Gandeng Basarnas dan UHO Kendari, Desa Dunggua Konawe Gelar Pelatihan Kebencanaan

Pose bersama usai pelatihan penguatan kapasitas kebencanaan yang digelar di Desa Dunggua. (Istimewa)

Kendari, Inilahsultra.com – Untuk mengurangi risiko bencana, Kelompok Siaga Bencana (KSB) Desa Dunggua, Kecamatan Amonggedo, Kabupaten Konawe, Sulawesi Tenggara (Sultra) menggelar pelatihan penguatan kapasitas kebencanaan.

Kegiatan ini diinisiasi oleh mahasiswa KKN Tematik Universitas Halu Oleo (UHO) yang bekerja sama dengan Pemerintah Desa Dunggua.

Pelatihan ini dibuka oleh Kepala Desa Dunggua Maliatin Deni, dihadiri 25 peserta terdiri dari aparat pemerintah desa, anggota KSB, tokoh masyarakat dan tokoh pemuda, di Aula Balai Desa Dunggua, Selasa 6 Agustus 2019.

-Advertisement-

Pelatihan kebencanaan ini menghadirkan pemateri dari Pusat Mitigasi Bencana (PMB) UHO Kendari Amadhan Takwir, Basarnas Kendari Haeruddin dan Muh Asep Wage Sumirto.

Kepala Desa Dunggua Maliatin Deni mengatakan, Desa Dunggua merupakan salah satu daerah rawan bencana banjir di Kabupaten Konawe. Banjir yang terjadi pada Juni 2019 lalu, sekitar 88 kepala keluarga (KK) menjadi korban becana itu.

Kemudian, sebanyak 358 jiwa mengungsi, 135 hektare areal sawah dan 45 hektare lahan pertanian terendam banjir. Dampak banjir ini diperkirakan menyebabkan kerugian warga mencapai Rp 95 juta.

“Kami berterima kasih kepada UHO khususnya kepada Rektor UHO Prof Muh Zamrun yang telah menginisasi KKN tematik bencana di desa kami, sehingga KSB Desa Dunggua dapat terbentuk. Kami mengharapkan terus ada pendampingan, pembinaan dan bantuan operasional dari berbagai lembaga yang berwenang sehingga KSB ini dapat bekerja maksimal”, harapnya.

Ketua Pusat Mitigasi Bencana (PMB) UHO Amadhan Takwir menyampaikan, pentingnya peran KSB dalam mengurangi risiko bencana skala desa. Pada umumnya, masyarakat bersifat pasif dalam konteks bencana karena statusnya sebagai korban.

Namun, melalui KSB ini, masyarakat dapat berperan aktif untuk terlibat dalam penanggulangan bencana di level desa.

“KSB diharapkan dapat menjadi ujung tombak pengurangan risiko bencana di desa, sehingga perlu dilakukan upaya pendampingan penguatan kapasitas kelompok,” jelas Amadhan Takwir dalam rilisnya, Kamis 8 Agustus 2019.

Sementara itu, Haerudin dari Basarnas Kendari menyampaikan, aksi tanggap darurat saat bencana dan simulasi penanganan korban sangatlah penting.

“Keterampilan dalam aksi tanggap darurat bagi KSB akan sangat membantu meminimalisir adanya korban. Misalnya, bagaimana secara tim dapat melakukan pertolongan secara cepat, melakukan koordinasi, dan mengorganisir logistik saat bencana,” jelasnya.

Kemudian, dosen pembimbing lapangan Sjamsu Alam Lawelle mengapresiasi terbentuknya KSB Desa Dunggua dan mengharapkan masyarakat dapat meningkatkan kapasitas kebencanaan sehingga risiko bisa diminimalisir.

Peran masyarakat di tingkat desa melalui KSB merupakan salah satu upaya dalam membentuk desa atau kelurahan tangguh bencana di Indonesia.

Hal tersebut sesuai dengan amanah Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana.

“Belajar dari kasus-kasus bencana banjir yang terjadi dalam beberapa tahun terakhir di Sultra, pemerintah wajib mendorong secara aktif upaya kesiapsiagaan terutama di level paling bawah, mengingat masyarakat adalah pihak pertama yang merasakan secara langsung dampak dari bencana tersebut,” pungkas Alam Lawelle.

Penulis : Haerun
Editor : La Ode Pandi Sartiman

Facebook Comments