Potret Guru di Laonti : Tak Ada Akses Darat, Terpaksa Jadi “Bajak Laut”

961

Kendari, Inilahsultra.com – Bakda Ashar, Senin 6 Juli 2019, gadget Nasir Madi (30) berbunyi tanda pesan Whatsaap barusan masuk. Padahal, jaringan seluler di Desa Labuan Beropa Kecamatan Laonti Kabupaten Konawe Selatan saban hari tidak bagus.

Pesan itu sempat tak dihiraukan. Namun, rasa penasarannya cukup tinggi hingga ia membukanya. Ada apa gerangan.

Advertisements
- Advertisement -

Betul saja, pesan itu nyatanya sangat penting. Terutama bagi nasib guru dan perjalanan belajar mengajar di sekolahnya, SMP Negeri Satu Atap (Satap) 12 Konawe Selatan.

Salah satu pegawai Diknas Provinsi Sultra meminta agar ia bersama kepala sekolahnya segera bertolak ke Kendari untuk membawa berkas, mengurus pencairan dana bantuan operasional sekolah (BOS) triwulan I. Waktu yang diberikan pun begitu kasip.

“Penyetoran di dinas paling lambat Rabu 10 Juli 2019. Tidak boleh diwakili. Harus bersama kepala sekolah,” kata Nasir Madi saat ditemui di Kendari, Minggu 15 Juli 2019.

Deadline yang diberikan itu, otomatis waktu lowong ke Kendari tinggal Selasa. Sementara, akses ke ibu kota provinsi, satu-satunya jalur hanya melalui laut. Sebab, di desa yang didiaminya sejak 2014 lalu, tak ada jalur darat menuju kecamatan, terlebih ibu kota.

“Terpaksa kita harus naik kapal besoknya,” katanya, Minggu 15 Juli 2019.

Namun, naik kapal bukan perkara mudah nan cepat macam di kota. Mobilitas warga ke Kendari yang tidak menentu, membuatnya sulit mendapatkan tumpangan.

Bagi warga yang ke Kendari, hanya sekadar urusan tertentu. Macam, menjual ikan, atau belanja bulanan.

Tak adanya kapal yang ke Kendari, terpaksa harus menjadi “bajak laut”. Kapal rute Wawonii-Kendari yang kerap melintas saban hari di perairan muka kampung, menjadi target tumpangan.

“Kebetulan, setiap hari mereka lewat sekitar pukul 12.00 WITa. Jadi, kita naik sampan ke tengah laut, baru tahan mereka untuk menumpang,” jelasnya.

Setiap “bajak laut”, kata dia, minimal membayar Rp 20 ribu. Tapi k adang pula gratis, karena pihak kapal tak mematok harga alias seikhlasnya.

Baginya, biaya yang dikeluarkan ini, amat lah wajar bila dibandingkan dengan urusan yang sangat penting waktu itu–pencairan BOS.

Cerita Nasir ini, merupakan potret guru di desa terpencil di Kecamatan Laonti. Nir-akses jalan dan minim alat transportasi laut.

Nasir Madi adalah salah satu guru di daerah terpencil di Desa Labuan Beropa Kecamatan Laonti Kabupaten Konawe Selatan. Ia juga merangkap jadi bendahara di sekolahnya.

Saya menemui Nasir di kediamannya di Kendari, Kelurahan Anduonohu Kecamatan Poasia. Kebetulan, Nasir adalah sahabat lama di kampung, Kelurahan Wamelai Kecamatan Lawa Kabupaten Muna Barat.

Kepada Inilahsultra.com, Nasir menceritakan suka duka mengajar di daerah terpencil, di Kecamatan Laonti Kabupaten Konsel.

Guru-guru di SMPN Satap 12 Konawe Selatan berpose bersama. Nasir Madi (ujung kiri). (Istimewa)

Potret Desa Labuan Beropa

Desa Labuan Beropa adalah salah satu desa di Kecamatan Laonti yang tak bisa diakses melalui darat, kecuali laut. Desa ini berada di pesisir, tepatnya, di jalur lalu lintas kapal dari dan ke Kendari-Muna-Baubau.

Baca Juga :  Bupati Butur Ingatkan Pejabat Tak Boleh Banyak Mengeluh

Angin kencang di musim timur macam saat ini, menjadi ancaman tersendiri bagi pengguna kapal kecil, khususnya di Perariran Tambolosu Konawe Selatan.

Jika ingin berurusan di Pemkab Konsel yang berada di Andoolo, mereka harus memutar ke Kendari dulu atau ke Moramo dengan menggunakan perahu. Dari Moramo, baru menuju Lapuko, Kolono, Puupi lalu tiba di Andoolo.

“Perjalanannya lama. Tapi, saya jarang lewat di situ. Saya harus ke Kendari dulu karena kendaraan saya ada di Kendari. Setelah itu ke Andoolo melalui jalur darat,” urainya.

Desa Labuan Beropa pernah masuk sebagai daerah tertinggal. Hanya saja, pada 2016 lalu, statusnya berubah menjadi tertinggal. Perubahan status ini berdampak pada dihapusnya tunjangan guru daerah terpencil.

