Ritual Haroa dan Berebut “Menculik” Modhi di Muna

1154
Suasana baca-baca ala masyarakat Muna di Kota Kendari.

Kendari, Inilahsultra.com – Di kalangan masyarakat Muna, serba serbi menyambut Ramadan sudah mulai terasa satu minggu menjelang bulan suci umat Islam.

Makin dekat dengan bulan puasa, rutinitas warga tampak berbeda di hari biasa.

- Advertisement -

Pekuburan tampak ramai oleh peziarah, guna membersihkan makam dan berdoa untuk keluarga yang telah mangkat.

Kemudian, mengambil janur kelapa untuk bahan lapa-lapa dan ketupat tentunya menjadi bagian hal yang utama.

Tak kalah pentingnya, memotong ayam piaraan atau yang dibeli di pasar sebagai pelengkap hidangan yang disimpan dalam bosara, dinamai haroa.

Selain lapa-lapa dan ayam, dalam haroa terdapat beberapa jenis makanan hingga kudapan. Ada waje (nasi yang dicampur gula merah), cucur (tepung beras campur gula merah) dan srikaya (campuran telur dan gula merah). Selain itu, masih banyak lagi.

Bagi masyarakat Muna, membaca haroa bukan hanya untuk mempertahankan budaya turun temurun. Lebih dari itu, membaca haroa menjadi wahana bertemunya keluarga menyambut Ramadan dan memanjatkan doa agar puasa selama sebulan berjalan lancar.

Keberadaan haroa ini tak sebatas hidangan semata. Tak lengkap bila tidak dibaca-bacakan oleh tetua yang ditokohkan dalam agama. Oleh warga Muna, tetua ini dinamakan Modhi atau Lebe (imam).

Status Modhi atau Lebe, cukup sakral dalam kehidupan masyarakat Muna. Saking sakralnya menyandang status ini, pengangkatannya melalui rangkaian sidang tokoh masyarakat dan pemerintah.

Sehingga tidak salah, dalam satu kampung jumlahnya hanya satu atau dua orang saja.

Bagi warga yang ingin menggunakan jasanya, pasti akan kesulitan jika tak janjian. Hanya, janjian pun tidak cukup.

Sebab, di musim haroa, Modhi jarang berada berada di tempat. Lepas membaca haroa di rumah satunya, setengah jam kemudian sudah berada di rumah lain.

Baca Juga :  Kepatuhan Pelayanan Publik, Bombana dan Kota Kendari Masuk Zona Merah

Tak teraturnya jadwal, tak jarang banyak warga yang tunggui di tempat terakhir ia bertandang.

Kadang menegangkan. Sebab, sesama warga siap berebut “menculik” modhi.

Bagi yang terlambat, tentu harus sabar menunggu hingga tengah malam. Jika sudah tak sanggup, tunggu di deker lalu “culik” dan bawa ke rumah.

Selamat menjalankan ibadah puasa bagi yang menunaikan.

Penulis : La Ode Pandi Sartiman

Silahkan berikan komentar
Like
Like Love Haha Wow Sad Angry
1

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here