Tinjauan Budaya dalam Mudik Lebaran Menurut Dosen Universitas Haluoleo

50
Akhmad Marhadi. (Dok Facebook)

Kendari, Inilahsultra.com – Fenomena mudik dan beratnya tantangan yang dihadapi para pemudik, tidak pernah menyurutkan niat dan kemauan orang Muna untuk mudik ke kampung halaman baik di Muna maupun Muna Barat.

Dekan Fakultas Ilmu Budaya Universitas Halu Oleo Kendari Dr Akhmad Marhadi S.Sos MSi mengurai beberapa hal yang dalam pandangan sosial budaya mendorong untuk mudik.

- Advertisement -

Pertama, perayaan hari kemenangan merupakan kewajiban bagi umat Islam, terlebih dirayakan di kampung halaman. Hal ini, kata dia, telah menjadi budaya hampir seluruh wilayah di Indonesia.

“Hal ini didorong sesuai anjuran dalam Islam bahwa mereka yang sudah berpuasa akan diampuni dosanya di hadapan Allah SWT. Selain itu, sebagai ajang silaturahmi kepada orang tua, saudara, tetangga dan sekampung untuk bermaaf-maafan satu dengan yang lain,” kata Akhmad Marhadi, Senin 3 Mei 2019.

Kedua, ziarah ke kubur telah menjadi budaya di kalangan masyarakat Muna menjelang puasa Ramadan dan Idulfitri.

“Berziarah ke kubur orang tua, kakek, nenek dan leluhur serta keluarga terdekat dimotivasi untuk mendoakan arwah mereka,” jelasnya.

Ketiga, rindu kampung halaman. Setiap tahun kerinduan kepada kampung halaman selalu diobati dengan mudik. Ini adalah fenomena sosial budaya yang menarik sebagai makhluk sosial.

Oleh karena itu, tantangan berat yang dihadapi untuk pulang kampung, tidak menjadi persoalan mereka walaupun harus bermalam berhari-hari di pelabuhan penyeberangan.

Keempat, bernostagia di kampung halaman. Masa kecil di kampung halaman adalah masa-masa yang paling indah dan menyenangkan. Maka setiap tahun, kenangan indah itu, selalu ingin diperbaharui dengan pulang kampung guna melihat dan menikmati susana yang berbeda sambil membawa keluarga.

Kelima, kadang yang memotivasi untuk pulang kampung adalah sebagai ukuran kesuksesan para perantau. Hal itu, ikut juga mewarnai perasaan sebagian pemudik untuk pulang kampung. Budaya pamer berlaku kepada semua tingkatan sosial.

Baca Juga :  Bawaslu Sultra Antisipasi Peredaran Majalah Indonesia Barokah

“Maka momentum Lebaran, pulang kampung dengan niat yang bermacam-macam, salah satu adalah memperlihatkan dan memotivasi diri terhadap kesuksesan di perantauan,” ujarnya.

Mudik Punya Negatif

Mudik Lebaran yang sudah menjadi budaya, ternyata ada dampak negatifnya juga. Akhmad Marhadi menyebut ada tiga dampak negatif.

Pertama, konsumerisme, pamer kemewahan, boros dan berbagai perilaku yang tidak sepenuhnya sesuai dengan ajaran Islam dan tujuan puasa itu sendiri.

Di mana hasil puasa selama sebulan penuh, seharusnya semakin menghadirkan ketakwaan yaitu kedekatan kepada Allah SWT dan sesama manusia yang sebagian besar masih mengalami kesulitan hidup.

“Mereka masih dihimpit kemiskinan, kebodohan dan keterbelakangan,” paparnya.

Kedua, pulangnya para pemudik untuk berlebaran di kampung halaman, dengan memamerkan kemewahan misalnya mobil yang bagus, baju dan sepatu yang baru, bisa menimbulkan cultural shock (goncangan budaya).

Di mana orang-orang kampung atau desa meniru dan mengikuti cara hidup orang kota yang pulang kampung, misalnya berutang dan atau menjual harta benda seperti tanah untuk membeli motor, mobil dan sebagainya sebagai asesori kemewahan.

“Bisa juga orang-orang kampung terutama anak-anak muda, laki-laki dan perempuan merantau, dalam rangka mengikuti jejak para pemudik. Untuk mendapatkan harta dan kemewahan, mereka menghalalkan segala cara untuk mendapatkan uang dan harta, supaya tahun berikutnya, mereka juga bisa mudik dan menampilkan kekayaan dan kemewahan seperti saudara-saudaranya yang mudik tahun lalu,” katanya.

Ketiga, memacu urbanisasi dan migrasi. Mudik lebaran juga bisa berdampak negatif yang memacu peningkatan urbanisasi, yaitu perpindahan penduduk dari kampung atau desa ke berbagai kota di Indonesia.