Praktis, selama tiga tahun dari 2016 sampai 2019, tenaga pengajar di sana, tidak mendapatkan tunjangan sebagaimana mestinya.

Setiap guru PNS, mendapatkan tunjangan, satu kali gaji pokok. Sedangkan GTT, perbulannya mendapatkan Rp 1,5 juta.

“Tapi sekarang mulai masuk lagi sekolah daerah tertinggal data diupdate kembali,” jelasnya.

Mayoritas warga Desa Labuan Beropa bekerja sebagai nelayan dan pembuat kapal besar. Jumlah masyarakat di sana, tidak sampai seribu orang. Meski terisolir dari seluruh akses, semangat warga desa ini untuk sekolah cukup tinggi.

Hal itu ditandai dengan begitu terbukanya dengan kehadiran guru di sana.

“Pas saya datang, mereka sangat senang. Mereka bersyukur ada guru yang akan mengajar anak-anaknya,” kata Nasir.

Di kampung ini, terdapat dua bangunan pendidikan. Yakni, sekolah dasar (SD) dan SMP yang kemudian dinamakan Satap 12 Konawe Selatan.

Sekolah ini didirikan tahun 2008 yang sebelumnya hanya untuk sekolah dasar (SD). Seiring berjalannya waktu, hingga adanya bantuan dari USAID, maka sekolah ini menjadi Satap antara SD dan SMP.

Meski satu atap, SD dan SMP berdiri terpisah lantaran persoalan lahan yang tidak memadai.

Khusus di SMP Negeri Satap 12 Konawe Selatan, terdapat 66 orang siswa, terdiri dari kelas 7 sebanyak 24 orang, kelas 8 ada 22 orang dan kelas 9 sebanyak 20 orang.

Dari 66 orang pelajar ini, sekitar 20-an orang berasal dari Dusun Baho Desa Labuan Beropa. Setiap hari, mereka ke sekolah harus lewat kapal katinting.

Bahkan, suatu hari, para siswa ini mengalami musibah kapalnya dihantam ombak hingga terbalik. Beruntung, para bocah ini berhasil berenang di tepian pantai.

“Waktu itu, kita lagi upacara di Laonti. Kita dapat informasi, bahwa anak-anak tenggelam. Kita panik dan khawatir. Beruntung, mereka tidak apa-apa,” kata Nasir.

Keberadaan siswa dari Dusun Baho ini dinilai penting karena tanpa ada mereka, sekolah kadang sunyi.

“Kalau musim angin utara, kadang satu kelas itu kosong. Soalnya, banyak dari Dusun Baho tidak hadir,” ujarnya.

Baca Juga :  Senin Ini, Pemkab Butur Umumkan Pemecatan Tujuh ASN eks-Napi Korupsi

Khusus di SMP Negeri Satap 12 Konsel, ada dua guru PNS, dia dan kepala sekolahnya, Jabir. Mereka dibantu 4 guru tidak tetap (GTT). Sebanyak enam guru itu, mengajar 10 mata pelajaran.

Nasir sendiri, mengajar beberapa mata pelajaran sekaligus. Selain IPA jadi mata pelajaran utamanya, ia kadang mengajar olahraga dan kesenian.

Khusus di Kecamatan Laonti, pada penerimaan CPNS 2014, ada 11 orang guru yang ditempatkan. Hanya saja, yang tersisa tinggal tiga orang.

“Mereka mundur karena sulitnya akses darat,” jelasnya.

Bayangan pertama Nasir saat ditugaskan di sekolah ini, daerah tersebut memiliki akses jalan darat yang bisa dilalui kendaraan bermotor. Kedua, ketersediaan jaringan listrik dan internet.

“Ternyata pas di sana, tidak ada. Untuk listrik, baru jaringan tenaga surya itu pun nanti masuk 2017. Sebelumnya tidak ada. Warga pakai dynamo dan genset,” jelasnya.

Khusus jaringan internet, warga harus ke pinggir laut atau ujung jembatan. Biasaya, handphone mereka menangkap jaringan yang melintas dari pemancar Pulau Wawonii.

Awalnya, Nasir begitu frustasi dengan segala kekurangan di kampung itu. Namun, ia tidak pernah terbesit untuk meminta pindah. Meski harus bertahan di tengah kekurangan infrastruktur, ia sudah menganggapnya biasa.

“Saya di sana semacam sekadar rekreasi. Mengajar bukan sebagai beban, tapi sebagai tempat rekreasi,” katanya.

“Saya tidak ada kepikiran untuk pindah dan masih nyaman karena masyarakt menerima dengan baik. Siswanya juga patuh, karakternya bagus,” tuturnya.

Nasir Madi, guru daerah terpencil yang sedang mengajar siswanya mata pelajara IPA. (Istimewa)

Nyaris Terbakar di Kapal

Nasir Madi pertama kali diangkat menjadi CPNS di Kabupaten Konsel pada Februari 2014 dan ditempatkan di SMP Negeri Satap 12 Konawe Selatan di Desa Labuan Beropa Kecamatan Laonti Kabupaten Konawe Selatan.

