HMI “Dibantai”, Histeria Kemerdekaan di Baubau Ternodai

Dodi Hasri
Bacakan
Oleh
Dodi Hasri

74 Tahun yang lalu negeri kepulaun itu gaduh, terdengar pekikan suara. Yang menggemah, dari ujung Aceh hingga Papua. Bahkan melintasi teritorial benua-benua, dan samudra-samudra. Pekikan merdeka. Sebuah letupan kebebasan dari jajahan-jajahan oleh sang tiran. Belanda, Jepang, Inggris dan Portugis. Indonesia merdeka.

Perjuangan meraih kemerdekaan bukanlah jalan juang yang instan. Jalan juang kemerdekaan merupakan jalan panjang penuh instrik. Harta, air mata, darah dan nyawa, mengalir tumpah jadi saksi yang tertulis rapi dalam arsip sejarah bangsa, yang akan dikenang oleh generasi bangsa Indonesia sepanjang hayat. Gerakan-gerakan pemuda Indonesia waktu itu tampil sebagai ujung tombak perjuangan dalam merebut harkat, martabat dan harga diri bangsa Indonesia di panggung dunia.

Adalah gerakan pemuda Indonesia pada tahun 1908 yang melahirkan Budi utomo. Dari kilas balik lahirnya Budi Utomo lah, lalu memunculkan suatu sumpah sakti dikalangan pemuda kala itu yang sampai hari ini menjadi pelecut semangat kaum muda dikenal dengan “Sumpah Pemuda”. Sebagai turunan dari sumpah sakti oleh pemuda gemilang pada zaman Majapahit, Sumpah Palapa oleh Gadjah Mada.

Sebagai produk sebuah kesadaran kolektif, Sumpah Pemuda melintasi imajinasi zamannya. Ia tercetus 17 tahun sebelum Indonesia merdeka, ketika jarak waktu masih dijauhkan oleh jarak-ruang, jarak-psikologis, jarak-kesadaran, dan jarak-informasi. Belum ada jet pelintas batas ruang. Belum ada prosesor pelintas batas informasi berkecepatan giga-hertz. Belum ada semua hal seperti sekarang yang memungkinkan dilakukan pemendekan jarak-waktu.

Perjalanan merebut kemerdekaan Indonesia sebuah kesatuan yang padu oleh beberapa generasi. Tua, muda, pria dan wanita hingga anak-anak. Semua tampil terpanggil turut serta berjuang merebut kemerdekaan itu. Hingga sampai pada detik dimana teks proklamasi di bacakan oleh Sukarno dan Hatta.

Dalam teks Proklamasi terselip suatu kata akan harapan cita-cita yang mengamanatkan “pemindahan kekuasaan dalam tempoh yang sesingkat-singkatnya”, tampaknya kita cenderung melupakan pesan yang tersirat pada kata-kata “dan lain-lain”, yang sekarang ini tetap menjadi misteri dan belum kunjung tersentuh oleh kita semua.

Adalah Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) sebagai organisasi mahasiswa yang bergerak di luar wilayah kampus seperti terpanggil menuntaskan pesan yang tersirat dalam bunyi teks proklamasi “dan lain-lain” itu. Sebagai organisasi tertua HMI tampil sebagai obor juang bangsa dalam menuntaskan janji-janji kemerdekaan. Di tengah kesemerawutan perebutan kekuasaan oleh elit di panggung-panggung politik.

HMI hadir laksana suluh di bangsa ini. Banyak intelektual negeri ini lahir dari rahim HMI. Organisasi itu tidak hanya oganisasi biasa, ia turut mencerdaskan kehidupan berbangsa,  menjadi lokomotif penggerak kemajuan Indonesia di berbagai bidang. Lebih dari itu, HMI telah merubah wajah baru Indonesia menjadi lebih terhormat di panggung-panggung dunia internasional.

HMI juga tampil sebagai penyambung lidah rakyat, dalam memperjuangkan nasib masyarakat arus bawah. Seperti yang menjadi tujuan HMI itu sendiri “Terbinanya insan akademis, pencipta, pengabdi yang bernafaskan Islam dan bertanggungjawab atas terwujudnya masyarakat adil makmur yang diridhoi Allah SWT. Mahakarya kader organisasi ini terpampang disetiap sudut rak-rak perpustakaan di negeri ini, dari Aceh hingga semenanjung Papua.

Lalu apa yang salah dengan cara HMI Cabang Baubau ketika menyambut, merayakan hari kemerdekaan tahun ini, justru “dibantai” oleh oknum perangkat kerja Pemerintah Kota (Pemkot) Baubau?. Bukankah kita sedang merayakan hari kemerdekaan, sudah sewajarnya histeria perayaan itu di luapkan dengan ekspresi berbeda-beda oleh tiap orang.

Adalah Pemkot Baubau, yang brutal menyerang HMI Cabang Baubau. Perilaku biadab atas “pembantaian” yang dilakukan oleh aparat Pol PP setempat, sebuah sebuah tindakan yang tidak terpuji, tidak beradab, culas dan penuh kebiadaban.

Perilaku refresif ini perlu dikutuk dengan sekeras-kerasnya. Tindakan semena-mena Pemkot Baubau terhadap HMI menujukan sebuah kesombongan, jauh dari perikemanusian. Yang tidak seyogianya dilakukan oleh Pemkot Baubau.  Olehnya, sudah semestisnya tindakan biadab tersebut perlu diusut dan diproses sesuai hukum yang berlaku.

Dalam euforia bulan kemerdekaan ini, harusnya Pemkot Baubau menghadirkan rasa nyaman, kepada masyarakat. Sebagai wujud nyata bangsa yang merdeka, seperti euforia perayaan hari kemerdekaan di bulan ini.

Nyatanya justru sebaliknya, Pemkot Baubau justru seperti “penjajah” yang “membantai” HMI. Dalam perjalanan panjang HMI, yang menjadi musuh nyata HMI adalah PKI dan penjajah-penjajah asing. Hari ini Pemkot Baubau seperti berubah wujud sebagai “penjajah” di atas tanah yang merdeka. Pun, dalam histeria bulan kemerdekaan ini.

Penulis adalah Mantan Ketua HMI Komisariat FKIP Unidayan dan Tokoh Muda Buton Selatan.

Facebook Comments
Like
Like Love Haha Wow Sad Angry
3
-Advertisements-
loading...