Terungkap Benteng Kerajaan Muna Memiliki Panjang Delapan Kilometer

741
Hadi Wahyudi Kepala UPTD Museum dan Taman Budaya Pemkab Muna.

Raha, Inilahsultra.com – Lokasi keberadaan Kerajaan Muna lambat laun mulai dideteksi. Benteng seluas delapan kilometer yang belum lama ditemukan, menjadi bukti adanya Kerajaan Wuna di masa lampau.

Keberadaan benteng ini telah diverifikasi oleh Balai Pelestarian Cagar Budaya Makassar Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

- Advertisement -

Benteng yang cukup luas ini, turut melengkapi saksi sejarah lainnya keberadaan Kerajaan Muna berupa masjid tua, batu pelantikkan raja hingga kuburan tua para raja.

Kepala UPTD Museum dan Taman Budaya Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dikbud) Kabupaten Muna, Hadi Wahyudi yang ditemui di Bharugano Wuna (Rumah Adat), Jumat 2 Agustus 2019 mengaku, pihaknya belum lama menggelar seminar rekonstruksi sejarah Kerajaan Muna.

Dalam seminar itu, turut menghadirkan pemateri dengan disiplin ilmu arkeologi hingga ketua Lembaga Adat Muna La Ode Sirad Imbo (putra keenam La Ode Dhika, Raja Muna kedua dari urutan terakhir).

Menurut Hadi, seminar ini bertujuan untuk menyatukan beberapa versi tentang sejarah masa Kerajaan Muna.

Ia mengungkapkan, ketika arkeolog melakukan verifikasi di pusat Kerajaan Muna, benteng seluas delapan kilometer tidak diragukan lagi keberadaannya. Seluruh situs tersebut, telah didokumentasikan, termasuk penentuan titik koordinat.

“Benteng Kerajaan Muna sepanjang delapan kilometer berada di tebing-tebing yang tinggi dengan tebal hampir dua meter telah menjadi tanggung jawab dan pengawasan Balai Pelestarian Cagar Budaya Makassar dan telah masuk data base cagar budaya nasional,” jelasnya.

Beberapa masyarakat Muna yang peduli dengan keberadaan benteng itu pernah menawarkan untuk menyusun batu benteng yang berhamburan. Hanya saja, Balai Pelestarian Cagar Budaya Makassar melarangnya.

“Alasannya harus ada bimbingan dari ahli arkeologi. Pemda Muna tinggal memperhatikan aspek lain. Misal, membuka akses jalan menuju benteng,” katanya.

Baca Juga :  Ritual Haroa dan Berebut "Menculik" Modhi di Muna

Kerajaan Muna mencapai massa keemasan di zaman Lakilaponto memimpin sebagai Raja Muna ke VII. Ia menggantikan ayahandanya, Sugi Manuru.

Selama menjadi Raja Muna, Lakilaponto terkenal akan keberaniannya. Di masa pemerintahannya itu lah dibangun benteng yang mengelilingi Ibu Kota Kerajaan Muna untuk menghalau serangan musuh.

Kehadiran Syekh Saidi Rabba dalam menyebarkan syiar Islam mengubah cara pandang masyarakat Muna dalam beragama.

Tongkat yang biasa digunakan Saidi Rabba saat khutbah Jumat  dan hari lebaran kini masih tersimpan rapi di Masjid Kota Wuna.

“Saat itu bukan hanya perangkat kerajaan namun ada perangkat masjid, dalam perangkat kerajaan terdapat Kiino agama dan di bawah itu ada imamno wuna (Seorang Imam Muna). Kemudian, khatib ruduano (dua orang khatib), maupun ada moji popaano (empat orang moji). Kedelapan orang inilah masuk dalam pejabat tinggi kerajaan Muna yang aktivitasnya berada dalam kerajaan Muna hingga saat ini aktivitas masih jalan dengan melaksanakan salat Jumat, Idulfitri hingga Iduladha,” kata Hadi.

Terhadap pelestarian budaya Muna, Pemerintah Kabupaten di bawah kepemimpinan LM Rusman Emba dan Malik Ditu, membangun rumah adat yang di dalamnya mengoleksi barang antik yang tersisa di zaman kerajaan.

“Di rumah adat terdapat koleksi berapa foto para raja masa Hindia Belanda lengkap pakaian adat. Kemudian, replika kursi maupun tempat tidur raja, beberapa barang yang dipakai orang tua dulu seperti Rangi (tempat makanan), Balase (tas), Kompiu (tempat menyimpan barang) maupun tereka (tempat air),” pungkasnya.

Penulis : Iman Supa

Facebook Comments
Like
Like Love Haha Wow Sad Angry
1

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here