburan Kelurahan Punggolaka Kecamatan Puuwatu Kota Kendari.

Namun karena kesibukannya menghadiri undangan jasa “pengendalian” hujan, ia kadang absen memimpin salat jemaah di masjid lorongnya.

Dengan masa waktu 10 tahun itu, tentunya ia sudah punya banyak pengalaman hingga melalang buana kemana-mana.

Di Kota Kendari, ia kandang menghadiri hajatan pernikahan hingga kegiatan yang dilakukan oleh para pebisnis properti.

Nama yang kian menggaung, membuatnya mendapat banyak tawaran di luar Provinsi Sultra.

Suatu waktu, ia mendapat undangan dalam acara peresmian smelter tambang di Kabupaten Morowali Provinsi Sulawesi Tengah dijemput menggunakan helikopter.

Baca Juga :  Dikhawatirkan Mengamuk, Pasien Rumah Sakit Jiwa Kendari Batal Mencoblos

Selain di Sulawesi Tengah, jasanya juga pernah dibutuhkan di Sulawesi Selatan, Makassar.

“Biasanya, saya difasilitasi dan ditanggung semua. Bahkan saya dijemput,” katanya.

Terhadap seluruh honor atas jasanya itu, La Hamidu tidak mau bilang. Ia hanya menerima alakadarnya tergantung keikhlasan.

“Saya tidak mau sebutkan berapa. Yang penting ikhlas,” tuturnya.

Bisa Hanya Lewat Telepon

Padatnya jadwal undangan pun membuatnya kelimpungan. Dalam satu hari beragam tempat ia harus datangi. Bukan hanya di kota, di luar kota, macam kabupaten tetangga meminta kesempatannya hadir.

Jauhnya rentan kendali ini membuatnya tak bisa membagi langkah. Namun, bukan berarti ia harus mengecewakan para “konstituennya” itu.

Cukup dengan melalui telepon ia bisa mengatur cuaca sekalipun tidak maksimal.

“Kadang tidak semua saya datangi. Paling lewat telepon saja. Saya cukup tanyakan tempatnya dimana,” imbuhnya.

Baginya, doa manjur tak memandang jarak. Ia kembali pada pernyataan di muka, bahwa doa tergantung ketulusan dan keikhlasan batin.

Di usianya yang masuk kepala lima ini sangat rugi bila pengetahuannya tak diturunkan. Ia pun pernah berpikir ilmunya bisa diberikan kepada generasinya.

Masalahnya, kata dia, generasi milenial memiliki perbedaan cara berpikir dengan generasi dirinya. Pun tingkah dan pola prilaku yang nir-etik.

Itu tergantung amalan seseorang. Harus banyak istighfar. Jika pernah banyak salah, harus memohon maaf. Kita harus pintar merendahkan diri. Kalau bisa ditanamkan di hati seseorang, Insya-Allah bisa diberikan hidayah,” pungkas pria kelahiran Loghia Kabupaten Muna ini.

Rencananya, KPU Kota Kendari akan menggunakan jasanya ikut mengamankan distribusi logistik dari hujan pada 16 April 2019 besok.

Penulis : La Ode Pandi Sartiman

Silahkan berikan komentar
Like
Like Love Haha Wow Sad Angry

KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here