Merawat Asa di Tengah Bencana Banjir Konawe Utara

154
Halisa saat memerlihatkan sekolahnya yang terkepung lumpur.

Kendari, Inilahsultra.com – Selain puasa secara rutin, bulan Ramadan kemarin dimanfaatkan Halisa (13) untuk belajar. Maklum, usai libur panjang lebaran, ia akan menjalani ujian penaikan kelas di SMP Negeri 1 Asera.

Selain belajar, ia juga sudah menyiapkan sebagian perangkat alat tulis yang akan digunakan dalam ujian selama sepekan mulai 17 Juni 2019 sampai 22 Juni 2019.

- Advertisement -

Namun, dua hari sebelum hari raya, tepatnya 3 Juni 2019, kampungnya, Desa Walalindu Kecamatan Asera Kabupaten Konawe Utara dilanda bencana banjir. Ia tidak sempat menyelamatkan sebagian alat tulis yang disiapkan termasuk pakaian sekolah.

Harta milik orang tuanya pun ikut terendam banjir bercampur lumpur.

                       

Beruntung, pada banjir pertama itu, air sempat surut. Warga masih sempat kembali ke rumah untuk menyelamatkan sebagian barang yang tersisa. Namun, alat belajar hingga sebagaian pakaiannya tidak diketemukan.

Meski air sudah surut, warga tetap harus berada di pengungsian karena hujan terus mengguyur. Belum lagi, lumpur masih mengepung sana sini.

Pengalaman warga, banjir tidak terjadi dua kali dalam satu pekan. Biasanya, setelah air surut, warga sudah bisa kembali ke rumah.

Namun, perkiraan tak sama dengan pengalaman sebelumnya. Banjir bandang kembali datang pada Jumat 7 Juni 2019.

Saat hari beralih ke Sabtu sekira pukul 01.00 WITa, air bah disusul lumpur menghantam sejumlah rumah di Desa Walalindu. Setidaknya, ada enam rumah yang terseret arus di desa tersebut, termasuk rumah orang tua Halisa. Beruntung, tak ada korban jiwa dalam peristiwa banjir bandang ini.

Ujian di Sekolah Dasar

Halisa bersama anak korban banjir lainnya harus mengikuti ujian penaikan kelas di SD Negeri 3 Asera. Sebab, SMP 1 Asera, tempat mereka sekolah sudah tidak berfungsi lagi.

Baca Juga :  Potret Almarhumah Yati Lukman di Expose Satu Tahun AMAN

Lumpur setinggi paha orang dewasa mengepung sekolah Halisa. Rumah di sekeliling sekolah beberapa diantaranya rubuh dan hilang diterjang arus.

Halisa mengaku, ia sudah dua minggu tak belajar di sekolahnya itu.

“Mau dibersihkan dulu baru bisa masuk,” kata Halisa, Sabtu 22 Juni 2019.

Halisa ditemui jurnalis saat melintas di jalan masuk kampung. Ia dibonceng orang tuanya yang hendak mengantarnya ke SD Negeri 3 Asera untuk ikut ujian.

Halisa dan orang tuanya ikut saja saat kami memintanya untuk menujukkan sekolahnya terendam lumpur.

Usai sesi foto dan bercerita sebentar, Halisa kami antar ke SD yang jaraknya kurang lebih 500 meter dengan menggunakan mobil.

Tiba di sekolah, penampilan Halisa tampak tak jauh berbeda dengan beberapa anak-anak lainnya. Kebanyakan mengenakan pakaian biasa.

Nesa, Putri, Halisa dan Nesa berpose sebelum ujian penaikan kelas.

Halisa boleh syukur bisa mengenakan rok seragam sekolah. Tapi tidak bagi Putri Arnita (13) kelas 8, Nesa Safitri (13) kelas 8 dan Nesa Astria Ningsih (13) kelas 7.

“Rumahku diseret arus,” kata Putri Arnita.

Cerita keempat anak ini nyaris semua sama soal bencana yang menghanyutkan seluruh pakaian dan alat belajar mereka.

“Saya tidak belajar karena semua bukuku hanyut,” kata Halisa ditanya persiapan ujian Pendidikan Agama.

Saat banjir pertama 3 Juni 2019, Halisa mengaku sudah lebih dulu mengungsi.

Begitu pula dengan Putri Arnita (13) ia langsung dibawa lari orang tuanya saat banjir mulai menghantam.

“Sebelum lebaran sudah naik air. Baju tidak diselamatkan karena tidak mengira air banjir,” tuturnya.

Sementara Putri menyebut, rumahnya berada di Desa Tapuwatu Kecamatan Asera tepatnya di depan lapangan.

“Tapi ikut disapu banjir juga,” jelasnya.

Desa terakhir yang disebut adalah desa yang terdampak banjir paling parah. Sebab, dari 85 rumah, tinggal tersisa 6 bangunan yang berdiri. Selebihnya hanyut dibawa arus.

Baca Juga :  Mahasiswa IKS FISIP UHO Gelar Lokakarya PMPKS Kota Kendari

“Rumahku diikat dipohon tapi hanyut juga,” tururnya.

Meski banjir telah menghancurkan rumah dan perkampungan mereka, tapi cita-cita anak-anak ini tampak tak kendur.

Dengan semangat, Nesa menegaskan ingin jadi Dokter. Sedangkan Nesa Astria Ningsih ingin jadi guru.

Begitu pula putri. Ia ingin jadi tenaga pendidik di kampungnya agar generasi pintar merawat lingkungan.

“Supaya mereka bisa jaga lingkungan ini,” imbuhnya.

Terakhir Halisa. Ia ingin jadi dokter agar jika terjadi musibah, dirinya menjadi orang pertama yang akan merawat warga yang sakit.

Penulis : La Ode Pandi Sartiman

Facebook Comments
Like
Like Love Haha Wow Sad Angry
loading...