Bank Indonesia Kaji Ancaman ‘Libra’, Mata Uang Digital yang Diluncurkan Facebook

63
Pelatihan Enumerator dan Jurnalis digelar BI Sultra di Makassar.

Kendari, Inilahsultra.com – Bank Indonesia (BI) tengah mengkaji ancaman kehadiran mata uang baru bernama “Libra”. Libra adalah mata uang kripto yang dirilis raksasa digital Facebook.

Hal itu diungkap perwakilan BI Sulawesi Tenggara (Sultra), Randy Chavendish saat menjadi pemateri pada kegiatan Pelatihan Enumerator dan Jurnalis di Makassar 13 Agustus 2019.

- Advertisement -

Berbeda dengan Bitcoin, kata Randy, Libra dibackup surat-surat berharga laiknya mata uang resmi yang dikeluarkan oleh bank sentral. Nilainya pun disebut relatif stabil.

“BI sedang menkaji bagaimana menghandle ini (Libra),” ucap Randy.

Kehadiran mata uang digital besutan Facebook dapat menjadi ancaman nasional jika tidak ada upaya antisipasi dini dari pemerintah. Pasalnya, Libra tidak hanya berpotensi menggeser posisi dan fungsi mata uang konvensional.

Namun lebih jauh, lanjut Randy, Libra pun bisa mengancam kedaulatan negara karena diproteksi menggeser posisi alat tukar konvensional ‘rupiah’.

“Kalau hilang kedaulatan terhadap mata uang kita maka ini berbahaya.
Bisa menggeser sistem pembayaran saat ini. Inilah kita harapkan akademisi turut membantu membackup kajian tentang mata uang Libra,” urai Randy.

Dikutip dari Kompas.com Perusahaan jejaring sosial milik Mark Zuckerberg menyatakan mulai merambah bisnis mata uang kripto dengan memperkenalkan “Libra”.

Pengguna layanan Facebook.Inc, termasuk WhatsApp, Instagram, dan Messenger, ditargetkan bisa bertransaksi dengan Libra mulai awal 2020 mendatang. Namun, belum jelas apakah ketersediaannya serempak di seluruh dunia atau bertahap di beberapa negara terlebih dahulu.

Libra bisa digunakan membeli barang atau mengirim duit ke sesama pengguna tanpa pungutan biaya. Mata uang kripto ini juga bisa ditukar ke mata uang asli secara online atau melalui toko-toko offline.

Pengguna kemudian bisa menyimpannya di dompet digital yang dibuat secara mandiri oleh Facebook bernama “Calibra”. Layanan ini bakal tersemat di WhatsApp, Messenger, dan Facebook.

Baca Juga :  BPK Beri Opini WTP ke Pemkab Muna

Soal privasi, tak perlu khawatir. Calibra tidak mencampurkan data personal di Facebook dengan transaksi Libra. Identitas pengguna disembunyikan, sehingga bisa bertransaksi dengan nama samaran dan bebas dari penargetan iklan Facebook.

Libra tidak akan sepenuhnya dikontrol Facebook sebagai kreator, melainkan diurus organisasi khusus bernama Libra Association. Di dalamnya ada perwakilan dari Visa, Uber, dan Andreessen Horowitz, yang masing-masing menginvestasikan setidaknya 10 juta dollar AS (Rp 142 miliar) untuk proyek ini.

Organisasi ini akan mempromosikan “Libra Blockchain” dan platform pengembang open-source dengan bahasa pemrograman bernama “Move”

Mereka juga akan mendaftarkan bisnis untuk menerima Libra sebagai alat transaksi dan bahkan memberikan diskon atau hadiah ke pelanggan.

Selain membahas ancaman serius mata uang Libra, pelatihan digelar BI Sultra dihadiri akademisi dan perwakilan jurnalis Se-Sultra turut membahas sejarah Bank Indonesia. Termasuk tugas dan wewenang BI selaku Bank Sentra dan otoritas monoter nasional.

Pelatihan berlangsung dua hari turut menggandeng Editor Tempo, Yandri Alvian. Pada sejumlah awak media, lulusan University of Canberra Australia itu berbagi tips bagaimana meramu berita termasuk rilis data rutin diterbitkan BI menjadi bacaan menarik dan memiliki nilai edukasi positif ke publik.

Penulis : Siti Marlina

Facebook Comments
Like
Like Love Haha Wow Sad Angry

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here