Tambak Petani di Sekitaran Pabrik VDNI Terancam Tinggal Kenangan

164
Petani tambak di sekitaran PT Virtue Dragon Nickel Industry mengeluhkan aktivitas perusahaan yang berdampak pada mata pencaharian mereka.

Konawe, Inilahsultra.com – Permasalahan di perusahaan pengembangan, pengelolaan dan pemurnian nikel (pabrik smelter) PT Virtue Dragon Nickel Industri (VDNI) tak kunjung selesai.

Pembangunan jalan hauling perusahaan diduga telah mencemari tambak milik warga di sekitar.

Jalan hauling PT VDNI yang diduga mencemari tambak warga.
- Advertisement -

Perusahaan yang modal utamanya dari perusahaan asal Tiongkok ini berdiri sejak 2014 silam di Kecamatan Morosi Kabupaten Konawe.

Jalan hauling yang sementara dibangun dan melewati kawasan tambak milik warga di beberapa desa, dikhawatirkan akan berdampak besar bagi tambak yang ada di sekitarnya.

Beberapa petani tambak di Desa Tani Indah mengeluh dengan kondisi air yang berubah warna, kali besar di daerah tersebut mengalami penyempitan akibat pelebaran jalan.

Sulaiman, salah seorang penambak ikan bandeng, udang dan kepiting mengeluhkan karena kondisi air di tambak miliknya kini berubah, hal itu diduga disebabkan oleh aktivitas jalan.

“Saya tidak berani lagi turunkan Ninin takutnya hasilnya sedikit, dengan kondisi air yang berubah warna tambak saya sudah kotor,” bebernya kepada Inilahsultra.com, baru-baru ini.

Menurutnya, sebelum PT VDNI berdiri dan beroperasi, setiap panen bisa menghasilkan 1 ton perpetak tambak dan bisa memenuhi kebutuhan pasar lokal. Namun untuk saat ini hasil yang didapat tidak sama seperti dulu.

“Di tahun terakhir ini diperkirakan hasil panen hanya mencapai 800 Kg per tambak. Rencananya jika usaha pembudidayaan tambak mengalami kegagalan terus menerus, saya berencana menjual tambak ke pihak perusahaan dengan ketentuan harga cocok,” keluhnya.

Senada dengan penambak lainnya Zulkarnain. Ia mengaku, turunnya produksi terjadi sejak adanya aktivitas pembangunan jalan oleh pihak PT VDNI.

Padahal, bila tahun-tahun sebelumnya, ia tercatat sebagai eksportir ikan hingga ke Singapura.

“Untuk mempertahankan aset kepemilikan tanah, saya terpaksa menimbun sebagian tambak dan membangun rumah kost yang disewakan kepada para pekerja di PT VDNI,” terangnya.

Baca Juga :  Rakor dengan Forkompimda, KPU Baubau Harap Pilkada Damai

Diknfirmasi terpisah, Penanggung Jawab Teknik dan Lingkungan PT VDNI, Wahyudi Agus Kristianto mengatakan, status jalan yang dikeluhkan petani tambak tersebut adalah jalan hauling. Ia mengaku, jalan hauling itu digunakan sebagai jalur transportasi membawa material dari jeti ke perusahaan dan sebaliknya.

“Pihak perusahaan sudah memenuhi standar dan juga rutin melakukan penyiraman dan menyiapkan kantong lumpur. Jika menurunnya hasil panen tambak warga disebabkan dari debu jalan perusahaan, perlu ada penelitian dari pihak akademisi untuk menguji kepastian mengapa hasil tambak warga menurun,” terangnya.

Kata Wahyudi, terkait usulan ganti rugi, pihak perusahaan tidak pernah menutup diri. Kalau masalah pembelian tanah atau tambak itu bisa saja dilakukan, asal sesuai dengan regulasi.

“Misalnya harganya 5.000 per meter, lalu mintanya 500.000 ribu itu kan tidak mungkin. Jika ada keluhan dari warga maka bisa saja langsung bersurat, nanti akan dibahas bersama untuk kemudian dicarikan solusi yang sama-sama menguntungkan,” ujarnya.

Penulis : Onno

Facebook Comments
Like
Like Love Haha Wow Sad Angry

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here