Anggota Dewan Menduga Pengerjaan Drainase di Desa Madampi Tak Sesuai Bestek

861
 

Anggota Dewan Menduga Pengerjaan Drainase di Desa Madampi Tak Sesuai Bestek

Laworo, Inilahsultra.com – Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Muna Barat (Mubar) Ahmad Abasa Karib menduga, proyek pengerjaan drainase di Desa Madampi tidak sesuai bestek.

- Advertisement -

Berdasarkan pantauanya di lapangan, proyek pekerjaan yang memakan anggaran miliaran tersebut diduga tidak sesuai dengan perencanaan awal.

“Hasil pantauan di lapangan, kita temukan pekerjaan terhamburan. Jadi harus dievaluasi dulu. Entah itu dari campuranya. Jika semua sesuai bestek, kenapa yang kita kore sedikit langsung terhamburan,” kata Abas kepada Inilahsultra.com, Minggu 30 Juni 2019 lalu.

Untuk itu, ia meminta kontraktor menghentikan sementara pekerjaan dan mengevaluasi kembali bahan material yang digunakan sesuai RAB berdasarkan hasil laboratorium.

Dari proses pengerjaan yang tidak sesuai bestek, sebut dia, drainase ini tidak akan sampai setahun.

“Pasti akan cepat rusak. Jadi ini pekerjaan dihentikan dulu untuk di evaluasi kembali. Harus berhenti dulu. Kita datangkan dulu tim auditor, Datangkan dulu tim konsultan nasional. Kita tidak mau begini ini barang,” tegas Abas.

Aman, kepala tukang pekerjaan itu mengaku, kontraktor proyek ini bernama Mastur.

Mewakili kontraktor, ia membantah pernyataan Abas Karib. Menurutnya, pekerjaan yang sementara berjalan itu sudah sesuai dengan perencanaan.

“Itu sudah ditentukan diperencanan . Kita hanya terima hasil perencanaannya. Persoalan bahan material pasir dan batu semua dari hasil lab. Campuran sesuai RAB yaitu  1 : 4 dengan memakai batu gunung,” kata Aman.

Proyek ini dikerjakan oleh perusahaan PT Vatdeco Tama Wajah dengan total anggaran Rp 10. 653.730.583,41 dan waktu 180 hari kalender, mulai 19 Maret 2019 – sampai 19 September 2019.

Proyek pekerjaan tersebut melekat di Dinas Sumber Daya Air dan Bina Marga pemerintah Provinsi Sulawesi tenggara yang masuk dalam program hibah jalan daerah (PHJD)

Program ini, sebut dia, dimulai dari Tugu Lagadi sampai dengan Desa Lindo yang melibatkan 6 pengawas.

“Jadi ada beberapa titik yang dikerjakan. Titik pertama dari tugu Lagadi sampai Madampi setelah itu masuk Lapadaku, Wamelai, terus masuk Latompe depan balai desa, lalu Katobu dan terakhir Desa Lindo,” pungkasnya.

Penulis : Muh Nur Alim

Like
Like Love Haha Wow Sad Angry
Komentar
loading...