Dalam sejarah mudik lebaran, sudah terbukti bahwa usai mudik lebaran, semakin banyak orang kampung yang melakukan urbanisasi, meninggalkan kampung halamannya untuk mencari kehidupan di kota.

Baca Juga :  Cleaning Service Hingga Security Terima Bingkisan Lebaran dari Darma Wanita UHO

Dampak Positifnya

Mudik lebaran, di samping menimbulkan dampak negatif, juga banyak dampak positifnya.

Pertama, dampak ekonomi. Mudik para perantau telah menimbulkan dampak positif bagi ekonomi di kampung halaman. Mereka pulang dengan membawa uang dan berbelanja telah mendorong perputaran ekonomi yang tinggi di kampung. Sehingga para petani, pedagang, nelayan dan pemerintah daerah mendapat manfaat ekonomi.

Terjadinya perputaran ekonomi berdampak pendapatan dan kemajuan kampung halaman. Belum lagi, pemudik memberi sedekah, zakat fitrah dan zakat harta (mal) kepada keluarga dan penduduk di kampung halamannya.

Selain itu membangun silaturahim antara pemudik dan penduduk kampung terbangun kembali, yang selama hampir satu tahun tidak pernah bertemu.

“Ini sangat positif untuk memelihara, merawat dan menjaga bangunan kebersamaan antarkeluarga di kampung halaman dalam tatanan religiusitas, seharusnya memberi andil yang besar untuk menjaga, merawat dan memupuk silahturahmi dalam perayaan Idulfitri. Hal ini, tidak bisa dinilai dengan pengorbanan harta dan tenaga yang dilakukan para pemudik,” bebernya.

Keempat, peristiwa mudik lebaran juga mempunyai dampak positif dalam pengamalan ajaran Islam. Karena di tengah kemajuan yang membawa manusia kepada perilaku individualistik, yang enggan berhubungan dengan pihak lain dan merasa terganggu, melalui medium silaturahim Idulfitri dalam rangka hubungan manusia (hablun minannaas) tetap diamalkan, dan bahkan telah menjadi budaya masyarakat.

Kelima, secara sosiologis, mudik lebaran mendekatkan si perantau yang sudah sukses dengan mereka yang masih berdomisi di kampung halaman seperti orang tua, famili dan teman-teman.

Peristiwa mudik, bisa memperbaharui kembali hubungan sosial dengan masyarakat sekampung, yang tentu berdampak positif dalam memperkuat dan mempererat silahturahmi.

Jadi, peristiwa mudik lebaran yang telah menjadi budaya, harus terus dipelihara, dijaga dan dilestarikan, karena dampak positifnya lebih banyak ketimbang dampak negatifnya.

Baca Juga :  Ali Mazi Diminta Hati-hati Soal Tambang di Wawonii

Yang harus dilakukan ialah mengurangi dampak negatif mudik dengan meningkatkan kesadaran para pemudik bahwa keselamatan dalam perjalanan mudik adalah segalanya.

“Mereka yang akan mudik, dan sedang dalam perjalanan mudik, diharapkan semakin hati-hati menjaga keselamatan. Jangan memaksakan diri dalam perjalanan, harus berhenti dan beristirahat secukupnya baru melanjutkan lagi perjalanan,” imbaunya.

Pada tahun-tahun mendatang, mudik dengan kendaraan bermotor secara bertahap harus dihentikan dengan menitipkan kendaraannya di kapal laut, dan kereta api untuk diantar ke kampung halaman.

Suami istri, dan dan anak-anak, sebaiknya memilih kendaraan umum, kereta api atau kapal laut untuk keselamatan dalam perjalanan mudik.

Kedua, pemerintah harus terus meningkatkan penyediaan transportasi massal untuk melayani pemudik. Selain itu, berbagai perusahaan yang peduli pemudik, dari jauh hari harus bekerja sama dengan media untuk memberitahu masyarakat tentang adanya penyediaan fasilitas mudik.

Ketiga, para pemudik harus membuat perencanaan. Paling kurang tiga bulan sebelum mudik sudah memesan tiket dan menghubungi perusahaan atau organisasi yang biasa menyelenggarakan mudik bareng secara gratis.

Keempat, pemerintah terutama Kementerian Pekerjaan Umum RI, sudah saatnya membuat jalan yang berkualitas tinggi untuk jangka waktu yang panjang.

“Jangan seperti sekarang, setiap tahun jalan raya yang dilalui pemudik dilakukan tambal sulam dan tidak pernah baik,” kata Ketua Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU) Sultra ini.

Kelima, sudah saatnya seluruh bangsa Indonesia terutama para pemudik meningkatkan disiplin dalam berlalu lintas. Pada saat yang sama, aparat kepolisian sebagai aparat penegak keamanan, menindak mereka yang tidak disiplin dalam berlalu lintas.

Penulis : La Ode Pandi Sartiman

Facebook Comments
Like
Like Love Haha Wow Sad Angry

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here