Pertama kali mendengarnya, desa ini sangat asing bagi Nasir. Maklum, ia belum sempat ke sana.

Nah, pada saat mengikuti orientasi CPNS di Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Konsel di Andoolo, ia menyempatkan mencari tahu nomor handphone Kepala SMP N Satap 12 Konsel, Jabir.

“Kepala bidang itu telpon pak kepala sekolah bahwa ada guru yang mau datang di situ,” beber Nasir.

Lewat telepon seluler, Nasir kemudian menghubungi Jabir terkait rencananya ingin ke Desa Labuan Beropa. Namun Jabir meminta Nasir untuk tak tergesa-gesa.

“Pesannya selesaikan urusan jangan pikir di sini, nanti selesai baru ke sini,” kata Nasir menirukan ucapan Jabir.

Waktu pemberangkatan ke Labuan Beropa akhirnya tiba pada pagi buta pertengahan Juni 2014. Nasir dijemput langsung oleh Jabir dengan menggunakan kapal katinting.

“Saya dijemput pelabuhan Beringin, di samping pelabuhan feri Wawonii,” jelasnya.

Bagusnya, Jabir cukup paham menyambut tamu baru pada kesan pertamanya. Bila selama ini melewati jalur yang sering dilalui kapal besar, saat membawa Nasir, kapal dilewatkan di jalur yang minim ombaknya.

Baca Juga :  Alumni SMAN 1 Lawa Bantu Korban Kebakaran di Desa Latugho

“Katanya, supaya saya tidak kaget dengan ombak. Dia buat kesan pertama tidak ada ancaman apa pun. Pokoknya dia bikin senyaman mungkin di sana. Malahan tidak lewat jalur kapal Superjet. Kita melewati Bungkutoko dan lewati hol,” katanya.

Nasib berbeda, kata Nasir dengan 11 orang temannya yang sama-sama ditugaskan di Laonti. Mereka melewati jalur dengan ombak yang keras yang membuat mereka belakangan mundur dan memilih pindah.

Satu minggu setelah tiba di Desa Labuan Beropa, Nasir punya urusan di Kendari yang membuatnya terpaksa balik sementara.

“Saya masih ingat betul itu hari Jumat. Setelah salat Jumat, mau balik Kendari untuk urusan hasil S2,” katanya.

Hari itu, kata Nasir, sangat menegangkan. Kapal yang ditumpanginya terbakar akibat kebocoran bensin di karburator. Ia tidak bisa berbuat banyak kala itu.

“Saya hanya pegang tas yang berisi laptop dan data sekolah ada di dalamnya semua,” ujarnya.

Beruntung, warga kampung yang mengetahui kebakaran, langsung berdatangan. Sebab, asap hitam telah membumbung di langit yang terlihat jelas dari kejauhan di kampung.

“Warga kaget, guru yang datang mengajar nyaris celaka,” kenangnya.

Anak-anak Desa Labuan Beropa Kecamatan Laonti Kabupaten Konawe Selatan saat hendak pulang usai menerima pelajaran di sekolah. (Istimewa)

Enggan Pindah Karena Terlanjur Cinta

Menurut Nasir, naik kapal ke Kendari, sudah menjadi hal yang rutin sekalipun harus tidur di kapal ikan.

“Kadang, kita pakai sarung turun dari kapal,” katanya.

Termasuk ia harus jalan kaki satu kilometer dari tempat tinggalnya ke sekolah.

Kesulitan akses darat hingga beberapa peristiwa yang mengancam nyawanya, tidak membuat Nasir berpikir untuk pindah dari kampung tersebut.

Ia mengaku, masyarakatnya begitu welcome ke orang baru dan sangat terbuka soal pendidikan.

Bahkan, semangat anak-anaknya untuk sekolah sangat tinggi. Kebanyakan, pelajar yang selesai penamatan di SMP, memilih melanjutkan sekolah di Kendari.

Sekolah yang menjadi langganan anak-anak Desa Labuan Beropa adalah SMA 3 Kendari, SMK 4 Kendari, SMA 8 Kendari, SMA 2 Kendari, SMK Pelayaran di Nambo dan SMA 5 Kendari.

“Di sana warganya motivasi sekolah sangat tinggi,” katanya.

“Saya belum berpikir untuk pindah. Saya ingin merawat semangat anak-anak di sana untuk terus sekolah hingga daerah itu terjamah infrastruktur memadai,” pungkasnya.

Biodata :

Nama : Nasir Madi SPd MPd

TTL : Lambubalano 27 Maret 1989

Pekerjaan : Guru SMPN Satap 12 Konawe Selatan

Anak ketiga bersaudara dari La Madi SPd, ibu Wa Ode Harsia

Alumni S1 Pendidikan Fisika FKIP UHO 2007

Alumni Jurusan Pendidikan IPA Kosentrasi Pendidikan Fisika Pascasarjana UHO 2012

Penulis : La Ode Pandi Sartiman

Facebook Comments
Like
Like Love Haha Wow Sad Angry
3
loading...