Fakta Terbakarnya KM Izhar : Over Kapasitas Tapi Dibiarkan Jalan

132
 

Kendari, Inilahsultra.com – Terbakarnya KM Izhar hingga merenggut tujuh nyawa dan enam orang dinyatakan hilang diduga karena kelalaian petugas Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Kendari dan nakhoda kapal.

Sekjen Geo Maritim Jain Umar menyebut, sangat muskil bila kapal itu jalan sendiri tanpa pengawasan dari petugas syahbandar.

- Advertisement -

“Di sini kami duga ada kelalaian. Kapal yang katanya over kapasitas dari seharusnya dibiarkan jalan,” kata Jain, Minggu 18 Agustus 2019.

Kelebihan muatan dari kapal tersebut tak ditampik oleh Kepala KSOP Kendari Benyamin Ginting.

Berdasarkan sertifikat keselamatan yang dikeluarkan syahbandar, jumlah penumpang KM Izhar harusnya hanya 33 orang.

“Jadi, itu manisfestnya. Tidak boleh lebih dari itu,” ujarnya, Sabtu 17 Agustus 2019.

Namun fakta di lapangan, korban yang berhasil dievakuasi dua kali lipat dari jumlah manifest yang dibolehkan.

Data KSOP, ada 69 orang yang dievakuasi, tujuh orang diantaranya meninggal dunia.

“Ini lah akan evaluasi kapan naik ini penumpang setelah diberikan SPB (surat pemberitahuan berlayar),” katanya.

Ia menyebut, informasi terbakarnya kapal diperoleh sekira pukul 01.00 WITa. Kabar ini diperoleh dari petugas jaga pos KSOP.

Setelah kabar itu, ia mengerahkan KN 370 dan KN 5014 untuk melakukan evakuasi korban.

Di lokasi, proses evakuasi sudah dilakukan tim Basarnas Kendari, polisi dari Polsek Soropia dan masyarakat nelayan di sekitar Perairan Desa Tapulaga Kecamatan Soropia Kabupaten Konawe.

“Malam itu berhasil dievakuasi 69 orang terbagi di tiga tempat. Sebanyak 27 orang di kantor Desa Bajo Indah, 36 di Puskesmas Soropia dan lima nakhoda di Polsek Soropia,” jelasnya.

Selain melanggar jumlah manifest, KM Irzha juga dianggap mencuri waktu keberangkatan dari yang seharusnya.

Lazimnya, kapal ini harusnya berangkat 05.00 WITa, Sabtu 17 Agustus 2019. Namun fakta lapangan, kapal ini mulai bertolak dari dermaga di Kendari sekira pukul 23.00 WITa (infromasi korban selamat).

“Kenapa lebih awal berangkatnya, akan kami tanya nakhoda. Selain itu, kapan ini penumpang naik,” jelasnya.

Ia menjelaskan, surat pemberitahuan berlayar (SPB) diajukan oleh nakhoda pada sore, Jumat 16 Agustus 2019. Atas permohonan itu, KSOP mengeluarkan SPB.

Benyamin berdalih, SPB ini berlaku 24 jam setelah dikeluarkan. Artinya, kapal tinggal memilih waktu kapan berangkat.

Namun, bila berangkat di luar jadwal yang ditentukan, maka harus memberitahukan kepada petugas KSOP untuk dilakukan pengecekkan.

Hal ini lah yang kemudian tidak dilakukan oleh nakhoda.

“Harusnya terkonfirmasi ulang kalau di luar jadwal supaya ada pengecekan lebih lanjut di petugas lapangan,” bebernya.

Informasi lain yang diperoleh di lapangan, sebelum berangkat, KM Izhar sempat rusak dan diperbaiki di pelabuhan.

Hanya saja, KSOP tidak mengetahui itu. Ia berdalih, ketika nakhoda mengajukan permohonan berlayar, secara tidak langsung sudah memenuhi syarat untuk berlayar.

“Ketika memberikan SPB berarti ada pengawas (dari KSOP). Pada saat SPB diserahkan, maka sudah siap berangkat,” ujarnya.

Ia mengaku, ke depan, akan diperketat pemberian SPB kepada kapal pengangkut penumpang untuk jenis kapal kayu.

“Persoalannya sekarang, alat angkut di sana terbatas, kalau kita keras rakyat marah, kami naik apa. Belum lagi pemda, jangan menghambat. Tapi kita pikir keselamatan dulu,” jelasnya.

Ia menegaskan, kapal jenis kayu tidak boleh berlayar malam. Sebab, banyak risiko yang bisa menyebabkan terjadinya kecelakaan laut.

“Bisa mengantuk dan kurang kontrol. Kapal kadang bicara untung dan rugi. Kalau kita tegas, dan kapal tidak berangkat, ribut rakyat, kita simalakama juga,” tuturnya.

Penulis : La Ode Pandi Sartiman

Like
Like Love Haha Wow Sad Angry
Komentar
loading...