Ahmad Fuad Rahman, Putra Kendari yang Jadi Anggota DPRD Kota Malang

1619
Ahmad Fuad Rahman (Istimewa)

Kendari, Inilahsultra.com – Khusus warga Kota Kendari, barangkali banyak yang tak mengenal nama Ahmad Fuad Rahman. Namun, di perantauannya, di Kota Malang,  namanya cukup tenar hingga ia terpilih menjadi anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Malang.

Nama Fuad tercatat dalam salinan surat keputusan (SK) Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kota Malang sebagai anggota DPRD Kota Malang terpilih periode 2019-2024.

- Advertisement -

Pada Pemilu 2019 lalu, Fuad maju di Daerah Pemilihan (Dapil) Lowowkaru dari Partai Keadilan Sejahtera (PKS). Di dapilnya itu, ia meraih suara kedua terbanyak di partainya, 2.300 suara.

Di dapil ini, PKS meraih dua kursi bersaing dengan PDI Perjuangan yang juga menempatkan dua wakilnya di parlemen setempat.

                       

Fuad Rahman menjelaskan perjalanan karirnya kepada Inilahsultra.com melalui sambungan telepon seluler, Selasa 23 Juli 2019.

Saat dihubungi, Fuad mengaku sementara membaca buku parlemen sembari menuntaskan berkas administrasi, macam menyiapkan Laporan Harta Kekayaan Pejabat Negara (LHKPN) untuk diserahkan ke Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

Fuad menyebut, ia lahir di Nunukan Kalimantan Utara. Kebetulan, orang tuanya merupakan karyawan swasta di daerah itu.

Di Nunukan, ia sampai tamat sekolah dasar (SD) dan kemudian pindah kembali di Kendari. Namun, untuk melanjutkan studi tingkat SMP, ia memilih masuk pondok pesantren di Yogyakarta.

“Setelah tamat mondok, saya kembali di Kendari,” katanya.

Pada 2001, ia kemudian masuk di SMA Negeri 2 Kendari hingga tamat. Di Kendari, kediaman orang tuanya di Perumahan Dosen Blok G Nomor 4.

“Setelah tamat SMA 2003, saya lanjut kuliah di Jawa, di UIN Malang,” jelasnya.

Ia memilih kuliah di Jawa karena menurut orang tuanya, menempuh pendidikan di sana jauh lebih baik bila dibandingkan di Sultra saat itu.

Baca Juga :  Sosok Abdul Salam Sahadia, Politisi Muda Menatap Parlemen Provinsi Sultra

“Kalau di Kendari dulu banyak masalah. Sampai ada yang bawa-bawa busur. Jadi, saya memilih di Jawa saja,” katanya.

Nah, di perantauan ini lah kemudian ia menemukan menantang diri, menguji nyali sebagai anak rantau hingga ikut menemukan permaisurinya asli Jawa.

“Jadi, kami di sini orang perantauan disebut Persija—Persatuan Istri Jawa–,” katanya berkelakar.

Di Kendari, kata dia, sering pulang hanya sekadar melihat keluarga. Sebab, kedua orang tuanya sudah mangkat beberapa tahun silam.

“Di Kendari tinggal kakak yang ada. Dia dosen di UHO,” katanya sembari menyebut kakanya bernama Hermanto.

Pria kelahiran 13 Desember 1986 ini menyebut, tidak mudah untuk sukses di perantauan terlebih di jalur politik.

“Pekerjaan saya swasta di sini. Alhamdulillah, berkat kerja keras dan doa bisa terpilih menjadi anggota dewan di perantauan,” tuturnya.

Menurutnya, komitmen dan komunikasi yang dibangun intens menjadi modal utama yang dipegangnya selama bermasyarakat hingga ia diamanahkan menjadi wakil rakyat.

“Harus punya jiwa sosial dan mudah membaur. Kalau tidak begitu, mau jadi apa kita di perantauan ini,” imbuhnya.

“Intinya, harus saling kenal dan saling bantu,” tambahnya.

Sifatnya yang mudah berteman dan gampang berbaur dengan masyarakat ini lah yang mengantarkannya menjadi anggota DPRD Kota Malang.

Terhadap amanah ini, kata dia, akan dilaksanakan sebaik-baiknya dan memperjuangkan kepentingan masyarakat di dapilnya tanpa memandang latar belakang.

Penulis : La Ode Pandi Sartiman

Facebook Comments
Like
Like Love Haha Wow Sad Angry
2
loading...