
Pasarwajo, Inilahsulta.com – Festival Pesona Budaya Tua Buton ke 7 tahun 2019 telah usai dilaksanakan. Namun acara itu dinilai kurang mampu menyelesaikan persoalan daerah. Salah satunya adalah peningkatan kesejahteraan masyarakat.
Salah seorang tokoh pemuda Muhtar menilai, festival yang diselenggarakan tiap tahun itu sudah bagus. Namun belum menyentuh harapan masyarakat dan daerah ini.
Terutama, kata dia, harapan masyarakat untuk mendapatkan kesejahteraan.
“Awalnya masyarakat mengira, dengan adaya festival budaya tua seperti ini, menjadi perangsang untuk peningkatan pendapatan masyarakat dan daerah, namun sangat jauh dari harapan. Setelah kita melihat beberapa kali pelaksanaan kegiatan di Takawa ini, bukan pendapatan meningkat,” jelasnya.
Kata dia, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Buton justru mengeluarkan anggaran hanya untuk melayani beberapa wisatawan asing yang datang. Padahal seharusnya turis yang mengeluarkan biaya untuk daerah dan masyarakat.
“Turis yang datang rata-rata orang kaya yang mempunyai kemampuan, seharusnya mereka yang mengeluarkan biaya,” terangnya.
Kegiatan rutin yang dilaksanakan Pemkab Buton ini, kata Muhtar, beda dengan apa yang dilakukan daerah-daerah lain seperti, Wakatobi, Raja Ampat, dan Nusa Tenggara Timur (Labuan Bajo) di Kupang. Sestinasi wisata Pulau Komodo di NTT mampu mendongkrak pendapatan daerah hingga mencapai Rp 27 miliar.
“Pertanyaanya kalau kita sudah berapa,” tanyanya.
Bukan hanya itu, mahasiswa Fakultas Hukum UNISMU Buton ini menilai, pemerintah daerah sepenuhnya belum berpihak pada kesejahteraan pembangunan masyarakat Buton. Selama ini pemerintah daerah juga belum satupun membangun lapangan pekerjaan bagi masyarakat Buton.
Tidak sampai disitu, lanjut dia, pemerintah daerah juga belum menunjukan kemampuannya untuk mensejahterakan keluarga miskin. Pemerintah daerah terkesan acuh dengan segala keresahan yang dirasakan kelompok masyarakat miskin.
“Pemerintah justru lebih mementingkan kegiatan yang menghabiskan anggaran miliaran rupiah, yang tidak berfaedah. Festival Budaya Tua ini bukanlah satu-satunya jawaban atas keresahan masyarakat miskin,” tuturnya.
Reporter: Wa Ode Yeni Wahdania




