Bandara Sugi Manuru, Saksi Sejarah Penguasaan Jepang di Tanah Muna

854
Bandara Sugimanuru di Kabupaten Muna Barat

Laworo, Inilahsultra.com – Meski hanya 3,5 tahun menjajah Indonesia, Jepang turut menanamkan kekuasaannya di hampir seluruh Nusantara, termasuk di Pulau Muna Provinsi Sulawesi Tenggara.

Salah satu saksi sejarah berkuasannya Negeri Sakura itu di Muna adalah Bandara Sugi Manuru di Kecamatan Kusambi Kabupaten Muna Barat.

- Advertisement -

Oleh masyarakat, di sekitar bandara ini terdapat bunker yang sengaja dibangun untuk menyimpan alat perang milik Jepang sebelum akhirnya menyerah kepada sekutu.

Di Sulawesi Tenggara Jepang masuk pertama kali di Kendari pada tanggal 26 Januari 1942

                       

Tiga hari setelah Natal, 28 Desember 1941, pesawat udara Jepang sudah mengintai wilayah Tarakan. Pertempuran udara pun terjadi antara Belanda dan Jepang, tepat 11 Januari 1942 dan Tarakan jatuh ke tangan Jepang, sebagai era pendudukan Jepang di Indonesia dimulai.

Secara perlahan, kekuatan milter Jepang menyebar ke basis pertahanan Belanda baik di Jawa, Sumatera maupun Sulawesi.

“Di Sulawesi Tenggara Jepang masuk pertama kali di Kendari pada tanggal 26 Januari 1942 setelah menguasai Kendari militer Jepang juga ikut menguasai pulau pulau kecil yang ada di Jazirah Sulawesi Tenggara termasuk Pulau Muna,” kata Kepala Bidang SDA Dinas PU Mubar, Surachman kepada jurnalis Inilahsultra.com, Selasa 6 Agustus 2019.

Ia menuturkan, tak ada cacatan resmi mengenai tanggal pasti masuknya Jepang di tanah Muna. Namun saat itu, kata dia, awal masuknya Jepang di Muna disambut dengan penuh suka cita karena Jepang dianggap sebagai penyelamat yang akan membebaskan dari tirani penjajahan Belanda.

Berdasarkan keterangan beberapa tokoh masyarakat Muna yang ditemuinya, kata dia, masuknya Jepang di Muna tanpa adanya perlawanan berat dari Belanda, karena kekuatan Belanda di Muna saat itu sangat kecil dan terbatas.

Baca Juga :  Masuk Prioritas AMAN 2019, Asrama Mahasiswa Sultra di Makassar Akan Direhab

Berbagai hal dilakukan Jepang ketika berada di Muna. Mulai membentuk tentara kepanduan dan wajib militer kepada kaum pelajar dan generasi muda untuk persiapan membantu Jepang dalam perang Asia Timur Raya.

“Tetapi perlu diingat bahwa akibat dari pembentukan wajib militer (Heiho) menjadi bekal bagi bangsa dan daerah masing-masing dalam menghadapi Jepang,” ungkapnya.

Selain membentuk pasukan, Jepang juga membangun infrastruktur pertahanan militer baik darat maupun lapangan udara.

“Lapangan udara yang dibangun Jepang adalah Lapangan Udara di Kusambi Muna Barat yang kelak bernama Bandar Udara Sugi Manuru” jelasnya.

Menurut tutur lisan beberapa tokoh masyarakat, lapangan udara tersebut dibangun oleh Jepang dengan mempekerjakan warga lokal yang dinamakan sistem kerja paksa Romusa.

“Para pekerja diambil dari kampung-kampung yang ada di Muna,” imbuhnya.

Selama kerja paksa, banyak korban dari warga pribumi yang meninggal. Hanya saja, kuburnya tak jelas dimana rimbanya.

“Hanya beberapa saja yang berhasil selamat atas praktek kerja paksa tersebut,” tambahnya.

Di sekitar Bandara Sugi Manuru, menurut cerita lisan, masih dipercayai terdapat bunker peninggalan Jepang yang digunakan sebagai tempat berlindung dan tempat menyimpan peralatan perang.

Keyakinan masyarakat ini karena saat Jepang meninggalkan Muna, tak ada kendaraan militer yang dibawa serta. Sehingga diyakini berbagai peralatan militer tersebut disembunyikan pada tempat tertentu salah satunya di sekitar Bandar Udara Sugi Manuru saat ini.

Beberapa kali upaya untuk membuktikan keberadaan bunker-bunker peninggalan Jepang tersebut namun sampai saat ini hasilnya masih nihil.

“Kendati pun demikian, masyarakat Muna masih percaya bahwa Bandara Sugi Manuru adalah saksi bisu praktik penjajahan Jepang di Wite Barakati ini,” terangnya.

Sementara itu, saksi sejarah, La Lensi (80), juga membenarkan keterangan Surachman. Ia mengaku, tentara Jepang masuk di Muna sejak tahun 1944. Saat itu usianya masih 5 tahun.

Baca Juga :  Raih 11 Medali Emas, Butur Keluar Sebagai Juara Umum MTQ Sultra

“Saat itu saya masih 5 tahun. Saya melihat tentara Jepang berpakaian preman mengangkut bambu di kampung lama dan di bawa di Kamata-mata (sekitaran Bandar Udara Sugi Manuru),” kata La Lensi.

Bambu yang diangkut itu, kata dia, dijadikan markas dan tempat persembunyian tentara Jepang yang dibangun oleh masyarakat Muna yang dipekerjakan secara paksa.

“Mereka (tentara Jepang) angkat kaki dari Muna setelah Indonesia merdeka,” katanya.

Setelah pasukan militer Jepang meninggalkan Muna, tak ada satu pun peralatan milter yang dibawa. Baik mobil, tank dan senjata berat lainnya.

Ia menduga, bunker Jepang disembunyikan dan ditanam bawah tanah sekitaran Bandar Udara Sugi Manuru.

“Tempat persembunyiannya di Kamata-mata,” pungkasnya.

Penulis : Muh Nur Alim

Facebook Comments
Like
Like Love Haha Wow Sad Angry
1
loading...