Pangdam Hasanuddin Kerahkan Raider Amankan Situasi di Buton

1130
Pangdam IX Hasanuddin, Mayjend TNI Surawahadi saat berkunjung ke Kabupaten Buton meninjau lokasi pengungsian korban bentrokan warga dua desa di Kecamatan Siontapina, Jumat 7 juni 2019.

Pasarwajo, Inilahsultra.com – Untuk mengamankan wilayah konflik di Kecamatan Siontapina Kabupaten Buton, Kodam IX Hasanuddin menurunkan 100 orang pasukan Raider. Sementara Polda Sultra menurunkan 600 personil.

Pangdam IX Hasanudin Mayjen TNI Surawahadi mengatankan, personil Raider itu datang menggunakan satu pesawat Herkules dan dua kapal KRI. Mereka akan bertugas mengamankan dua desa yang bertikai, Desa Gunung Jaya dan Desa Sampoabalo Kecamatan Siontapina.

- Advertisement -

“Kita semua sedih, kalau bisa saya menangis. Saya tidak tidur, Pak Kapolda tidak tidur, Danrem tidak tidur, semua berada di perbatasan desa. Kita prihatin,” ujarnya saat mengunjungi lokasi pengungsian, Jumat 7 Juni 2019.

Kata dia, untuk mengamankan situasi, TNI minta dibangun pos penjagaan di perbatasan desa. Pos itu nantinya akan diisi personil TNI dari Satuan Raider. Mereka akan bertugas mengamankan warga dan menormalkan situasi.

“Mudah-mudahan ini tidak akan terulang lagi tentunya,” harapnya.

Surawahadi menegaskan, pihaknya tidak akan mentolerir jika ada oknum anggota TNI yang terlibat. Mereka dipastikan akan ditindak tegas sesuai aturan yang berlaku.

Saat ini, lanjut dia, dua oknum anggota TNI yang diduga terlibat, telag diperiksa di Kodim 1413 Buton. Jika nanti mereka terbukti bersalah, pasti akan dihukum seberat-beratnya.

Surawahadi menambahkan, selain mengamankan situasi, personil TNI yang diturunkan juga ditugaskan untuk membangun kembali rumah warga yang terbakar dan rusak. Apalagi pemerintah telah bersedia menanggung perbaikan.

Kapolda Sultra Brigjen Pol Irianto menambahkan, semua prihatin atas kejadian yang menimpa warga Desa Gunung Jaya.

“Saya Kapolda Sulta memohon maaf, ini tanggung jawab kita bersama Pak Dandrem,” ucapnya.

Bukan hanya itu, Irianto juga menepis tudingan jika kepolisian tidak melakukan penegakan hukum. Pihaknya masih terus berupaya melakukan penegakan hukum sejak bentrokan pecah pada Rabu 5 Juni 2019.

Baca Juga :  HUT RI ke 73 Ajang Memupuk Semangat Kebangsaan

“Kita tidak ingin ada korban berkepanjangan. Sudah ada langkah pemeriksaan dan beberapa saksi diperiksa. Nanti akan ada pengembangan,” terangnya.

Menurut Irianto, dari pengambilan keterangan sejumlah saksi, ada yang benar dan tidak. Yang tidak benar akan diluruskan. Pasalnya, dalam penetapan tersangka harus ada alat bukti.

“Di Desa Sampobalo setiap kejadian pasti tidak ada yang mengaku. Makanya saksi berikan keterangan yang benar dan alat bukti kepada kepolisian,” pintanya.

Nantinya, lanjut Irianto, tersangka dalam bentrokan antar warga itu akan dibawa ke Polda Sultra di Kendari. Sehingga tidak menjadi masalah di daerah.

Makanya, Irianto meminta agar warga mempercayakan penanganan kasus tersebut kepada aparat penegak hukum.

Saat ini, tambah Irianto, Polda Sultra telah menurunkan 600 personil. Mereka berasal dari tiga kompi Brimob Polda Sultra, dua kompi personil Polres Buton, Polres Muna, dan Polres Baubau.

Irianto menegaskan, tidak akan dilakukan penarikan personil sampai situasi benar-benar aman.

“Tidak usah kuatir. Masyarakat dari luar bukan dari Desa Gunung Jaya jangan libatkan diri. Hal ini untuk mencegah terjadinya konflik lanjutan. Berikan kepercayaan kepada TNI/Polri yang akan ditangani sampai tuntas,” tandasnya.

Reporter: Wa Ode Yeni Wahdania
Editor: Din

Facebook Comments
Like
Like Love Haha Wow Sad Angry

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here