Balai Karantina Pertanian Kendari Gelar Diskusi Akselerasi Ekspor Menuju Swasembada Daging

586
Pose bersama usai acara Focus Group Discussion (FGD) dengan tema "pengendalian penyakit strategis dalam rangka akselerasi ekspor menuju swasembada daging 2026".

Kendari, Inilahsultra.com – Balai Karantina Pertanian Kelas II Kendari menggelar acara Focus Group Discussion (FGD) dengan tema “pengendalian penyakit strategis dalam rangka akselerasi ekspor menuju swasembada daging 2026” di salah satu Hotel di Kendari, Kamis 2 Mei 2019.

Dalam acara ini menghadirkan Kepala Balai UPTD Pelayanan Labolatorium Kesehatan Hewan, Dinas Tanaman Pangan dan Peternakan Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra) Ir. Muhgiyanto, Ketua Umum Pengurus Besar Perhimpunan Dokter Hewan Indonesia (PBPDHI) H. Muh Munawaroh, dan Dekan Fakultas Peternak Universitas Halu Oleo (UHO) Kendari H. Takdir Saili sebagai pembicara.

- Advertisement -

Kepala Balai Karantina Pertanian Kelas II A Kendari LM Mastari mengatakan, seluruh stakeholder bisa bersinergi untuk meningkatkan produksi dan produktivitas, agar hasil pertanian di Sultra bisa terjual baik domestik maupun ekspor.

“Hadirnya karantina mendukung pemerintah dalam melakukan pembangunan di sektor pertanian khususnya dalam beternak,” katanya.

Ketua PBPDHI H. Muh Munawaroh mengatakan, kegiatan diskusi hari ini cukup bagus karena berkaitan dengan bagaimana meningkatkan swasembada daging.

“Melalui acara ini kita tahu ternyata Sultra salah satu pusat sapi di Indonesia yang sebelumnya kita tidak tahu,” jelasnya.

Namun, sebut dia, potensi sapi di Sultra tidak dibarengi dengan pengelolaan secara profesional, sehingga belum ada pebisnis yang terlibat.

“Investor kita harus didatangkan di Sultra untuk membantu pemerintah dalam rangka mengelola sapi-sapi secara profesional. Pengelolaan dengan cara profesional pasti akan mendapatkan hasil yang lebih maksimal,” jelasnya.

Ia mengaku, masih banyak ditemukan penyakit yang akan menyerang sapi, seperti penyakit sonosis dan rabies.

“Ternyata di Sultra masih tinggi kasus rabies. Kita berkomitmen akan memberikan vaksin untuk bisa dilakukan di Kabupaten Konawe Selatan,” katanya.

Selain sapi, potensi lain di Sultra adalah burung walet. Jenis ini sangat diminati oleh investor.

“Kita tidak tahun, ternyata di Sultra ini sumbernya burung walet,” katanya.

Agar dikenal banyak orang, ia menyarankan promosi menggunakan metode media sosial seperti Facebook, Instagram, website dan kanal lainnya.

“Melalui metode ini, pasti akan banyak orang yang tahu baik dalam negeri maupun luar negeri potensi Sultra,” jelasnya.

Sementara itu, Kepala Balai UPTD Pelayanan Labolatorium Kesehatan Hewan, Dinas Tanaman Pangan dan Peternakan Sultra Muhgiyanto megatakan, pihaknya sudah membentuk tim untuk memantau daging di lapangan khususnya menjelang Ramadan.

“Masalah daging kami selalu melakukan pemantuan dan pengawasan bukan hanya di pasar-pasar, tapi di rumah potong hewan (RPH) juga dilakukan,” jelasnya.

Terkait potensi di Sultra, lanjutnya, informasi mengenai wilayah harus disampaikan secara umum. Kadang-kadang, ada yang tidak nyambung antara investor dengan pemerintah daerah.

“Investor bingung mau mengivestasikan dimana karena tidak ada informasi, sementara dari daerah juga bingung mau jual di mana hasil daerah ini. Ini yang selalu menjadi masalah kita saat ini,” tutupnya.

Penulis : Haerun

Facebook Comments
Like
Like Love Haha Wow Sad Angry
loading...