Cerita Korban Kapal Terbakar : Zafaria dan Anaknya Diselamatkan Seutas Tali

Zafaria dan putranya saat ditemui di Puskesmas Soropia Kabupaten Konawe.

Kendari, Inilahsultra.com – Sekira pukul 23.30 WITa, Zafaria (43) tengah mendekap putranya, Nazir (2). Keduanya berbaring di kasur milik KM Izhar yang hendak mengatarkan mereka ke Desa Salabangka Kecamatan Bungku Selatan Kabupaten Morowali Provinsi Sulawesi Tengah.

Mata belum terpejam, penumpang dalam kapal mulai riuh dan panik. Kabar buruk datang dari penumpang lain, si jago merah telah melalap bagian mesin kapal itu.

Seketika itu, Zafaria menggendong anaknya menuju ke dek kapal berusaha menyelamatkan diri. Salah satu cara agar bisa selamat adalah melompat ke laut.

-Advertisement-

“Saya langsung lompat ke laut. Saya tidak pikirkan lagi barang. Saya hanya mau selamatkan anakku,” kata Zafaria saat ditemui di Puskesmas Soropia Kecamatan Konawe, Sabtu 17 Agustus 2019.

Saat ditemui, Zafaria baru saja menyusui putranya itu. Meski sudah diberi ASI, Nazir terlihat masih merengek. Mukanya terlihat pucat dan beringus.

Zafaria mengaku, suara teriakan meminta tolong para penumpang yang berusaha selamat dari maut, membuat suasana malam itu mencekam.

Situasi gelap, membuat penumpang tak saling melihat. Sebagian berusaha berenang menuju ke tepian dan mencoba meraih barang yang mengapung.

Beruntung, tali kapal yang putus akibat dilalap api, tersentuh tangan Zafaria. Tali ini lah penyelamat sementara nyawa dia dan anaknya.

“Kaki saya goyangkan, satu tangan saya gendong anakku dan satunya pegang tali,” jelasnya.

Saat berusaha berenang, bodi kapal menimpa kepalanya. Namun, rasa sakit itu ia tahan. Di pikirannya, bagaimana bisa menyelamatkan diri.

Kurang lebih satu jam ia berenang sambil menggendong putranya hingga akhirnya ditolong oleh warga.

“Kalau tidak ada tali itu, mati kita. Beruntung, tidak lama kemudian, ada warga yang datang menolong,” jelas Zafaria dengan suara bergetar.

Setelah tiba di darat, Nazir sempat muntah-muntah karena banyak meminum air laut.

“Sekarang Alhamdulillah sudah baikkan,” imbuhnya.

Ia mengaku, sebelum berangkat, kapal tersebut sempat rusak dan diperbaiki. Saat membuang sauh tanda akan berangkat, penumpang tampak memadati kapal itu hingga sesak. Tak hanya manusia, kendaraan roda dua hingga barang-barang turut dimuat.

“Muatannya ful, dari bawah sampai di atas. Ada tabung gas, ada semen dan banyak barang-barang di atas,” bebernya.

Ia menuturkan, masih trauma dengan peristiwa ini. Ia memilih kembali ke kampung halamannya di Baubau dengan menumpang kapal cepat. Kebetulan, pihak Syahbandar memfasilitasi korban yang hendak pulang ke Baubau atau ke Sulawesi Tengah.

“Saya mau ke Baubau dulu. Saya masih trauma ke Bungku,” tuturnya.

Penulis : La Ode Pandi Sartiman

Facebook Comments